Sekimatsu Occult Gakuin

Sekimatsu Occult Gakuin, atau Occult Academy, merupakan seri ketiga (kalo ga salah) dari proyek ‘anime-no-chikara’ milik TV Tokyo.

Berbeda dari Senkou no Night Raid yang menjadi pendahulunya (yang penerjemahannya menjadi tantangan tersendiri di kalangan fansubber, sampai-sampai versi fansub-nya di Internet baru tuntas sekian bulan setelah serinya tamat di Jepang), konsep seri ini agak sulit dijelaskan.

Tema ‘occult’ yang diangkatnya mungkin terdengar agak menakutkan. Tapi sesudah melihat sendiri, anime ini lumayan jauh dari kesan menakutkan. Masih ada beberapa bagian yang bikin merinding. Tapi anime ini punya lebih banyak elemen drama keluarga daripada horor dan aksi—ditambah sedikit bumbu komedi. Pas lagi ada adegan aksi atau horor, seri ini emang lumayan seru kok. Cuma jadinya enggak seberat di sisi occult kayak yang aku bayangkan.

Alur utama ceritanya sebenarnya tak menarik-menarik amat. Sangat sederhana, bahkan agak gampang tertebak. Tapi agak sulit untuk enggak merasa tertarik ama karakter-karakternya.

Program ini fiksi…

Berlatar di pertengahan tahun 1999, seorang gadis remaja bernama Kumashiro Maya kembali ke kampung halamannya di Musashiro begitu mendengar kabar kematian ayahnya yang begitu mendadak.

Ayah Maya, Kumashiro Junichiro, adalah seseorang yang mendalami segala yang berhubungan dengan hal-hal gaib (occult). Sampai-sampai beliau menjadi kepala dari sekolah yang didirikannya sendiri, Perguruan Waldstein, yang di samping mengajarkan kurikulum ‘standar,’ juga mengajarkan kurikulum tambahan untuk mempelajari segala hal berbau occult. Karena keunikannya tersebut, Akademi Waldstein di kalangan penduduk sekitar dikenal juga sebagai Akademi Occult.

Hubungan Maya dan ayahnya (ibu Maya sudah lama meninggal) kurang begitu harmonis akibat kegilaan ayahnya terhadap occult ini. Sampai-sampai Maya, yang pada waktu kecil begitu menggemari segala urusan occult, belakangan malah berbalik jadi membencinya.

Kepulangan Maya dan penunjukannya sebagai kepala sekolah baru(!) dari Waldstein mendapat tentangan dari sang wakil kepala sekolah (Kawashima Chihiro). Maya juga dengan segera menyadari adanya sejumlah hal mencurigakan di balik insiden kematian ayahnya tersebut. Belakangan menyadari bahwa ayahnya mungkin telah dibunuh, Maya juga mengetahui bahwa mendiang ayahnya tengah berusaha menguak keberadaan sebuah benda yang disebut ‘Kunci Nostradamus.’ Menurut ramalan kuno, apabila tidak dihancurkan segera, kunci tersebut akan memicu kehancuran dunia(!?) pada tanggal 21 Juli 1999. Dan lokasi di mana semua kehancuran itu akan bermula tidak lain adalah di Akademi Waldstein sendiri.

Maya, yang semula mengganggap semua ini omong kosong, mulai berubah pikiran saat ia sendiri pada malam harinya nyaris terbunuh oleh seekor monster. Berkat mantera perlindungan yang terkandung dalam buku notes peninggalan ayahnya, Maya akhirnya selamat, dan memutuskan untuk menguak kebenaran tentang apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Kebenaran tentang ancaman kehancuran dunia ini semakin diperkuat saat Maya, dengan ternganga, menyaksikan sendiri munculnya Uchida Fumiaki—seorang agen penjelajah waktu yang diutus dari masa depan untuk mencegah bencana ini—dari sebuah portal cahaya di langit.

…segala hal terkait roh halus, alien, dan UMA,  yang ditampilkan dalam acara ini, sama sekali tidak nyata…

Uchida Fumiaki ternyata adalah wujud dewasa dari Bunmei-kun, seorang bocah selebritis yang tengah tenar di tahun 1999 berkat kemampuannya membengkokkan sendok dengan kekuatan telekinetis. Bunmei dewasa ini menyatakan bahwa pada zaman dari mana ia berasal, tahun 2012, Bumi telah berada di ambang kehancuran akibat serbuan alien. Lalu dirinya adalah agen keenam yang diutus ke masa lalu, setelah kelima agen pendahulunya yang diutus satu per satu  tewas secara mengenaskan.

Ia menjelaskan bahwa Kunci Nostradamus memang benar tersembunyi di suatu tempat di Waldstein. Lalu dengan menggunakan kamera ponsel yang dibawanya dari masa depan, ia akan mampu mengidentifikasinya dengan membandingkan benda tersebut dengan foto wujudnya apabila dihancurkan di tahun 2012 nanti. Ponsel tersebut juga menjadi media komunikasi satu-satunya yang ia miliki dengan orang-orang masa depan yang telah mengirimnya, yang sampai akhir cerita, digambarkan sebagai semacam organisasi bawah tanah rahasia yang misterius.

Maya dengan enggan akhirnya mempercayai apa yang Bunmei katakan. Tapi kesepahaman di antara mereka tidak tercapai secara mulus—mengingat Bunmei dewasa ternyata telah kehilangan kekuatan telekinetisnya. Lalu sebenarnya ia bisa sampai diutus ke masa lalu juga adalah karena kesalahpahaman dari orang-orang misterius yang mengutusnya (kelima agen yang diutus sebelumnya sama-sama berbekal kemampuan supernatural tertentu untuk melindungi diri, sementara Bunmei akhirnya hanya berbekal kemampuan membual dan kenekatannya).

Untuk mempermudah tugas Bunmei sekaligus agar bisa mengawasinya, Maya kemudian mengangkat Bunmei sebagai guru (dengan nama samaran) di Waldstein. Lalu ia sendiri kembali tinggal di rumahnya yang lama dan menjadi murid SMA di Waldstein pula.

Bersama Bunmei dan teman-temannya yang lain, Maya selanjutnya terlibat dengan beragam hal aneh yang berlangsung di Waldstein—mulai dari penampakan UMA, UFO, dan sebagainya—untuk menyingkap kebenaran dari semua misteri ini sekaligus menyelamatkan dunia.

…kecuali jika kau mempercayainya.

Occult Academy memiliki titik lemah terbesar pada karakterisasinya. Karakter-karakternya unik dan menarik. Tapi mereka tak berkembang. Baik Maya maupun Bunmei memang mendapatkan porsi pengembangan yang pas—dengan Maya berusaha membereskan perasaan yang ia miliki terhadap mendiang ayahnya, sedangkan Bunmei menyikapi banyak hal berkenaan kembalinya dirinya ke masa lalu.  Namun para tokoh lain di sekeliling mereka sampai akhir memiliki kesan kalau mereka cuma ‘ada karena ada.’

Menjadi bagian dari geng penyelidikan Maya adalah Ami, sahabat masa kecilnya yang tomboi; Kozue, teman Ami yang berminat besar terhadap occult tapi terlalu ceroboh unuk menghadapinya; Smile, seorang cowok mekanik yang ditugaskan menangani masalah pertukangan di Waldstein, yang ke mana-mana selalu membawa kunci inggris raksasa; lalu JK, seorang murid (pindahan?) berbadan besar dengan rambut dicat merah yang mendalami ilmu dowsing.

Beberapa tokoh lain yang bersifat recurring meliputi Papa Ami, yang merasa bertanggung jawab untuk mengawasi Maya sesudah kedua orangtua gadis itu tiada; sang ibu wakil kepala sekolah dan pengawalnya(!) yang misterius; serta Mikaze, gadis cantik pengelola kedai makan yang kemudian disukai Bunmei.

Semua tokoh ini terkait dalam jalinan situasi yang sekilas-kelihatan-wajar-tapi-sama-sekali-enggak, yang di sisi lain, menjadikan seri ini kuat dengan segala ‘kenyentrikannya.’ Interaksi di antara para tokoh beneran menjadi suguhan utama seri ini. Jadi asalkan kau bisa menikmati itu, seri ini sudah cukup layak untuk ditonton.

Asal kamu bisa mengikuti setiap perkembangan cerita yang terjadi—termasuk hal-hal yang pada awalnya terkesan remeh—Occult Academy menjadi tayangan yang lumayan menarik kok. Tamatnya pada episode 13 di luar dugaan memuaskan. Semua teka-teki seri ini pada akhirnya terjawab, termasuk soal perkembangan-perkembangan kejadian aneh yang berlangsung pada episode-episode sebelumnya.

Lalu aku emang sempet bilang kalau hasil akhir cerita ini gampang ketebak. Tapi perkembangan ceritanya itu! Apa yang berlangsung sebelum titik akhir itu tetap bisa ngebuat kita jadi “Haah?” karena saking anehnya dan tiba-tiba, tapi ajaibnya, tetap ‘sejalan’ dengan apa-apa yang telah terjadi sebelumnya.

Occult Academy jelas bukan sesuatu yang bakal disukai semua orang. Tapi sebagai suatu tontonan alternatif, seri ini menjadi sesuatu yang lumayan bagus.

(Aku sebenernya masih punya beberapa kritikan lain, tapi aku enggak berada dalam posisi yang layak untuk mengungkapkannya)

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: A-


About this entry