B Gata H Kei

Aku enggak yakin gimana aku sanggup melakukannya. Tapi belum lama ini, aku menonton seri anime B Gata H Kei sampai tamat.

Seperti yang pernah kusebutkan sebelumnya, anime dengan durasi 12 episode yang judulnya dalam bahasa Inggris kurang lebih berarti ‘(blood) type B, style H‘, atau beberapa kali disengaja ditulis ‘B-cupped slut’ ini (jangan tanya ke aku apa artinya!) bercerita tentang upaya-upaya seorang cewek cantik populer bernama Yamada (yang di balik pesonanya, memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap seks; nama kecilnya tak pernah disebutkan btw.) dalam menyeret cowok culun pujaannya(?), Kosuda Takeshi, ke tempat tidur.

Si Yamada ini ceritanya entah mengapa bertekad untuk memiliki lebih dari 100 sex friend..Tapi karena tak percaya diri dengan bentuk alat vitalnya yang ia anggap aneh, Yamada bertekad untuk hanya melakukannya dengan para perjaka yang masih belum berpengalaman saja, dan ia pandang Kosuda yang dijumpainya tak sengaja di toko buku sebagai sasaran pertamanya yang tepat. Hanya saja, di balik sikap luarnya yang ‘kuat,’ si Yamada ini ternyata sama begonya bila menyangkut hal sebenarnya. Ya, dia sendiri masih perawan, sehingga ia kerap kali malah menyeret Kosuda ke dalam situasi-situasi yang lumayan absurd.

Kosuda yang malang ini tak bisa habis mengerti tingkah Yamada. Apa cewek cantik yang terkenal ini sedang berusaha mendekatinya? Atau dia hanya sedang mempermainkannya saja? Tapi di sisi lain, kecantikan Yamada membuatnya sulit menolak kehendaknya…

Mungkin ada beberapa di antara kalian yang ngebaca tulisan ini yang sedikit ketawa dengan premisnya. Tapi terus terang saja, di samping lelucon-leluconnya yang vulgar dan sedikit pelajaran yang enggak jelas tentang seks (bebas), tak banyak yang bisa didapatkan dari anime ini. Yea, konsepnya sendiri sudah agak sakit. Alasan semula yang membuatku sedikit tertarik dengan ini sebenarnya adalah karena ini merupakan kebalikan dari premis cowok pemalu mendekati cewek populer.

Dalam perkembangan cerita selanjutnya, meski ia sendiri terus-terusan menyangkalnya, Yamada sendiri memang jadi jatuh cinta betulan pada si Kosuda. Tapi meski ini perkembangan yang kedengaran menarik, ini anime komedi, bukan cinta. Jadi tidak, kau tetap takkan menemukan suatu adegan romantis yang berkesan di dalamnya.

Cherries and Bust Sizes

Sebenarnya, ada lumayan banyak tokoh pendukung yang berpotensi membuat semuanya lebih menarik di dalamnya. Meliputi di antaranya, Takatsuki Miharu, sahabat Yamada yang sudah berpengalaman dengan pacarnya yang berusia lebih tua (dia duluan yang berinisiatif); Kazuki, kakak perempuan Kosuda yang tomboi tapi sangat pengertian terhadap adiknya; Chika, adik perempuan Yamada yang jauh lebih dewasa dan ‘waras’ dibandingkan kakaknya; Miyano Mayu, sahabat masa kecil Kosuda yang jelas-jelas jatuh cinta padanya, lalu tiga cowok ‘biasa’ yang menjadi tiga tokoh paling ‘sampingan’ di kelas para tokoh utama; dan yang sedikit menonjol, Misato, seorang cewek kecil mungil bego yang ‘pikiran-pikiran maju’-nya sama sekali tak didukung tampangnya yang masih seperti anak-anak.

Dua karakter pendukung lain yang lumayan menonjol adalah kakak beradik Kannejou Kyouka dan Kannejou Keiichi yang secara absurd, sangat rupawan dan sangat kaya raya. Kyouka, yang tak bisa menerima kenyataan bahwa Yamada menyaingi kecantikannya, berperan sebagai rival besar sang tokoh utama pada paruh akhir seri ini. Tapi karakter ini tetap merupakan karakter yang ‘parah’ dengan keobsesifannya yang sangat menakutkan terhadap kakak kandungnya sendiri. Kakaknya sendiri, Keiichi, sebagaimana bisa ditebak, menjadi tertarik pada Yamada, jadi aku takkan bicara lebih lanjut soal ini.

Tapi di antara mereka semua, tak ada yang lebih menonjol dari Erogami (terjemahan: dewa seks!) masing-masing karakter, terutama Yamada, yang berbentuk seperti versi mini para karakter bersangkutan sendiri, yang senaniasa berusaha mendorong para majikannya secara bawah sadar untuk berjuang melampiaskan hasrat masing-masing dan…

AAAAAAAARGHGHGH!!!

Aku jadi bertanya-tanya apakah versi DVD-nya akan memiliki opsi untuk melepas semua sensor…

Bicara soal aspek presentasinya, mengesampingkan banyaknya sensor yang disengaja ada, mungkin anime ini memiliki  presentasi yang agak terlalu bagus untuk konsepnya. Visualnya terang dan tajam. Sudut pandang yang diambil kamera pada opening theme-nya secara jenius bisa membuat cowok panas, meski apa yang ditampilkannya belum bisa dikatakan vulgar. Para penggemar Tamura Yukari (pengisi suara Nanoha dalam Mahou Shojou Lyrical Nanoha, sekaligus Togame dalam Katanagatari) akan bisa menikmati performanya sebagai Yamada yang sangat… berkesan, karena Yamada jelas berbeda dari peran-perannya yang biasa. Tamura-san juga yang menyanyikan lagu penutup dan lagu pembuka dari seri ini, yang dari beberapa segi juga bisa dibilang agak terlalu bagus untuk konsepnya. Sang sutradara, Yamamoto Yusuke, jelas membuktikan bahwa ia memiliki kapasitas yang lebih dari cukup sebagai penanggung jawab seri ini.

Pada akhirnya, ini seri semi-porno dalam arti yang paling sesungguhnya. Ini jenis tontonan yang seringkali akan membuat citra anime di kalangan awam menjadi jelek. Tapi mungkin tetap akan ada sebagian orang di antara kalian yang akan menontonnya, sekedar untuk mendapat indikasi kecendrungan belakangan itu seperti apa. Ada potensi kajian menarik di dalamnya. Tapi menurutku pribadi sih konsep awalnya tetap agak terlalu serius untuk dijadikan lelucon. Atau mungkin juga itu karena pendekatannya yang menurutku salah.

Oh ya. Seri ini diangkat dari seri manga 4-koma karya Youko Sanri (cewek?). Mempertimbangkan bahwa itu manga 4-koma, lelucon-leluconnya pada versinya yang asli kurasa bisa sedikit dijustifikasikan.

Penilaian

Konsep: E; Visual: A-; Audio: B; Perkembangan: D; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C


About this entry