Tsukihime (bag. awal)

Tsukihime (arti harfiahnya kira-kira adalah ‘tuan putri rembulan’) keluar pertama kali menjelang akhir tahun 90an. Bermula dari game doujin dalam format visual novel yang dirilis oleh duo TYPE-MOON (pasangan sahabat Nasu Kinoko sebagai penulis dan Takeuchi Takashi sebagai ilustrator), Tsukihime secara perlahan tapi pasti menarik perhatian banyak sekali penggemar pada saat dirilis secara independen dalam acara comiket musiman di Jepang.

Tampilan visualnya sederhana. Desain karakternya secara sekilas sama sekali tak menonjol. Musiknya, pada versi-versi awalnya, secara pribadi menurutku kurang begitu bagus. Tapi ada nuansa orisinil ‘ajaib’ yang Tsukihime bawa, yang tercermin pada konsepnya yang kuat dan belum pernah ada sebelumnya. Gaya cerita Nasu-sensei khas. Lalu ini diperkuat dengan desain karakter Takeuchi-sensei yang sangat kaya ekspresi di balik kesederhanaan tampak luarnya.

Hasilnya?

Di kalangan penggemar budaya visual modern Jepang, Tsukihime dengan segera menjadi fenomena.

Sebelum aku melanjutkan, ada beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan tentang Tsukihime kepada orang-orang yang tak berkeinginan untuk memainkannya. Jadi ada sejumlah spoiler berbahaya yang akan diulas!
  2. Konten Tsukihime diperuntukkan untuk dewasa. Walau kadang ada adegan-adegan kocaknya, tema Tsukihime yang gelap bisa kurang cocok untuk sebagian orang.

Sebagai tambahan, aku memutuskan untuk menulis ini karena meski pada saat-saat ‘sesat,’ cerita Tsukihime akan bener-bener ‘sesat’; pada saat lurus, ceritanya akan beneran ‘lurus.’ Maksudku, ada nilai-nilai moral berarti yang disampaikan di dalamnya. Jadi meski memiliki serangkaian hal yang ‘disturbing‘, ada banyak pelajaran yang kudapat dari cerita Tsukihime, yang hingga kini masih belum aku lupakan.

Blue blue Glass Moon, under the Crimson Air

Tsukihime diawali dengan prolog dan bab pembuka.

Adegan prolog menggambarkan terbangunnya seorang anak lelaki di tengah hutan pada suatu malam hari. Anak laki-laki itu bertanya-tanya ke mana seluruh anggota keluarganya pergi. Barulah sesudah berjalan beberapa lama, anak itu menyadari warna merah aneh yang dilihatnya di tanah adalah genangan darah dari jasad seluruh anggota keluarganya yang baru saja terbantai. Namun alih-alih takut. Anak itu malah merasakan suatu kekaguman akan pemandangan tersebut, yang disignifikasikan oleh keindahan bulan purnama malam itu yang takkan ia lupakan…

Barulah bertahun-tahun kemudian, cerita beralih ke sudut pandang seorang bocah laki-laki bernama Tohno Shiki.

Shiki ceritanya pada suatu hari terbangun dan mendapati dirinya berada di rumah sakit. Saat ia bertanya pada dokter mengapa ia bisa dirawat di sana (ingatannya untuk suatu alasan terasa begitu samar-samar), sang dokter mengatakan bahwa dirinya baru mengalami kecelakaan lalu lintas. Ada pecahan kaca yang sampai menusuk ke dalam dadanya. Sehingga ia terpaksa harus dioperasi, diopname, dan singkatnya, harus berada di rumah sakit untuk waktu yang lama.

Shiki lalu bertanya mengapa ada guratan-guratan garis aneh pada segala benda yang dilihatnya. Shiki bertanya karena melihat guratan-guratan garis aneh itu senantiasa membuatnya pusing.

Mendengar pertanyaan Shiki, sang dokter dan para koleganya dengan terpaksa menyimpulkan bahwa meski fisiknya telah pulih, sesuatu pasti telah terjadi pada otaknya. Saraf penglihatan Shiki mungkin mengalami cacat, dan ia jadi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Tapi apa yang sebenarnya ada dan tidak kemudian dipertanyakan, saat Shiki secara iseng mencoba menelusuri salah satu berkas garis aneh yang dilihatnya itu dengan pisau buah. Benda yang digoresnya secara ajaib patah dan hancur, hanya sesudah digores dengan menggunakan pisau buah.

Frustrasi karena tak ada orang yang mempercayai kata-katanya tentang garis-garis itu, Shiki pada suatu hari melarikan diri dari rumah sakit. Di suatu padang rumput, Shiki kemudian menjumpai seorang wanita berambut merah ramah, yang sesudah mendengar kekesalannya ditumpahkan, bersedia menjadi teman mengobrolnya selama ia dirawat.

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Aozaki Aoko. Aoko menyatakan pada Shiki bahwa dirinya adalah seorang penyihir (magus). Lalu ia menjadi teman mengobrol Shiki untuk beberapa lama.

Shiki, dengan maksud untuk membuktikan kata-katanya, kemudian memperlihatkan pada Aoko apa yang bisa diperbuatnya dengan garis-garis itu. Saat itulah Aoko kaget, serta merta menampar Shiki, dan secara tegas memperingatkannya untuk tak pernah lagi berbuat sesuatu yang sembrono dengan garis-garis tersebut.

Aoko menjelaskan bahwa garis-garis yang dilihat Shiki adalah ‘kematian’ dari suatu benda. Garis-garis itu secara supernatural menghubungkan benda bersangkutan dengan ‘sumber’ yang ‘melahirkan’ benda tersebut. Saat garis yang menghubungkan benda dengan ‘sumber’ itu diputus, maka yang terjadi adalah ‘kematian mutlak’ dalam arti sebenar-benarnya.

Aoko memperingatkan Shiki untuk tak pernah lagi bermain-main dengan ‘nyawa’ suatu benda. Sebab apabila Shiki sudah meremehkan ‘nyawa’ dari benda-benda mati, sikap meremehkan Shiki akan beralih ke benda-benda hidup, dan Aoko tak sudi bila itu sampai terjadi.

Kepada Shiki, Aoko mengajarkan berbagai pelajaran lain tentang hidup. Aoko juga menyatakan bahwa boleh saja suatu saat nanti Shiki melanggar pantangan yang Aoko berikan, sebab Aoko percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pastilah terjadi karena suatu alasan. Karena merasa mendapat banyak pelajaran berarti, semenjak itu Shiki memanggil Aoko dengan sebutan ‘Sensei,’ dan Aoko menjadi satu-satunya orang yang Shiki panggil ‘Sensei’ sampai dirinya dewasa.

Sebagai kado perpisahan, Aoko memberi Shiki sebuah kacamata ajaib yang dapat menghilangkan garis-garis itu dari pandangannya. Aoko dan Shiki berpisah sesudah Aoko mengatakan bahwa ia masih punya urusan-urusan lain yang harus diselesaikan. Tapi meski masa perjumpaan mereka singkat, seumur hidupnya, setiap kata yang pernah Aoko ucapkan tak pernah Shiki lupakan.

Inversion Impulse

Sesudah dibebaskan dari rumah sakit, Shiki untuk suatu alasan diperintahkan keluar dari rumah utama kediaman keluarga Tohno yang kaya raya dan terhormat. Dirinya diharuskan tinggal bersama para kerabatnya dari garis keturunan cabang, yakni keluarga Arima, yang notabene adalah keluarga yang biasa-biasa saja.

Barulah sesudah delapan tahun tinggal bersama keluarga Arima, Shiki mendengar berita bahwa ayahnya, Tohno Makihisa, telah wafat. Lalu adik perempuan Shiki, Tohno Akiha, telah ditunjuk sebagai kepala keluarga yang baru. Lalu hal pertama yang Akiha lakukan sebagai kepala keluarga adalah menulis surat yang memerintahkan Shiki untuk kembali tinggal bersamanya di kediaman utama keluarga Tohno.

Meski masih tinggal di kota yang sama, Shiki selama delapan tahun telah diasingkan dari keluarga Tohno tanpa diperbolehkan menjumpai siapapun dari kediaman utama. Shiki notabene—dengan mengesampingkan matanya yang ajaib—telah menjadi ‘orang biasa kebanyakan’ yang berbeda dari adiknya yang pastinya telah tumbuh menjadi seorang lady.

Tapi meski amat menghormati keluarga Arima yang telah begitu lama mengasuhnya, karena Akiha adalah satu dari sekian sedikit hal yang pernah disukainya dari keluarga Tohno, Shiki mematuhi perintah tersebut dan pindah kembali ke rumah tempat ia dibesarkan.

Satu-satunya teman yang Shiki ceritakan tentang kepindahannya itu pada awalnya hanyalah Inui Arihiko, sahabat karibnya di sekolah. Baru belakangan, teman-temannya yang lain mengetahuinya juga: yaitu Ciel-senpai, kakak kelas mereka berdua yang sering hang out(?) bersama mereka, serta Yumizuka Satsuki, teman sekelas Shiki yang populer namun diam-diam memendam rasa suka padanya.

Tiba di rumahnya yang lama, Shiki mendapati sebagian besar orang yang dulu turut menempati rumah itu telah Akiha usir. Mereka yang tersisa hanyalah dua pelayan perempuan yang paling Akiha percayai: si kembar Kohaku dan Hisui.

Akiha berusia setahun lebih muda dari Shiki. Tapi telah diserahi kepemimpinan atas perusahaan besar yang keluarga Tohno miliki. Ia kini memiliki berbagai kesibukan di sekolahnya sendiri, dan tidak lagi bersikap manja dan cengeng seperti dulu. Tapi meski tidak terlihat secara langsung, Shiki menyadari bahwa Akiha masih teramat menyayangi dirinya.

Di sisi lain, Kohaku dan Hisui hanya samar-samar Shiki ingat.

Kohaku, yang mengenakan pita dan berpakaian selayaknya gadis pelayan Jepang tradisional, menangani urusan masakan dan dapur. Sedangkan adiknya, Hisui, yang berpakaian selayaknya gadis pelayan Eropa, menangani urusan kebersihan dan kerapian rumah. Sifat Kohaku yang ceria kontras dengan sifat Hisui yang sangat pendiam dan formal. Sementara Kohaku merupakan pelayan pribadi Akiha, Hisui kemudian Akiha tunjuk sebagai pelayan pribadi Shiki.

Namun tak lama sesudah kehidupan baru Shiki dimulai, serangkaian kejadian yang sangat aneh kemudian terjadi.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Shiki berpapasan dengan seorang wanita asing cantik berambut pirang yang untuk suatu alasan, teramat menarik perhatiannya.

Shiki pada saat itu sedang tidak enak badan. Kepalanya terasa sakit. Lalu rasa sakit itu sebelumnya membuatnya sempat ambruk dan pingsan selama pelajaran di kelas. Karena keadaan kota Misaki sedang meresahkan akibat berlangsungnya serangkaian pembunuhan misterius yang belum terpecahkan, Shiki diizinkan pulang lebih awal ke rumah.

Namun melihat wanita itu di tengah jalan, pikiran Shiki tiba-tiba gelap. Tubuh Shiki bergerak mengikuti dorongan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.

Lalu sebelum ia tersadar, Shiki telah membuntuti wanita asing itu pulang ke apartemennya, menekan tombol bel pintu, dan begitu pintu dibuka, dalam sekejap, dengan menggunakan pisau lipat warisan yang belum lama dikirimkan padanya dari kediaman keluarga Arima, Shiki telah mencacah tubuh wanita asing itu menjadi 17 bagian.

Princess of the True Ancestors

Terguncang dengan apa yang telah diperbuatnya, Shiki cepat-cepat kembali ke kediaman keluarga Tohno. Tapi anehnya, tak ada lagi hal tak wajar yang terjadi sepanjang sore itu. Sehingga Shiki akhirnya tak yakin apakah tindakan impulsifnya memotong-motong tubuh wanita asing itu benar-benar adalah kenyataan atau hanya mimpi belaka.

Namun keesokan harinya, dalam perjalanan menuju sekolah, wanita asing berambut pirang itu tahu-tahu saja telah menantikan Shiki di perempatan jalan. Wanita itu dengan riang lalu menyapanya dan memintanya untuk ‘bertanggung jawab’ atas apa yang telah diperbuatnya terhadapnya kemarin.

Shiki ketakutan.

Tapi ketakutannya berubah menjadi kebingungan saat wanita itu dengan riang memperkenalkan diri sebagai Arcueid Brunestud, seorang vampir.

Arcuied menjelaskan bahwa insiden-insiden pembantaian misterius yang terjadi belakangan adalah hasil perbuatan seorang vampir lain. Alasan Arcueid berada di kota ini tak lain adalah untuk memburu vampir tersebut. Tapi Arcuied ternyata sempat ‘terbunuh’ oleh Shiki, dan ini  mengakibatkan Arcueid kehilangan sebagian besar kekuatannya. Alih-alih marah dan menuntut balas dendam, Arcueid malah terkesan, karena belum pernah ada manusia biasa yang mampu membunuhnya sebelumnya. Agar masalah utama tetap bisa terselesaikan, Arcueid lalu ‘meminta’ Shiki untuk membantunya dalam memburu vampir tersebut.

Arcueid kemudian menjelaskan bahwa alasan dirinya tidak mati dan meminum darah adalah karena dirinya salah seorang True Ancestor (Shinsou, ‘leluhur asli’), ras vampir orisinil yang aslinya diciptakan oleh planet Bumi sebagai semacam mekanisme pertahanan diri.

Arcueid diberkahi kekuatan supernatural dahsyat serta keabadian sejati yang bersumber secara langsung dari planet Bumi. Namun para True Ancestor, yang pada mulanya adalah semacam ‘roh suci’ ini, memiliki cacat lahiriah berupa dahaga yang tak tertahankan terhadap darah. Sekali mencicipi darah, para True Ancestor akan berkeinginan untuk meminumnya lagi, dan secara perlahan akan mulai kehilangan kewarasan mereka sekalipun mereka tak membutuhkannya untuk bisa tetap hidup.

Lalu para manusia biasa yang telah diminum darahnya akan mengalami mutasi pada tubuhnya dan mendapatkan kekuatan luar biasa, serta menjadi pengikut True Ancestor bersangkutan sampai mereka bisa membebaskan diri.

Para manusia biasa yang telah turut diubah menjadi vampir ini adalah mereka yang disebut para Dead Apostle (kurang lebih berarti ‘pengikut/utusan mati’). Berbeda dengan para True Ancestor, tubuh para Dead Apostle akan membusuk dan hancur secara alami seiring dengan waktu, dan karenanya mereka secara teratur memerlukan konsumsi darah untuk bisa bertahan hidup.

Salah satu dari Dead Apostle inilah yang tengah Arcueid kejar.

Dengan demikian, perburuan bersama Arcueid dan Shiki akan vampir misterius itupun dimulai. Dari Arcuied pulalah, Shiki mengetahui lebih banyak tentang matanya yang ajaib, yang di luar dugaan menjadikan Shiki ancaman paling besar bagi makhluk-makhluk supernatural seperti Arcueid…

Lunar Eclipse

Daya tarik terbesar Tsukihime, terlepas dari cerita dan para karakternya, sebenarnya terletak pada penceritaannya. Bukan hanya soal pilihan kata-kata yang digunakan untuk menceritakannya. Tapi juga pada bagaimana misterinya secara lambat laun dibeberkan.

Terlepas dari banyaknya keputusan yang pemain mesti ambil di sepanjang cerita (yang akan menentukan apakah Shiki dapat bertahan hidup hingga akhir atau tidak), Tsukihime memiliki lima rute percabangan cerita ‘besar’ yang didasarkan pada siapa yang kita pilih sebagai heroine utama.

Satu rute besar harus terlebih dahulu dituntaskan untuk bisa membuka rute besar baru yang sebelumnya masih ‘terkunci.’ Barulah dengan begitu rute baru itu bisa pemain mainkan pada saat memulai permainan dari awal lagi.

Kelima rute besar itu, secara berurut, adalah rute-rute: Arcueid, Ciel, Akiha, Hisui, dan Kohaku.

Secara garis besar, kelima percabangan di atas dibagi lagi menjadi dua bagian besar: yakni lingkar bulan luar dan lingkar bulan dalam. Rute-rute lingkar bulan luar (yang mencakup rute Arcuied dan rute Ciel) secara efektf bercerita tentang konflik melawan para Dead Apostle. Sedangkan rute-rute lingkar bulan dalam (yang mencakup tiga rute Akiha, Hisui, dan Kohaku) mengisahkan misteri masa lalu keluarga Tohno serta identitas asli Tohno Shiki sebelum ia diadopsi.

Salah satu keunggulan besar Tsukihime (pada masanya) adalah bahwa kelima percabangan di atas memiliki perkembangan cerita yang teramat berbeda. Sekalipun demikian, premis awal cerita tetap sama dan detil-detil kejadian-kejadian pada tiap rute tetap saling melengkapi. Sehingga sebagian penjelasan cerita untuk satu rute bisa ditemukan pada rute lain.

Pada rute Arcuied dan Ciel, Shiki dan Arcueid harus berhadapan dengan sosok vampir Nrvnqsr Chaos, salah satu dari 27 Dead Apostle terkuat, yang memiliki kendali penuh atas berbagai jenis binatang. Kekalahan Nrvnqsr Chaos masih belum menjadi akhir dari cerita, sebab Shiki kemudian mengetahui bahwa Nrvnqsr Chaos bukanlah satu-satunya Dead Apostle yang ada di kota Misaki.

Dalam perkembangan cerita, terkuak bahwa sasaran Arcueid yang sebenarnya bukan Chaos, melainkan  musuh bebuyutan yang sebelumnya telah Arcuied bunuh sebanyak 17 kali: Michael Roa Valdamjong.

Ciel, yang beberapa kali Shiki lihat berkeliaran di malam hari, terungkap adalah salah seorang Executioner dari kelompok misterius Burial Agency yang berada di bawah naungan Gereja. Bersaing dengan Arcueid, Ciel telah menyusup dan melebur ke dalam kehidupan Shiki, selama berhari-hari berperan sebagai sahabat dekat Shiki, dengan memanipulasi ingatannya serta ingatan Arihiko, karena mengejar jejak Roa.

Hal ini dikarenakan Roa memiliki kemampuan untuk bereinkarnasi secara terus menerus dengan merasuki tubuh manusia manapun yang dikehendakinya dan mengambil alih tubuhnya. Roa inilah yang menjadi pemicu awal dahaga Arcueid terhadap darah, dan secara tak langsung pula menjadi penyebab musnahnya para True Ancestor, dan juga orang yang telah menyengsarakan Ciel dalam kehidupannya yang lampau…

Kenyataan terselubung tentang adanya Roa ini merupakan salah satu aspek cerita yang tetap berdampak pada perkembangan cerita di rute-rute lain; walau hal tersebut tak secara eksplisit disebutkan, dan walau Roa tak selalu berkembang menjadi tokoh antagonis utama.

Konfrontasi antara Arcueid dan Roa akhirnya tak terhindarkan sesudah terungkap bahwa keluarga Tohno rupanya pernah mengadopsi seorang anak yang dua tahun kemudian dinyatakan tewas akibat ‘kecelakaan.’ Lalu mengetahui karakteristik khusus Roa, barulah Shiki memahami alasan sesungguhnya mengapa mata miliknya diberkahi padanya, yang kemudian harus digunakannya untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

…Sekali lagi, perkembangan ceritanya akan lumayan berbeda tergantung rute yang kita mainkan. Walau asal-muasal konflik-konfliknya kurang lebih sama.

Hubungan sesungguhnya yang Shiki miliki dengan Roa sendiri baru sepenuhnya terjelaskan pada masa lalu tersembunyi dari keluarga Tohno, yang baru diungkap pada rute-rute lingkar bulan dalam. Sejumlah teka-teki lain yang masih belum terselesaikan juga baru akan terjawab seiring penyelesaian rute-rute berikutnya.

Menariknya, Arcuied, sang tokoh utama wanita pertama, bahkan hampir tak muncul sama sekali saat kita memainkan rute-rute lingkar bulan dalam, saking berbedanya perkembangan cerita yang ada.

Hanya dengan menuntaskan kelima rute inilah, sang pemain bisa memahami kejadian-kejadian yang terjadi pada setiap rute secara menyeluruh. Pemain akan bisa menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri, dan kemudian memahami pesan sesungguhnya yang hendak disampaikan dari cerita ini.

Barulah sesudahnya pemain disuguhi epilog tentang pertemuan kembali antara Shiki dan Aoko-sensei, sebuah reuni yang padanya Shiki membahas apa yang telah ia dapatkan dalam kehidupannya, yang sepenuhnya menutup tirai pertunjukan Tsukihime.

Melalui epilog ini pula, kemudian terungkap bahwa sekalipun Shiki kemungkinan besar takkan dianugrahi usia panjang akibat ‘kecelakaan’ yang menimpanya, dirinya bersyukur karena telah menjalani kehidupannya secara penuh, serta bisa hidup bahagia bersama orang-orang yang ia kasihi.

Rinne no Hate ni

Tsukihime diadaptasi oleh studio animasi J.C. Staff menjadi sebuah seri anime 13 episode berjudul Shingetsutan Tsukihime, atau Lunar Legend Tsukihime, pada sekitar tahun 2003. Bergenre drama misteri, dengan desain karakter yang dirombak ulang serta musik orkestra yang megah, Shingetsutan Tsukihime bisa dibilang menjadi awal mula dikenalnya Tsukihime sekaligus TYPE-MOON di kalangan masyarakat luas.

Shingetsutan Tsukihime (‘shingetsutan’ kurasa kurang lebih berarti ‘catatan kejadian rembulan sejati’) pada dasarnya merupakan penceritaan ulang dari rute utama Arcueid. Namun ada sejumlah perbedaan detil di seri ini yang menimbulkan sedikit kebingungan di kalangan penggemar dalam memahami jalan cerita.

Inti ceritanya masih tetap sama. Tapi nuansanya secara garis besar dibuat lebih muram dan kelam.

Sifat-sifat para karakternya juga sedikit berbeda: keramahan dan kelembutan hati Shiki misalnya, digantikan dengan sifat serius dan waspada; Arcueid juga digambarkan sebagai seorang wanita yang sepenuhnya bersifat dewasa, alih-alih riang dan kekanak-kanakan; Ciel pun sama sekali tidak memperlihatkan obsesi konyolnya terhadap kare, dan sebagainya.

Detil kemampuan super yang dimiliki para karakternya juga tidak diceritakan jelas, sehingga ada kerancuan tentang apa sesungguhnya yang bisa dilakukan oleh para tokohnya dan apa yang tidak. Sementara di sisi lain, sejumlah pertanyaan tentang ceritanya juga dibiarkan berakhir menggantung.

Di masa sekarang, kekurangan-kekurangan ini kurasa lumayan sering ditemukan pada anime-anime hasil adaptasi game. Tapi ada sesuatu yang sangat ‘mengganggu’ tentangnya pada masa itu, yang mungkin dikarenakan betapa apiknya Shingetsutan Tsukihime sebenarnya secara teknis.

Terlepas dari semuanya, Shingetsutan Tsukihime cukup menonjol karena membeberkan akhir cerita yang berbeda bagi Yumizuka Satsuki, yang telah lama dikabarkan merupakan heroine yang tak jadi digunakan pada versi akhir di VN-nya (agak seperti kasus Ilya di konsep awal Fate/stay night). Lalu ada satu adegan orisnil saat Shiki, Arcueid, Ciel, Akiha, Satsuki, serta Arihiko sama-sama pergi ke taman bermain, yang bisa jadi merupakan salah satu adegan paling menarik perhatian dari seri ini.

Selebihnya, meski sama sekali tak jelek, anime ini kurang bisa menyampaikan keseluruhan nuansa ‘ajaib’ Tsukihime yang membuatnya begitu dicintai para fans. Tapi seri ini tetap cukup lumayan sebagai perkenalan atas dunia Tsukihime serta karya-karya TYPE-MOON berikutnya.

Untuk alasan itu saja seri ini sebenarnya cukup layak untuk ditonton.

Di samping kenyataan bahwa visualisasi cerita pada seri ini jauh lebih enak dipandang.

(bersambung ke bag. akhir, yang bisa ditemukan di sini)


About this entry