Durarara!! (end)

Adaptasi anime Durarara!! (atau dikenal juga sebagai Dulalala!! atau bahkan DRRR!!) berakhir masa tayangnya di episode 24. Anime ini  sepenuhnya mengukuhkan diri sebagai sebuah cerita sederhana tentang kehidupan dan persahabatan.

Di luar dugaan, anime ini tak beranjak keluar dari lingkaran drama. Padahal pada banyak adegan, Durarara!! berpotensi menjadi sesuatu yang gelap, suram, psychotic, dan penuh aksi.  Tapi identitasnya sebagai drama kehidupan sama sekali tak hilang. Sayang sekali di sisi lain, nuansa ‘komedi kerasnya’ tak sekuat yang kuharapkan.

Aku jadi penasaran novel aslinya (yang dikarang Ryohgo Narita) sebenarnya sebagus apa. Novelnya kayaknya memiliki nuansa ‘ketidakpastian’ yang jauh lebih kuat dibandingin manga ataupun anime-nya. Dugaanku ini juga telah diperkuat oleh pendapat beberapa orang lain.

Maksudnya, salah satu daya tarik terbesar novelnya adalah bahwa dengan membacanya, kita dibuat sama sekali enggak bisa berhenti mikirin  tentang worst case scenario yang bakal terjadi. Memang pada akhirnya worst case scenario itu sejauh ini tak pernah sampai benar-benar terjadi. Tapi di novel, kita dibikin supaya terus memikirkannya. Sehingga kita jadinya terkejut waktu semuanya ternyata berakhir bahagia!

Akhir bahagia di seri anime ini memang sama sekali tak terkesan dibuat-buat sih. Bahkan pemaparan akhir bahagia ini bisa dibilang lumayan realistis. Hanya saja, yah, jadinya terasa ada efek anti-klimaks gitu.

Itupun dengan menyisakan sejumlah teka-teki yang berpotensi untuk dibahas dalam sekuel.

Mengikuti Durarara!! itu pengalaman yang aneh. Tapi seperti Baccano!!, karya Narita-sensei yang mendahuluinya, pengalaman itu tanpa bisa disangkal tetap agak sulit untuk dilupakan.

“Aku cinta, cinta, cinta, cinta, padamu Shizuo!”

Paruh kedua Durarara!! mengalihkan fokus dari pencarian kepala sang dullahan manis, Celty Sturluson, ke masalah lain yang timbul akibat implikasi keberadaannya. Enam bulan setelah ‘pertemuan besar’ pertama geng misterius Dollars, gejolak kembali melanda wilayah Ikebukuro akibat munculnya katana keramat pencari cinta, Saika, yang ternyata tak lain merupakan senjata yang digunakan oleh sang Slasher pada insiden-insiden enam bulan lalu.

Tak ada yang menyadari bahwa segala kehebohan yang Saika timbulkan dipicu tak lain oleh sang informan brengsek, Orihara Izaya, untuk memanas-manasi situasi antara Dollars dan geng Syal Kuning dan menciptakan bentrokan di antara mereka.

Inilah masalah yang kemudian mengikat ketiga tokoh utama: Ryuugamine Mikado, Sonohara Anri, dan Kida Masaomi dalam suatu konflik pelik yang menguji persahabatan mereka.  Mikado yang tak lain adalah pendiri Dollars mendapat tekanan saat anggota-anggotanya mulai diserang. Masaomi juga mendapat tekanan karena ia diminta kembali sebagai pemimpin geng Syal Kuning yang sebelumnya sempat mundur sesudah pacarnya dipatahkan kedua kakinya dalam bentrokan antar geng. Sedangkan Anri mulai mempertanyakan makna keberadaan dua anak lelaki yang selalu menemaninya ini, tatkala ia menyadari bahwa ‘anak-anak’-nyalah yang menjadi penyebab dari semua masalah yang terjadi.

Saika yang dipakai sang Slasher ternyata memiliki kemampuan aneh untuk beranak-pinak. Dan pemilik Saika yang asli, yang menciptakan penderitaan bagi pemiliknya sendiri, tak lain adalah Anri sendiri, yang belakangan menyadari bahwa dirinya masih mungkin bisa mencintai sekalipun seluruh anggota keluarganya kini telah tiada.

Tentunya, para penghuni Ikebukuro lainnya ikut terseret ke dalam semua masalah yang berlangsung.

“Kau lapar? Lapar itu bikin kau marah. Berkelahi itu juga tidak baik. Lebih baik kau makan sushi!” (dengan aksen Rusia)

Perkembangan ceritanya cukup lambat, terlebih bila mengingat kita bisa membayangkan bahwa bentrokan besar itu pasti akan terjadi. Tapi pemaparan detilnya dan narasinya lumayan top. Apalagi bersama setiap narasi, kita juga mendapatkan pemahaman lebih tentang  sifat tokoh yang sedang berperan sebagai narator. Bersama setiap episode, kita juga semakin menyelami kehidupan macam apa yang para karakternya jalani. Terutama tentang Masaomi dan Anri, mengingat kecilnya peranan mereka pada paruh sebelumnya.

Cuma sayangnya, masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab di akhir seri. Seperti asal-usul si pedagang Sushi Rusia Simon Brezhnev. Atau tentang kelanjutan teka-teki tentang kepala Celty yang dibawa oleh Kishitani Shingen, dan sebagainya. Kita merasa, ada karakter-karakter yang sudah keren-keren diperkenalkan yang masih belum berperan. Sehingga penyelaman kehidupan ini terasa menggantung, dan rasa menggantung itulah yang menjadi alasan mengapa bagian akhir seri ini masih terasa kurang memuaskan.

Perasaan kayak, ‘ini pasti masih ada lanjutannya!’ gitu. Dan memang sih seri pertama ini baru mencakup 3 dari 7 buah buku.

Tapi akhir seri ini cukup bagus kok, sekalipun bersifat antiklimaks dibandingkan bagian-bagian awalnya yang penuh suspens. Masalah-masalah para karakter sentral terselesaikan. Ada sejumlah perkembangan tak disangka yang tetap menarik. Lalu pesan ‘kehidupan terus berlanjut’ yang seri ini tunjukkan merupakan akhir yang pantas untuk seri ini.

Yea, mari kita tunggu season keduanya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Eksekusi: B+; Pengembangan: B; Kepuasan Akhir: B+


About this entry