Bungaku Shoujo

Sial, aku sudah lama pengen menulis tentang ini. Tapi baru sekarang keinget untuk melakukannya.

Bungaku Shoujo adalah seri light novel yang menuai cukup banyak tanggapan positif selama beberapa tahun lalu. Adaptasi animasi dari buku pertama seri ini dijadwalkan keluar tahun ini dalam format layar lebar. Genrenya sendiri agak lebih berat ke drama misteri, tapi bukan jenis drama misteri seperti yang ada di serial-serial detektif. Makanya ngehasilin suatu kombinasi yang rada-rada unik. Penulisnya adalah Nomura Mizuki sementara gambar-gambar ilustrasi dengan sapuan  cat airnya yang menawan dibuat oleh Takeoka Miho.

Soal ceritanya sendiri, Bungaku Shoujo (yang gampangnya berarti ‘cewek sastra,’ tapi kayaknya istilah ini dalam bahasa Jepang mengandung implikasi makna lain) berkisah tentang kehidupan cowok remaja bernama Konoha Inoue, yang sebetulnya merupakan identitas asli dari novelis bishoujo misterius Konoha Miu, bersama kakak kelasnya di Klub Literatur, Amano Tooko-senpai.

Dikisahkan bahwa beberapa tahun sebelumnya, novel roman remaja karangan ‘Miu’ yang sekaligus merupakan satu-satunya karya yang pernah ia terbitkan, menggegerkan dunia penerbitan dengan menjadi megabestseller. Bukan hanya dikenal karena ceritanya yang begitu menghanyutkan, novel ini juga menarik banyak perhatian karena konon ditulis oleh seorang remaja cewek manis berusia empat belas tahun, yang sekaligus menjadi pemenang termuda yang pernah ada dalam lomba penulisan di mana novel tersebut disertakan. Yea, novel iseng yang Konoha tulis dan ikutkan dalam lomba tersebut dipasarkan oleh penerbit seolah yang menulis adalah seorang cewek yang identitas aslinya dirahasiakan, dengan alasan karena dipandang akan lebih menjual.

Sesudah meraih banyak perhargaan, diadaptasi ke bentuk film layar lebar, serial drama TV, dan bahkan manga, Konoha mengalami breakdown akibat ketenaran tiba-tiba yang ia dapatkan, sebab ada suatu latar belakang lain yang menjadi dasar sesungguhnya dari novel yang ia tulis…

Keluarga Konoha memang singkat kata menjadi kaya mendadak. Nama samaran Konoha memang jadi dikenal secara nasional. Tapi semua perkembangan ini malah berujung dengan suatu insiden sangat buruk yang akhirnya mentraumatisasi Konoha untuk selama-lamanya. Ia sempat berhenti bersekolah untuk waktu yang cukup lama, dan akibat kejadian ini, ia merasa dirinya takkan pernah sanggup menulis lagi..

…sampai akhirnya ia bertemu Amano Tooko, sang bungaku shoujo yang sesungguhnya, di tahun pertamanya di SMA.

“Aku hanyalah seorang siswi SMA biasa yang kebetulan saja memiliki kecintaan lebih terhadap sastra.”

Konoha pertama berkenalan dengan Tooko-senpai di bawah sebuah pohon pada suatu hari yang cerah, saat Konoha tanpa sengaja menyaksikan Tooko-senpai dengan santainya merobek lepas halaman-halaman novel yang tengah dibacanya dan kemudian memakannya. Tooko-senpai yang menyadari dirinya diawasi seketika menkonfrontasi Konoha yang masih syok dan menyeretnya menjadi anggota Klub Literatur di mana dirinya menjadi ketua, dengan maksud agar Konoha tak memberitahu siapa-siapa perihal apa yang baru disaksikannya tersebut.

Usut punya usut, Konoha akhirnya memahami bahwa Tooko-senpai adalah semacam ‘siluman’ pemakan cerita. Mulutnya tak bisa merasakan apa-apa selain ‘emosi’ yang terkandung dalam tulisan yang tertera pada kertas-kertas yang ia makan secara harfiah. Seperti manisnya cinta pertama seperti yang ada dalam novel-novel roman, atau pahitnya kehidupan dalam cerita-cerita tragedi.

(Tapi Tooko-senpai akan marah setiap kali dirinya disebut sebagai siluman. Lagipula tak pernah jelas apakah dirinya benar-benar siluman selayaknya Inu Yasha atau bukan. Tapi tetap saja, sosok yang cuma bisa makan cerita dalam kertas logikanya adalah siluman ‘kaan?! Kurang lebih seperti itu.)

Tooko-senpai dengan cepat melihat bakat menulis yang Konoha miliki, dan akhirnya memaksanya untuk menuliskan suatu cemilan untuknya setiap pulang sekolah, entah itu dalam bentuk puisi atau cerpen.

Plot utama Bungaku Shoujo bermula sekitar setahun sesudah pertemuan pertama mereka. Anggota Klub Literatur tetap hanya terdiri atas mereka berdua. Namun kegiatan menulis sebuah cerita atau puisi untuk kemudian dimakan Tooko-senpai setiap hari kini sudah menjadi bagian dari kehidupan rutin Konoha.

Tanpa sepengatahuan Konoha, Tooko-senpai rupanya telah memasang sebuah kotak pos di halaman sekolah secara diam-diam, yang ia gunakan untuk menerima request dari para murid untuk pembuatan surat cinta, puisi, konsultasi, atau apalah bagi mereka-mereka yang kebetulan sedang memiliki masalah dengan cinta. Dari sinilah alur cerita lazimnya akan berkembang.

Buku pertama Bungaku Shoujo mengisahkan tentang permohonan penulisan surat cinta dari seorang gadis kelas satu manis bernama Takeda Chia, yang permohonannya tersebut melibatkan Konoha dalam pemecahan suatu teka-teki masa lalu yang keberadaannya di luar dugaan begitu mengingatkan Konoha akan pengalaman buruknya sendiri yang dengan sekuat tenaga berusaha ia lupakan.

Sejauh yang udah kubaca, tokoh-tokoh lain yang menonjol meliputi Kotobuki Nanase, teman sekelas perempuan Konoha yang bisa jadi adalah tsundere, tapi sejauh ini menjadi pengingat Konoha akan kenangan buruknya di masa lalu lewat sikap nyaris-memusuhi yang ia tampilkan; serta Himekura Maki, teman seangkatan Tooko-senpai sekaligus cucu dari ketua dewan sekolah yang dengan sedikit balas budi bisa menjadi semacam informan bagi duo Klub Literatur di atas. Seorang gadis bernama Asakura Miu juga seringkali disebut-sebut dalam cerita, yang nampaknya memiliki andil dalam sebuah kejadian penting di masa lalu Konoha.

(Ya, dan Tooko-senpai adalah seorang pettanko.)

“Setiap orang pasti memiliki hal memalukan yang ingin mereka rahasiakan dari orang lain. Akan kusimpan semua rahasia ini dalam lubuk hatiku yang terdalam.”

Sepanjang cerita, kepada pembaca akan disajikan beragam referensi terhadap berbagai sastrawan terkenal baik dari Jepang maupun dari negeri lain. Aspek ‘sastra’ dalam cerita ini secara menyeluruh menjadi bagian yang integral dari plot. Hal inilah yang membedakan Bungaku Shoujo dari cerita-cerita misteri detektif. Karena alih-alih proses pendekatan deduksi dan pertimbangan setiap kemungkinan, yang menggerakkan plot di Bungaku Shoujo hanyalah pertanyaan ‘Lalu apa selanjutnya yang terjadi?’

Narasi orang pertama dari Konoha juga kerap kali menggunakan gaya bahasa yang begitu menggugah emosi. Bila membaca novel ini, kita entah bagaimana sampai bisa dibuat mikir, ‘Kok bisa-bisanyaa aku enggak pernah ketarik ama sastra sebelumnya?’

Eniwei, bila menilainya dari sudut pandang lain, Bungaku Shoujo seperti halnya karya-karya sastra yang disinggung di dalamnya menghadirkan cerita drama yang teramat dramatis tentang pribadi dan kehidupan manusia yang sudah tentu hanya akan menarik bagi sebagian orang (mulai dari Souseki, Akutagawa, hingga Galico dan Chekov). Tapi keunggulan utama Bungaku Shoujo terletak pada bagaimana cerita ini mengemas semua drama tersebut dalam bentuk yang nge-pop dan relatif mudah bisa dicerna orang. (Hei! Bahkan ada tsundere, pettanko, dan sedikit fanservice di dalamnya! Semua itu ada saja sudah termasuk luar biasa!)

Ya, dengan demikian, adaptasi animasi layar lebarnya memang menjadi salah satu yang paling diminati pada tahun ini. Tentu saja, aku juga termasuk salah seorang yang menantikannya.

Lalu iya, tanpa diragukan lagi, ini sungguh merupakan salah satu ranobe terbaik yang pernah kubaca.


About this entry