Seitokai no Ichizon

(Buat yang belum tahu, ini adalah ulasan untuk adaptasi anime Seitokai no Ichizon yang pertama. Adaptasi anime yang kedua, Seitokai no Ichizon Lv2 yang dibuat oleh studio AIC masih belum aku lihat.)

Di SMA swasta Hekiou yang terletak di pulau Hokkaido, para anggota Dewan Siswa (baca: pengurus OSIS) dipilih berdasarkan voting popularitas. Akibat dari hal itu, para anggota terpilih biasanya terdiri atas cewek-cewek cantik yang paling menonjol di sekolah. Soal apakah mereka memiliki cukup kapasitas untuk mengurusi Dewan Siswa atau tidak, yah, itu urusan belakangan.

Tapi ada satu orang yang mendapatkan pengecualian dari sistem pemilihan ini, yakni dia yang memperoleh peringkat pertama dalam penilaian semua mata pelajaran. Peraturan menetapkan bahwa dia memiliki hak untuk diikutersetakan ke dalam Dewan Siswa sebagai seorang anggota khusus, dan itu berarti sebuah kesempatan bagi para cowok untuk bisa meluangkan waktu hampir setiap hari bersama empat cewek tercantik di sekolah di dalam satu ruangan yang sama.

Dengan sistem pemilihan yang sangat tidak bertanggung jawab ini, maka tidak heran kinerja Dewan Siswa di Hekiou cenderung dipertanyakan oleh sekolah-sekolah lain.

Tapi para anggota Dewan Siswa Hekiou tentunya tidak mau menyerah begitu saja…

Kurang lebih demikianlah gambaran awal dari seri anime 13 episode yang diangkat dari seri light novel berjudul sama(?) karya Sekina Aoi ini. Desain karakter dan ilustrasi aslinya dibuat oleh Kira Inugami, yang sebenarnya merupakan tipikal desain karakter anime biasa.

Yah, judul asli seri ini sebenarnya adalah Hekiou Gakuen Seitokai Gijiroku, yang kurang lebih berarti ‘Catatan Harian Pertemuan Dewan Siswa SMA Hekiou.’ Tapi judul itu dinilai kepanjangan, dan akhirnya seri ini lebih dikenal dengan nama judul novel pertamanya saja: Seitokai no Ichizon, yang kurang lebih berarti ‘Pertimbangan Dewan Siswa,’ yang secara relatif jauh lebih mudah diingat.

Harem End!

Untuk gampangnya, Seitokai no Ichizon pada dasarnya bergenre gag comedy. Kalau kalian tak mengerti maksudnya, bayangkan sesuatu seperti K-On! atau Yandere Kanojo atau Lucky Star, hanya saja lebih… uh, enggak jelas.

Seitokai no Ichizon hampir sepenuhnya bercerita tentang setiap pertemuan Dewan Siswa yang dilangsungkan pada setiap hari kerja sepulang sekolah di SMA Hekiou. Tak ada adegan percakapan di ruang kelas. Tak ada adegan yang terjadi pada jam pelajaran. Sekali lagi, nyaris semua adegan yang ditampilkan di anime ini berlangsung sepulang sekolah di ruang rapat Dewan Siswa SMA Hekiou.

Pada awal setiap episode, sang ketua, gadis mungil kekanakan bernama Sakurano Kurimu (yang berambut merah dan pettanko), akan memproklamirkan sederet kata-kata mutiara yang kemudian ia jadikan topik bahasan rapat untuk satu hari. Biasanya topik percakapan mereka berkembang menjadi ngalor-ngidul, diselingi lelucon-lelucon tak penting, yang ditanggapi dengan reaksi yang agak terlalu berlebihan dari para anggota lainnya. Kemudian sesudah rapat mencapai kesimpulan(?), para cewek akan pulang dan sang tokoh utama, satu-satunya anggota cowok dari Dewan Siswa, dia yang menempati posisi sebagai wakil ketua sekaligus anggota khusus itu, Sugisaki Ken, akan bilang bahwa dirinya akan ‘pulang nanti saja’ dengan alasan bahwa ia masih ingin main komputer mengingat dirinya adalah seorang otaku.

Tapi di balik otaknya yang mesum dan hobinya bermain galge, Sugisaki hampir selalu pulang lebih larut demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang semestinya diselesaikan bersama oleh para anggota Dewan Siswa pada siang harinya.

Yea, jadi inti dari anime ini adalah soal keseharian mereka yang senantiasa diisi obrolan-obrolan enggak jelas, dengan Sugisaki yang ujung-ujungnya biasanya menjadi korban. Tapi Sugisaki sama sekali tak berkeberatan dengan perlakuan ini. Sebab ia selalu bersikeras bahwa waktu yang ia lewatkan bersama cewek-cewek itu hendaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan, bukan dengan rutin membosankan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ini semua adalah bagian dari cita-citanya untuk memperoleh harem end, yang bagi yang belum paham merupakan istilah dalam game-game dating sim (simulasi kencan) untuk menyebutkan akhir cerita di mana kita sebagai pemain berhasil mendapatkan banyak cewek sekaligus!

Sebagai sesama cowok aku enggak bisa enggak salut atas cita-citanya yang begitu mulia.

Eniwei, di samping sang kaicho, cewek-cewek lain yang membentuk keanggotaan Dewan Siswa adalah: Akaba Chizuru (sekretaris), yang di balik penampilannya yang elegan, tersembunyi kecendrungan untuk memperoleh keuntungan lewat tindakan-tindakan yang status legalitasnya diragukan; Shiina Minatsu (wakil ketua), yang tomboi dan sangat menyukai komik-komik remaja cowok; serta adik Minatsu, Shiina Mafuyu, yang merupakan seorang pecandu game tingkat berat sekaligus penggemar tema-tema boy’s love (baca: cerita-cerita dengan tema homoseksual).

Dengan orang-orang berkarakter seperti ini, rasanya tak aneh jika kredibilitas Dewan Siswa Hekiou sampai diragukan.

Tapi seiring berlangsungnya cerita, mulai terungkap alasan mengapa Sugisaki yang biasanya dipandang sebagai sampah bisa berusaha begitu keras demi keempat cewek ini. Yang dengan demikian membawa kita pada kesimpulan bahwa target untuk mencapai harem end merupakan sumber motivasi yang luar biasa besar bagi para cowok.

…Lho?

I am the kaichou! I am kaichou~!

Terus terang, tak banyak yang bisa dikatakan soal Seitokai no Ichizon, selain kenyataan bahwa ini merupakan anime komedi yang sangat generik. Latar dan karakternya mungkin bisa dibilang memiliki nilai lebih sih. Tapi terus terang saja, tak ada perkembangan cerita berarti yang akan kau temukan pada anime ini.

Soal statusnya sebagai tontonan komedi, hm… entah ya. Anime ini sering sekali melontarkan lelucon berbentuk referensi terhadap anime populer lain, yang meskipun memang lucu, jadinya tak bisa dipahami oleh mereka yang tak mengetahui soal anime lain yang dijadikan referensi tersebut. Di samping itu, untuk suatu alasan, lelucon-leluconnya seringkali dilepas secara beruntun, tanpa jeda waktu ‘pembangunan suasana’ dulu. Sehingga meski kita mengerti leluconnya dan sadar bahwa lelucon itu memang lucu, pas mendengarnya kita tak sampai tertawa karena mendengarnya di saat yang kurang pas.

Tapi mungkin semua itu cuma aku saja. Sebab ada beberapa orang temanku yang terbukti sangat menyukai seri ini. Jadi tak ada salahnya bagi kalian yang merasa sudah menjadi penggemar anime untuk mengambil kesempatan dengan mencoba menontonnya.

Soal aspek presentasinya sendiri… hmm, aku benar-benar enggak bisa berkata banyak.

Tapi jika ada satu hal yang membuatku terkesan dari anime ini, maka itu adalah kesungguhan Sugisaki dalam membuat orang-orang yang disukainya bahagia, yang meski enggak dengan cara yang realistis, semakin terungkap menjelang akhir cerita. Dan itu sebenarnya sudah cukup alasan bagiku untuk tak merasa menyesal karena telah menontonnya.

Sejauh yang bisa kulihat, emang ga bisa dipungkiri seri ini memiliki para penggemarnya tersendiri. Aku akan menulis lebih banyak tentangnya begitu mendapatkan info lebih banyak lagi.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B-; Audio: C+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C


About this entry