GTO

Baru-baru ini, aku menamatkan manga GTO.

Sejujurnya, aku sudah lama ingin menulis sesuatu tentang seri ini. Hanya saja aku sama sekali enggak tahu mesti mulai nulis dari mana!

Gaya penceritaan komik ini… gimana ya? Uh, enggak ketebak. Dalam satu waktu selalu ada lebih dari satu subplot yang saling jalin menjalin dengan subplot lain. Satu hal yang diindikasikan akan terjadi dalam komik ini bisa jadi baru terjadi berbab-bab kemudian. Tapi anehnya, sejauh ini aku belum menemukan komik lain yang maparin cerita dengan gaya begini selain GTO.

Eniwei, komik yang melambungkan nama Tohru Fujisawa ini merupakan seri yang fenomenal di sekitar tahun 2000an. Alasannya adalah karena komik ini membahas soal kenyataan kelam di balik sistem pendidikan sekolah Jepang yang ‘totaliter,’ ditambah pengeksposan berbagai fenomena sosial ‘aneh’ yang konon kerap terjadi pada masa sekarang (meski dalam bentuk yang rada… uh, ‘ekstrim’). Kepanjangan judulnya adalah Great Teacher Onizuka, dan seri ini merupakan sekuel langsung dari karya Fujisawa-sensei terdahulu, Shonan Junaigumi (yang membahas petualangan Onizuka semasa SMA), yang juga memiliki komik prekuel lain berjudul Bad Company (yang membahas petualangan Onizuka semasa SMP, sekaligus satu-satunya bagian cerita ini yang pernah secara legal terbit di sini).

Ada dua spin off lain. Tapi karena satu dan lain hal, soal dua itu aku sebutkan lain kali saja.

Komik ini bukan hanya diangkat ke dalam bentuk anime, dengan hasil lumayan ngehit, melainkan juga diangkat ke bentuk drama TV yang ternyata lebih ngehit dari yang semua orang duga(!). Padahal selain dari aspek kejantanannya, Takashi Sorimachi yang menjadi pemeran utamanya bahkan tidak mirip Onizuka sama sekali. Ditambah lagi ada banyak sekali perubahan detil yang terpaksa dilakukan di dalam agar keterbatasan durasinya dapat mencakupi keseluruhan inti cerita. Tetapi drama TV ini dinilai tetap mengusung semangat yang sama dengan media aslinya, sehingga secara tak langsung menjadikan seri ini sebagai salah satu komik terbitan Kodansha yang paling legendaris. (Apalagi sesudah Sorimachi-san menikahi Nanako Matsushima yang menjadi lawan mainnya di dorama ini, dia menjadi dipandang sebagai lelaki dengan kejantanan legendaris…)

Terlepas dari itu, sedikit catatan sebelum tulisan ini berlanjut, mengingat aku menulis ini berdasarkan versi terbitan Tokyopop, pada tulisan ini nama kecil akan mendahului nama marga. Yah, hanya demi kemudahan pribadiku saja.

Wali Kelasmu yang Baru

Dikisahkan bahwa Eikichi Onizuka (22 tahun, perjaka, sabuk hitam karate, lulusan universitas kelas tiga, rambut dicat pirang) adalah bekas pemimpin geng bermotor yang masih belum menemukan apa yang bisa diperbuatnya dalam hidup. Sahabat kentalnya, Ryuji Danma, telah memiliki penghasilan tetap sebagai mekanik. Bahkan Toshiyuki Saejima, orang paling ‘kriminal’ yang paling Onizuka kenal, secara ironis kini berprofesi sebagai polisi (meski tidak secara becus).

Lalu pada suatu hari, sesudah melihat secara langsung betapa para guru SMA berada dalam posisi kuat untuk memikat gadis-gadis remaja, ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya sebagai guru bantu (tidak tetap, honorer, kontrak, dsb.) di sebuah sekolah negeri. Terlepas dari niat awalnya yang agak ‘menyimpang,’ ia mendapati sejumlah kenyataan yang membuatnya mempertanyakan nilai-nilai moral dan pandangan hidupnya. Hingga akhirnya setelah berhasil membereskan bermacam tantangan dengan cara-cara yang tidak konvensional (yang berhubungan dengan geng-geng bermotor dan palu godam), ia membulatkan tekadnya untuk menjadi guru sekolah sebagai tujuan hidup.

Inilah yang kemudian membawanya ke sekolah swasta Holy Forest Academy (sekali lagi, aku baca terbitan Tokyopop, jadinya aku enggak yakin nama asli sekolanya apa) di Kichijoji, Tokyo, di mana ia singkat kata diterima sebagai guru sementara oleh kepala sekolah Ryoko Sakurai.

Bu Sakurai ini ceritanya bisa melihat potensi yang Onizuka miliki, terutama setelah ia menyatakan pandangannya bahwa seburuk apapun para murid, tak semestinya para guru dan masyarakat memandang mereka sebagai sampah. Kalimat ini pulalah yang kemudian menarik perhatian Azusa Fuyutsuki—perempuan cantik sesama pelamar kerja yang berbeda dari Onizuka, merupakan lulusan Universitas Waseda yang ternama—yang sempat ditolong oleh Onizuka dari gerayangan orang mesum pada saat sedang sama-sama menumpang bis.

Tapi keputusan Bu Sakurai ini mendapat pertentangan keras dari wakil kepala sekolah Hiroshi Uchiyamada, yang bukan hanya menjadi korban pertama keberingasan Onizuka, melainkan juga merupakan orang mesum yang sebelumnya kusebutkan di atas(!?). Uchiyamada yang sudah separuh baya inilah yang kemudian menjadi semacam duri dalam daging bagi karir pengajaran Onizuka, meski seiring berlangsungnya cerita, secara perlahan dijelaskan pula latar belakang dan alasan yang mendorongnya bersikap demikian.

Tapi sejumlah hal mencurigakan kemudian muncul berkenaan deskripsi kerja yang Bu Sakurai sebenarnya harapkan darinya. Kelas yang sebagai wali kelas harus Onizuka asuh ternyata adalah kelas SMP, bukannya kelas SMA. Lalu kelas tersebut berisi anak-anak yang secara terang-terangan memusuhi para guru, tanpa segan-segan berbuat jahat. Tapi yang paling aneh dari semuanya adalah bahwa Onizuka diterima bekerja dengan syarat bahwa ia harus bersedia tinggal di sekolah.

Baru belakangan Onizuka ketahui bahwa kelas 3-4 yang ditanganinya itu memang merupakan kelas bermasalah. Salah satu dari tiga wali kelas pendahulunya mati secara misterius, salah satunya yang lain menjadi hikkikomori, sedangkan yang terakhir karena sedemikian kehilangan pegangannya dalam hidup, menjadi penganut aliran agama baru yang jelas-jelas mencurigakan.

Klimaks dari revelation ini terjadi pada malam pertama Onizuka menginap di sekolah. Secara tak terduga ia mesti menyelamatkan seorang siswa bernama Noboru Yoshikawa yang sesudah dikurung seharian di dalam lemari kelas, secara tiba-tiba mencoba bunuh diri dengan melompat dari atas atap gedung sekolah.

Murid-murid kelas 3-4 dengan segala cara berusaha membuat Onizuka didepak, sama seperti yang telah mereka lakukan terhadap guru-guru wali kelas mereka yang lain. Yoshito Kikuchi yang jago komputer berusaha merusak nama baik Onizuka dengan menyebarluaskan gambar aktor film porno yang gambar wajahnya telah dimanipulasi menjadi gambar wajah Onizuka, tapi di luar dugaan Onizuka malah membayarnya untuk melakukan hal serupa lagi dengan gambar muka Bu Fuyustuki. Kunio Murai bahkan sempat terpikir untuk mencoba membunuhnya, tapi ia tak bisa berbuat banyak saat ibunya yang masih sangat muda yang merupakan orangtua tunggal malah berbalik sangat menyukai Onizuka. Lalu kemudian terungkap bahwa dalang di balik semua permusuhan ini rupanya adalah salah seorang siswi bernama Miyabi Aizawa, yang sampai menjelang akhir cerita, dilandasi permasalahan pribadinya yang teramat rumit, menjadikannya tokoh yang paling keras kepala menentang Onizuka.

Noboru, yang ternyata juga adalah murid kelas 3-4, rupanya selama ini menjadi korban bullying yang dilakukan oleh geng anak-anak perempuan pimpinan Anko Uehara. Sialnya, ibu Anko merupakan pemimpin yayasan ikatan orangtua murid. Dan butuh sedikit keberanian besar bagi Noboru untuk mengikuti rencana Onizuka untuk mengubah nasibnya.

Tak semua murid 3-4 menentang Onizuka. Sesudah Noboru dan Tomoko Nomura (yang Onizuka bantu menjadi idola), para murid secara perlahan mulai mengabaikan rencana perang Miyabi dan memutuskan untuk membuat pengecualian dari ‘kebencian’ mereka terhadap Onizuka.

Tapi Miyabi pantang menyerah, dan kemudian memanggil beberapa murid yang sudah lama tidak masuk untuk membantunya mengusir Onizuka. Yang paling pertama di antara mereka ialah Urumi Kanzaki, yang kejeniusannya bahkan diakui oleh sang perdana menteri sendiri. Lalu yang kedua adalah Mayu Wakui, cucu Bu Sakurai yang memiliki emosi yang tidak stabil.

Tantangan demi tantangan Onizuka hadapi baik secara sadar maupun tidak.

Tapi cerita baru bergerak ke arah klimaksnya saat kedudukan Bu Sakurai oleh dewan yayasan disepakati harus digantikan dengan seorang guru perempuan khusus bernama Kiyoka Daimon, yang secara revolusioner merombak sistem pengawasan di sekolah lewat pembagian PDA gratis. Sistem poin yang dijalankannya serta intranet yang ia gunakan melalui PDA rupanya menjadi media agen-agen rahasianya yang disebut Angel untuk mengetahui rahasia-rahasia gelap para murid, yang kemudian ia beberkan demi menyingkirkan orang-orang yang dipandang merusak citra sekolah.

Namun saat semua ini akhirnya disadari, Onizuka tidak berada dalam kapasitas untuk berbuat akibat akumulasi cedera yang telah ditanggungnya demi mempertahankan keyakinannya selama ini…

Apa arti kata ‘sekolah’ bagi dirimu?

Aku… terus terang saja, enggak inget lagi apa yang semula mendorongku untuk mengikuti seri ini.

Segala situasi yang disampaikan dalam seri ini itu parah. Sangat-sangat parah. Bukan ‘parah’ dalam artian ‘mesum’ atau ‘jorok.’ Tapi ‘parah’ dalam artian situasinya sedemikian ‘menyimpang’ sampai-sampai ‘kita enggak sepenuhnya lagi yakin mana yang benar dan mana yang salah.’ Yang membuat semuanya terkesan lebih gila lagi, segala sesuatu yang terjadi di dalamnya memang bisa saja terjadi di dalam kehidupan nyata.

Lalu sifat para tokohnya. Bukan suatu hal yang ajaib dalam seri ini saat salah seorang tokoh yang terlihat begitu keji di satu bab, kemudian berubah menjadi tokoh yang bisa kita simpatikan di bab yang lain. Ini mungkin suatu perubahan yang bisa diterima dalam komik. Tapi tetap saja bila mencoba mencernanya, perubahan-perubahan ini bisa terasa aneh.

Tema-tema yang diangkat di antaranya meliputi oedipus complex, kehamilan di masa remaja, perpecahan rumah tangga, bullying, pelecehan seksual, penyelundupan obat terlarang, keinginan-keinginan untuk bunuh diri, hingga insiden-insiden penculikan yang di satu ketika bahkan berkembang menjadi aksi terorisme. Keterlibatan yakuza dan perempuan-perempuan nakal sama sekali tak membantu.

Tapi di sisi lain, mungkin Fujisawa-sensei justru patut dipuji karena berhasil mengolah tema-tema berat di atas dalam bentuk yang berlebihan sekaligus humoris. Sehingga dengan demikian terhindar dari tanggapan ofensif pihak-pihak ‘tertentu’ akibat menampilkan cerita yang terlalu realistis.

Yah, terlepas dari itu semua,Onizuka memang tampil sebagai tokoh yang ‘revolusioner’ pada masanya karena sejumlah alasan. Sekalipun ia dipandang sebagai sampah masyarakat yang bodoh dan tak berguna, yang sama sekali tak didukung oleh sifatnya yang mesum dan hobinya bermain-main, ia selalu memiliki keteguhan yang kuat dalam menjalani prinsip hidup. Ia tahu secara jelas(?) batasan antara yang benar dan salah dan karenanya sebagai manusia ia tak pernah kehilangan pegangan atau terpaksa sampai tunduk pada kompromi..

Meski tak bisa sepenuhnya suka padanya, bahkan aku pun mesti mengakui bahwa dia bisa dijadikan gambaran tentang seperti apa sosok laki-laki sejati.

Keinginannya untuk membuat sekolah menjadi tempat yang menyenangkan tak bisa lebih kusetujui lagi. Sekalipun pada akhirnya aku tetap tak bisa sepenuhnya suka padanya sih.

Bicara soal karyanya sendiri, GTO bisa dikatakan menggambarkan transisi antara artwork tinta ‘berantakan’ Fujisawa-sensei di seri-serinya yang terdahulu dengan garis-garis rapihnya yang muncul belakangan. Gaya gambarnya yang termasuk lengkap dengan latar yang mendetil memiliki pengaruh lumayan besar pada masanya. Kekhasan gayanya sesudah GTO semakin menonjol dalam karya-karyanya yang baru, seperti Tokko dan Kamen Teacher.

Lebih banyak soal GTO mungkin lebih baik kalian cari sendiri. Ingat saja bahwa ada perbedaan-perbedaan yang lumayan drastis antara berbagai versi yang ada.

Seperti kata Onizuka, ayo jalani setiap hari dengan semangat penuh!

Edit 16-3-2012

Lupa kusebutkan. Tapi seri ini akhirnya sudah terbit di sini di bawah bendera Level.

Yay!


About this entry