C-Blossom ~Case 729~

Ini sebuah kejadian yang aneh.

Ceritanya, aku masih belum menyerah soal keingintahuanku akan Fukui Harutoshi, penulis novel asli Gundam Unicorn, yang kini bagiku sudah menjadi semacam idola. Lalu tatkala aku sedang men-google soal novel Turn A Gundam buatannya, yang konon memiliki alur cerita yang lebih dewasa, aku tanpa sengaja sampai di sebuah situs review komik shoujo yang kebetulan mengulas sebuah komik cewek di mana beliau menjadi penulis naskahnya.

Ya, serius. Sebuah komik cewek, dan beliau menjadi penulis naskahnya.

Judul komik tersebut adalah C-Blosson ~Case 729~ karya ilustrasi manga-ka Shimotsuki Kayoko yang ceritanya tampaknya merupakan spin-off dari Boukoku no Aegis, novel militer lain karya Fukui-sensei yang kini sudah pernah difilmkan. Tentu saja aku lahap review itu sampai habis, dan kemudian aku mengetahui bahwa sekalipun ini komik cewek, nuansa militer dan konspirasi yang menjadi ciri khas beliau masih tetap kental di dalamnya.

Dari garis besar cerita yang kutangkap, intinya ada seorang cewek remaja yang terlibat dalam suatu konspirasi militer rahasia yang membuat dirinya dikejar-kejar, hingga akhirnya ia harus dilindungi seorang bodyguard misterius berupa seorang cowok keren yang memiliki masa lalu kelam.

Bukan premis cerita yang baru untukku. Tapi keingintahuan untuk menggali lebih jauh tentang detilnya adalah apa yang membuatku tertarik.

Ajaibnya, dua hari sesudah aku membaca review itu, aku mengunjungi salah satu toko buku langgananku. Di sana kudapati versi Indonesia dari buku pertama (dari dua) komik ini sudah berada di rak pajangan komik baru. Seketika aku terpana. Whoa, usaha keras para staf di m&c! tak bisa disangkal lagi!

Setelah tertegun sejenak (merasa bahwa kejadian seperti ini pastilah yang disebut takdir), segera aku membeli komik itu dan langsung membaca isinya begitu aku sampai ke rumah.

Tokoh utama ceritanya adalah seorang cewek remaja bernama Matsumiya Kana. Pada mulanya ia tipikal seorang gadis remaja kebanyakan, sampai suatu ketika ayahnya ditahan atas dakwaan korupsi dan segala harta benda yang mereka miliki akhirnya disita. Ibunya, yang kemudian mengalami depresi, akhirnya memilih untuk pulang ke kampung halaman. Sedangkan Kana yang ingin terus bertahan memutuskan untuk mencoba hidup mandiri dengan pindah sekolah ke suatu SMA khusus putri yang terletak di tengah pegunungan.

Kehidupan Kana di asrama SMA tersebut tak mengalami banyak perubahan. Dirinya tetap dikucilkan karena status tahanan yang didapatkan ayahnya itu. Tapi semua mulai berubah saat ia berkenalan dengan lelaki tampan yang menjadi guru kesenian sekolahnya yang baru, Kisaragi Kou, yang kemudian menjadi semacam teman curhat bagi Kana. Tapi hubungan barunya ini menjadi awal dari pemahamannya atas apa persisnya yang ayahnya tengah alami.

Ayah Kana, yang bekerja sebagai akuntan di Departemen Pertahanan, merupakan salah satu dari sekian sedikit orang yang mengetahui pengeluaran tak tercatat anggaran negara yang digunakan untuk membiayai suatu pasukan operasi khusus yang dimiliki pemerintahan. Namun penggunaan biaya ‘legal’ secara diam-diam itu disalahgunakan oleh sejumlah pihak tak bertanggung jawab untuk memperkaya diri mereka sendiri. Dalam upaya menghapus jejak, ayah Kana menjadi kambing hitam saat pengurangan dana anggaran ini mulai terendus publik. Namun masalah baru timbul saat pihak tak bertanggung jawab tersebut bermaksud menggunakan Kana dan ibunya untuk menghentikan niat ayah Kana dalam membeberkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyelewengan dana tersebut.

Dengan terancamnya keselamatan Kana, seorang agen istimewa kemudian ditugaskan dari pasukan operasi khusus itu sebagai pengawal Kana. Agen tersebut ialah Kisaragi Kou yang asli, yang gerak diam-diam yang dilakukannya akhirnya tak dapat lagi dipertahankan. Kou mengungkapkan keberadaannya demi melindungi Kana. Kana bersama Kou kemudian terlibat kejar-kejaran seru, dan orang-orang yang bisa mereka percaya dengan yang tidak secara perlahan mulai terkuak…

Meski alurnya sederhana, bagiku latar dan situasinya teramat realistis. Artwork yang digunakannya cukup jelas dan bersih, dengan pewarnaan hitam putih yang tegas menyerupai siluet, meski pacing antar panelnya masih tetap pacing adegan ukuran komik cewek. Meski karakter mereka tak dikembangkan secara teramat mendalam, tokoh-tokoh yang ditampilkan pun lumayan simpatik. Plotnya cukup memikat, dan aku tak menemui masalah berarti dalam mengikuti ceritanya.

Sebenarnya, bagian paling menarik dari volume 1 komik ini adalah komentar dari Fukui-sensei sendiri di akhir buku. Rasanya menarik bagaimana beliau dan sejumlah koleganya mengumpamakan karya-karya beliau serupa komik-komik (cewek) zaman dulu, yang lebih berat di sisi karakter dan plot daripada adegan (aksi). Membaca komentar tersebut, aku entah mengapa tak bisa tak semakin menyukai beliau, karena beliau bukan tipe orang yang menulis hanya sekedar untuk mencari penghidupan. Beliau seolah menulis karena… entah ya, ada suatu ‘kenyataan lain’ di luar sana yang tak bisa terus-terusan kita pungkiri, dan keberadaan kenyataan kelam itulah yang beliau berusaha sampaikan melalui karya-karyanya.

Bagi mereka yang tak tahu apa-apa soal Aegis, komik ini sejauh ini masih bisa dinikmati kok. Terus terang saja, akupun masih belum bisa melihat keterkaitan ceritanya dengan Aegis ada di sisi mana.

Eniwei, kuharap buku keduanya cepat keluar. Aku tau ini bukan jenis cerita yang biasanya kusukai, tapi aku beneran ingin tahu perkembangannya nanti akan sampai ke mana.

Extra Edit

Buku keduanya keluar beberapa minggu sesudah buku pertama. Aku tentu saja langsung membelinya.

Sejujurnya, enggak banyak yang bisa kutambahkan selain bahwa artwork Shimatsuki Kayoko-sensei di masa yang akan datang masih bisa lebih bagus lagi. Seri ini juga terbukti lebih menonjolkan intrik daripada aksi, dengan perkembangan cerita yang sederhana tapi berkesan.

Akhir kata, aku tak menyesal telah mengikuti seri ini.  Tapi kurasa seri ini hanya akan disukai oleh orang-orang tertentu saja.


About this entry