Neon Genesis Evangelion

Setelah kupikir-pikir, cukup banyak penggemar anime muda yang belum tahu banyak tentang seri ini. Masuk akal, mengingat sekitar 15 tahun sudah berlalu semenjak seri ini pertama keluar. Di sisi lain, aku merasa ini salah satu jenis seri yang “Harusnya SEMUA penggemar sudah tahu tentang ini!” Apalagi  mempertimbangkan kedudukan dan pengaruh besarnya dalam sejarah perkembangan budaya visual modern Jepang.

Kurang lebih karena itu, tulisan ini kemudian aku buat.

Aplocalyptic History Lesson

Pertama kali keluar dalam bentuk serial TV pada tahun 1996, dengan judul lengkap Neon Genesis Evangelion (atau Shin Seiki Evangelion), seri ini secara perlahan tapi pasti menyedot perhatian berbagai kalangan (terutama orang-orang dewasa) karena pemaparan segala sesuatunya yang tidak biasa di dalamnya. Alur cerita yang agak ‘sulit’ untuk diikuti, tema cerita yang ‘sakit’, tokoh-tokoh cerita yang sebenarnya lebih ‘sakit’ lagi, serta tamat ‘menggantung’ serupa metafora yang menuai banyak sekali versi interpretasi sekaligus tanggapan pada masa-masa tatkala seri ini pertama digandrungi.

Evangelion berlatar pada awal abad 21, tatkala sebuah ledakan misterius di Kutub Selatan memicu sebuah bencana global yang memorak-porandakan seisi dunia. Kejadian yang diserupakan dengan jatuhnya meteor raksasa yang mengakibatkan berakhirnya zaman dinosaurus tersebut dikenal dengan nama ‘Second Impact’ (‘First Impact’-nya sudah terjadi dengan punahnya dinosaurus dulu).

Sebagian besar alurnya berkisar seputar remaja lelaki empat belas tahun, Ikari Shinji yang dipanggil oleh ayahnya, Ikari Gendou, ke kota Shin Tokyo 3 untuk menjadi pilot salah satu robot humanoid raksasa yang disebut-sebut merupakan harapan terakhir umat manusia, Evangelion Unit 01.

Shinji memiliki hubungan sangat buruk dengan ayahnya itu. Ia secara praktis telah ‘ditelantarkan’ di usia kecil semenjak ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan kerja. Akibatnya, Shinji tumbuh menjadi seorang remaja pendiam yang sangat rendah diri, terutama bila harus berada di hadapan ayahnya itu. Ia tak bisa memahami pola pikiran ayahnya dan tidak bisa menebak maksud dari tindakan-tindakannya. Dari kacamatanya sendiri, Shinji merasa tak disayangi oleh ayahnya dan bahkan dipandang sebagai sampah.

Karena itu, Shinji menolak habis-habisan keinginan ayahnya itu, sekalipun ia telah diberitahu bahwa semenjak insiden Second Impact, nasib umat manusia terancam oleh serangan-serangan makhluk-makhluk raksasa misterius yang disebut Angel, serta satu-satunya pihak yang memiliki kapasitas untuk melawan mereka hanyalah organisasi paramiliter NERV yang dikepalai oleh Gendou sendiri.

Tapi Shinji berubah pikiran saat menyaksikan penderitaan yang harus dialami Ayanami Rei, gadis sebayanya yang menjadi pilot Eva-01 saat itu. Kecantikan dingin sekaligus sikap tak peduli maupun tak keberatan yang menjadi bagian dari sifat Ayanami mengubah pikiran Shinji dan membuatnya bersedia untuk duduk di kokpit Eva-01, sekalipun ia belum menjalani pelatihan atau tutorial apa-apa.

Di bawah petunjuk Mayor Katsuragi Misato, perwira wanita NERV yang belakangan mengajukan diri untuk mengurusi Shinji, Shinji dengan sebisanya mengendalikan Eva. Tapi alasan sesungguhnya mengapa Gendou bersikeras agar Shinji menjadi pilot baru terlihat saat synchro rate Shinji dengan Eva mencapai tingkatan yang sukar dipercaya, sampai-sampai Shinji hilang kesadaran(?), Eva-01 yang dikemudikannya lepas kendali, dan akhirnya dengan mudah menaklukkan Angel yang tengah dihadapinya.

Maka dimulailah kehidupan baru Shinji di Shin Tokyo 3, di mana ia dengan enggan menjadi pelindung kota itu sebagai pilot tetap dari Eva-01 (Ayanami sendiri menjadi pengendali dari unit Evangelion Unit 00, unit prototip yang dibuat sebelum Eva-01 dibangun). Di sana, ia menemukan potongan-potongan jawaban atas persoalan-persoalan pribadi yang tengah dihadapinya, kenalan-kenalan baru yang sesungguhnya menaruh kepedulian padanya, serta teka-teki sebuah konspirasi global yang taruhannya menyangkut keberlansungan hidup seluruh umat manusia.

Berat

Dengan menitikberatkan cerita pada drama kehidupan para karakter alih-alih plot menyeluruh seperti halnya seri-seri mecha lain, Evangelion meramu tema-tema psikologis, simbolisasi-simbolisasi religius, serta elemen-elemen misteri dalam sebuah tontonan yang hampir bisa dipastikan memberikan kesan teramat dalam. Dengan mecha ramping yang eksotis, latar kehidupan realis yang mendekati dunia nyata, karakter-karakter yang sangat hidup dan berkepribadian, serta nuansa konspirasi yang berat,  Evangelion memberi pengaruh besar pada dunia anime dan terus dikenang dan dibuat berbagai produk spin-off-nya bahkan sesudah sepuluh tahun berselang.

Cerita asli NGE itu berat. Sangat, sangat berat. Di sebagian besar episodenya, karena cara penuturannya yang sepotong-sepotong dan tidak selalu ‘verbal’, pemirsa dipastikan mengalami kesulitan mencerna apa-apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Tapi karakter-karakternya yang memikat (hasil rancangan ternama dari Sadamoto Yoshiyuki, yang juga membuat adaptasi ceritanya dalam bentuk serialisasi manga, yang mulai terbit beberapa waktu sebelum animenya keluar) secara efektif mengikat penggemar untuk peduli terhadap mereka dan berkeinginan untuk tahu lebih lanjut mengenai apa selanjutnya yang akan terjadi.

Shinji digambarkan sebagai remaja berpendirian lemah yang secara perlahan semakin digerogoti keputusasaan akibat beratnya tanggung jawab sekaligus konsekuensi yang harus ia tanggung sebagai pilot EVA. Tapi upaya pelariannya yang setengah mati ia urungkan, serta alasan teramat kuat yang menjadikannya seperti ini, menjadi semacam paralel bagi banyak orang tatkala dilanda depresi dan stres berat selama menghadapi kehidupan nyata.

Ayanami yang sangat dingin dan bahkan nyaris hampa oleh emosi menjadi heroine yang mencolok tatkala ia perlahan-lahan berubah semenjak pertemuannya dengan Shinji. Tapi ada banyak sekali misteri seputar asal-usulnya serta hubungannya yang sesungguhnya dengan Gendou, yang memikat perhatian penggemar sekaligus membuat mereka terus bertanya-tanya.

Souryuu Asuka Langley, yang diperkenalkan di pertengahan seri sebagai pilot Evangelion Unit 02, secara efektif menjadi heroine kedua yang ‘menyeimbangkan’ hubungan Ayanami dengan Shinji. Karakternya yang tinggi hati, ceria, dan sangat percaya diri, yang bisa dibilang merupakan antitesis dari Shinji, memberikan suatu kesan ironis karena dirinya pun ternyata memiliki akar masa lalu kelam yang membentuk kepribadiannya menjadi seperti sekarang.

Sedangkan Misato, tokoh ngasal yang sangat profesional di tempat kerja tapi menjadi sangat serampangan dan seenaknya di dalam rumah, anehnya bisa jadi merupakan tokoh dengan pikiran paling sehat di dalam seri ini.

Ada banyak sekali tokoh lain, tapi tokoh-tokoh prinsip bisa dikatakan adalah mereka berempat.

Kelak kemudian terungkap bahwa para pilot Eva yang notabene hanyalah anak-anak tidaklah terpilih secara kebetulan. Suatu pihak misterius yang disebut Marduk konon bertanggung jawab atas terpilihnya mereka. Lalu diperkenalkannya tokoh mantan pacar Misato, Kaji Ryoji, kemudian memunculkan indikasi bahwa NERV sama sekali tidak ‘seterhormat’ seperti yang tampak pada permukaan. Hal ini membawa kita pada pertanyaan soal mengapa para Angel terus-menerus menjadikan Shin Tokyo 3 sebagai sasaran, yang membawa kita pada pertanyaan lain soal apa peran sesungguhnya dari unit-unit Eva, yang bisa jadi sebenarnya bukan sekedar ‘mesin’ belaka.

Semacam Harapan Terakhir

Meski berbagi unsur-unsur yang mirip, NGE sulit untuk dikategorikan sebagai cerita super robot. Ceritanya yang kerapkali intens oleh emosi (atau sepenuhnya sebaliknya) dihias oleh realisme teknologi yang membuatnya lebih mendekati genre real robot. Adegan-adegan pertempuran melawan setiap Angel, serta adegan-adegan pelatihan dan persiapan yang dilakukan sebelumnya, senantiasa memberi kesan karena tingkat kekreatifitasan yang senantiasa ditampilkan di dalamnya. Tapi elemen-elemen aksi tersebut memudar di pertengahan seri saat plot berkembang semakin berat ke arah psikologis, yang seolah berusaha menggambarkan rentannya perasaan yang dialami para tokohnya.

Ide cerita Evangelion yang berat dan aneh berawal dari depresi yang melanda sang sutradara sekaligus pencetus cerita, Anno Hideaki, yang sampai-sampai membuatnya harus dirawat di rumah sakit jiwa. Selama dirawat di RSJ itulah, beliau menyusun konsep cerita Evangelion(!), yang kemudian menjadi harapan terakhir studio animasi Gainax yang akhirnya menyelamatkannya dari kebangkrutan.

Keadaan budget rendah inilah yang menjelaskan kualitas animasi luar biasa setara movie yang Evangelion miliki di episode-episode awal terus menurun hingga menjelang akhir, serta nuansa cerita yang berubah secara radikal seiring dengan kendala-kendala yang dihadapi selama proses produksi (suatu hal yang memicu kontroversi luar biasa dari berbagai penggemar). Akibatnya, versi seri TV Evangelion berakhir dengan cara yang… tidak wajar, yang kemudian menuai kontroversi di kalangan banyak penggemarnya.

Kesuksesan itu pulalah yang kemudian mendorong Gainax untuk meluncurkan dua film layar lebar yang menjadi ‘penuntas’ seri ini, Evangelion: Death and Rebirth serta The End of Evangelion. Death and Rebirth merupakan penceritaan ulang berbentuk kompilasi dari seri TV-nya, dengan bagian akhir cerita yang diubah. Sedangkan The End of Evangelion memaparkan tamat sesungguhnya(?) dari seri ini yang ternyata sangat apokaliptik.

Dari konsep awalnya, yang semula hendak membuat sesuatu yang mirip Space Runaway Ideon, NGE berkembang menjadi sesuatu yang lain sama sekali akibat muatan psikoanalisis dan filsafatnya.

Tapi terlepas dari segala kontroversinya, NGE menuai kesuksesan luar biasa dan menjadi seri pertama yang terpilih sebagai anime favorit selama tiga tahun berturut-turut (sebuah prestasi yang baru bisa disamai bertahun-tahun berikutnya oleh Code Geass). Ayanami dan Asuka hingga kini menjadi tokoh yang populer di kalangan penggemar bahkan sesudah lewatnya satu dasawarsa semenjak kemunculan perdana mereka.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada banyak sekali side-story dan produk sampingan yang dibuat, baik yang memiliki relevansi dengan cerita aslinya atau tidak. Tapi baru pada tahun-tahun belakangan ini saja, franchise ini dirilis ulang sebagai sesuatu yang sama sekali baru, dalam bentuk rangkaian film layar lebar di bawah nama proyek Rebuild of Evangelion, yang merupakan penceritaan ulang dari cerita aslinya dalam nuansa yang diharapkan lebih positif (ya, ceritanya akan berbeda, terutama dengan kemunculan tokoh baru, Makinami Mari Ilustrious).

Detil lebih lanjut tentang seri ini, mungkin lebih baik dicari sendiri.

Sedikit info tambahan, bagi mereka yang mengharapkan penyelesaian cerita secara tuntas, adaptasi manga buatan Sadamoto-sensei adalah versi seri ini yang paling direkomendasikan. Adaptasi ini diterjemahkan di Indonesia oleh penerbit mnc, walau saat tulisan ini kuedit, mencari edisi lengkapnya sudah agak-agak sulit. (Ini terutama mempertimbangkan betapa serialisasi versi manga ini berlangsung sampai belasan tahun.)

Perlu kusinggung juga, versi anime dari seri ini bisa jadi merupakan karya yang ‘cacat’ sebagai cerita, dan mungkin berakhir tak memuaskan bagi sejumlah orang. (Shinji tak benar-benar sepenuhnya berhasil bangkit dari keterpurukannya, misalnya.) Tapi seri ini menggambarkan secara apik suatu kondisi pribadi dengan cara yang sebelumnya tak terbayangkan orang. (Soal depresi kejiwaan.) Lalu karenanya, sampai kinipun, waralabanya terbilang istimewa.


About this entry