Bungaku Shoujo (movie)

Melanjutkan pembahasan seri novel yang sebelumnya pernah kubuat, sekarang waktunya kubahas soal movie-nya yang sudah keluar beberapa lama ini.

Sekali lagi, film layar lebar Bungaku Shoujo ini merupakan adaptasi anime dari seri novelet ternama karya Mizuki Nomura, yang secara agak mengejutkan dibuat oleh studio animasi Production I.G.—yang setahuku telah menyandang reputasi ‘lumayan’ berkat detil-detil latar dalam karya-karya mereka yang kebanyakan bernuansa serius. Movie ini kalau tak salah diiringi oleh tiga buah OVA yang dikisahkan dari sudut pandang sejumlah tokoh berbeda, yang menjadikannya semacam gaiden (cerita sampingan) bagi cerita utama.

Under the magnolia tree…

Inti cerita Bungaku Shoujo adalah seputar kehidupan seorang remaja lelaki bernama Inoue Konoha, yang sebenarnya merupakan identitas asli dari novelis remaja misterius terkenal (yang saat itu masih SMP) Inoue Miu. Sesudah menelurkan karya pertamanya yang kemudian menjadi legenda, ‘Seperti Langit,’ pada kompetisi penulisan novel bagi pengarang pendatang baru, Inoue Miu menghilang secara mendadak secepat kemunculannya. Hal ini dikarenakan sebuah peristiwa menyakitkan yang terjadi sebagai dampak penerbitan novelnya itu, yang akhirnya menjadikan Konoha trauma menulis.

Namun semua itu berubah saat Konoha secara kebetulan(?) berjumpa dengan seorang gadis bernama Amano Touko di bawah pohon magnolia sekolah. Touko ternyata merupakan kakak kelas Konoha, yang menjadi ketua sekaligus anggota satu-satunya dari Klub Sastra. Touko rupanya adalah seorang gadis aneh yang indera pengecapnya hanya bisa ‘merasakan’ emosi yang tertuang dalam cerita berbentuk tulisan. Sehingga pada saat Konoha memergoki Touko dengan bahagianya melahap secuil halaman kertas dari novel yang tengah ia baca, dengan dalih untuk mengawasinya agar tak membuka rahasia, Touko kemudian menyeret Konoha untuk menjadi anggota Klub Sastra juga.

Semenjak saat itu, hampir setiap hari sepulang sekolah, Konoha menuliskan cerita-cerita pendek yang kemudian menjadi cemilan harian (dalam arti sesungguhnya) bagi Touko. Dari sana hubungan di antara keduanya mulai berkembang, sampai ke taraf ketika rahasia masa lalu Konoha tersingkap dan alasan mengapa ia sampai sempat berhenti menulis terangkat ke permukaan.

Semua itu ternyata berhubungan dengan sebuah insiden yang menimpa teman masa kecilnya, Asakura Miu, yang merupakan salah satu orang yang berpengaruh besar terhadap novel yang ia buat. Film ini menyoroti soal bagaimana Konoha dengan dukungan Touko berhadapan dengan masa lalunya, serta menemukan kembali tekadnya untuk menulis novel kembali.

Turut berperan dalam cerita dalah dua orang lain yang (dalam film ini?) tahu persis soal apa yang terjadi di masa lalu Konoha: sahabat laki-lakinya, Akutagawa Kazushi; serta gadis teman sekelas yang diam-diam mencintainya, Kotobuki Nanase. Sepanjang cerita, seperti halnya dalam seri novelnya, ada referensi terhadap berbagai karya sastra Jepang yang terkemuka, dalam hal ini karya-karya Miyazawa Kenji yang ternyata menjadi semacam cerminan dari apa-apa yang dilalui Konoha.

Resensi

Sejujurnya, ada lumayan banyak hal yang membuatku kecewa saat menonton film ini. Bukan karena kualitasnya jelek. Tapi karena penggambaran yang diberikan di dalamnya kurang sesuai dengan apa yang kubayangkan sewaktu membaca versi novel. Aku membayangkan Touko-senpai sebagai seseorang yang bersifat sedikit lebih dewasa dan otoriter. Miu kubayangkan memiliki aura lebih magis. Sedangkan Nanase dalam film ini sama sekali tidak bersikap seperti seorang tsundere.

Sewaktu aku pertama membaca terjemahan Bungaku Shoujo bikinan fans di Internet, aku langsung jatuh cinta pada ceritanya, sekalipun memang terdapat kekurangan-kekurangannya dari segi alur. Sehingga aku—yang membayangkan serangkaian film layar lebar—tentu saja dibuat kaget saat keseluruhan jalan cerita yang dipaparkan novel-novelnya ternyata hanya ‘dipadatkan’ dalam tayangan yang berdurasi tak sampai dua jam.

Tapi meski dalam film ini ada sejumlah detil yang terkesan janggal dan dibiarkan tak terjelaskan (seperti soal peranan tokoh Takeda Chia), apa yang hendak disampaikan kurasa bisa tersampaikan secara utuh. Meski mungkin dosisnya agak berlebihan, adegan-adegan drama yang menjadi inti cerita Bungaku Shoujo tersampaikan secara kuat. Agak bernuansa sinetron sih. Tapi tidak sampai seberlebihan dan se-tak masuk akal itu.Walau sempat sebal pada beberapa bagian, harus kuakui aku lumayan puas sama hasil akhirnya.

Kelebihan lain yang film ini miliki adalah karena ia memiliki porsi daya tarik yang sama baik bagi mereka yang pernah membaca seri novelnya maupun yang belum. Mereka yang belum membaca bisa mendapat intisari seri novel ini secara penuh. Sedangkan mereka yang sudah membaca memiliki pemahaman lebih akan detil-detil cerita yang belum jelas.

Secara keseluruhan, memang jadinya agak tak sesuai harapanku. Tapi sejak awal ada banyak aspek pada Bungaku Shoujo yang mengistimewakannya dibandingkan seri-seri lain saat ini. Hal tersebut saja sudah cukup untuk membuat film ini layak ditonton.

Dan ya, sebelum aku lupa, ini adalah sebuah tontonan drama murni yang mengetengahkan soal perasaan dan persoalan hidup. Jadi kalau kau bukan orang yang memiliki rasa sentimentil yang cukup, anime ini takkan kusarankan untuk ditonton.

Penilaian

Konsep: A+; Visual: A; Audio: B; Eksekusi: X; Perkembangan: A-; Kepuasan Akhir: A-

*Nilai X berarti sangat bagus di beberapa bagian tapi sangat jelek di beberapa bagian lain.


About this entry