Umineko no Naku Koro ni (end)

Berlatar di tahun 1986, sesudah bertahun-tahun sengaja menjauhkan diri, Battler Ushiromiya kembali ke rumah utama keluarga Ushiromiya di pulau terpencil Rokkenjima untuk menghadiri rapat perihal pembagian harta warisan sekaligus penentuan kepala keluarga Ushiromiya yang baru, bersama ayah kandung dan ibu tirinya, Rudolf dan Kyrie. Kakek Battler, Kinzo Ushiromiya, kepala keluarga Ushiromiya saat ini, tengah dilanda penyakit keras dan diperkirakan takkan hidup lama lagi. Karena itu, sebagai keluarga kaya-raya yang terpandang dan berpengaruh dalam dunia percaturan bisnis, penetapan siapa yang akan menjadi penerus Kinzo dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Namun, apa yang semula direncanakan sebagai acara keluarga biasa tersebut dengan segera berubah menjadi mimpi buruk saat serangkaian kejadian aneh tiba-tiba terjadi. Hadirnya sepucuk surat misterius dari seseorang yang mengaku bernama Beatrice, wanita misterius yang konon meminjamkan emas sebagai modal usaha kepada Kinzo, dengan segera disusul insiden pembunuhan yang memakan korban dari pihak anggota keluarga maupun pelayan.

Battler dan sepupu-sepupunya, yang berada di pulau ini hanya karena keikutsertaan mereka bersama orangtua masing-masing, dengan segera menyadari bahwa intrik yang telah lama ada di tengah keluarga mereka sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih dalam dari yang mereka sangka. Semua berawal berpuluh tahun lalu dan terkait dengan asal-mula kekayaan keluarga Ushiromiya, yang berhubungan dengan sebuah perjanjian yang pernah dilakukan dengan seorang penyihir…

The mysterious words make the witches smirk…

Jika yang kau bayangkan adalah drama misteri pembunuhan, maka apa yang kau bayangkan sebenarnya agak salah. Bahasan Umineko no Naku Koro ni (yang berarti ‘Tatkala Camar Menangis’) berkembang sedikit lebih dalam daripada itu. Masih diangkat dari ‘sound novel’ buatan 07thExpansion, Umineko menawarkan sesuatu yang sebenarnya ‘lebih dalam dari apa yang dari luar terlihat’ tapi dengan cara yang sedikit berbeda dari apa yang dulu Higurashi no Naku Koro Ni lakukan.

Baca pelan-pelan ya, karena ini agak memusingkan.

Pada episode-episode awal, dengan segera kita akan mengetahui bahwa mereka yang meninggal dibunuh sebagai korban persembahan bagi Beatrice. Rangkaian pembunuhan itu dilakukan sebagai semacam bentuk pembayaran atas emas yang pernah ia berikan pada Kinzo dulu. Sesudah semua ritual pengorbanan usai, Beatrice akan “bangkit kembali sebagai penyihir dengan nama yang diagungkan oleh semuanya, kemudian pintu ke ‘Negeri Emas’ akan sepenuhnya terbuka.”

Satu-satunya jalan bagi para calon korban untuk selamat katanya adalah dengan menemukan sendiri emas yang telah Kinzo sembunyikan, kemudian  mengembalikannya pada Beatrice. Hanya saja Kinzo, yang menjadi satu-satunya orang yang semestinya tahu di mana emas tersebut berada, secara misterius telah menghilang…

Battler, tokoh sentral cerita, yang hingga menjelang ajalnya menolak untuk percaya bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan bukan oleh tangan manusia (dalam hal ini, melalui kekuatan supernatural), kemudian diseret oleh Beatrice ke suatu alam dimensi lain di mana ia kemudian dipaksa Beatrice untuk membuktikan pendirian realis yang ia pegang.

Beatrice mengajak Battler untuk melawannya dalam suatu permainan ajaib, di mana mereka me-reka ulang pembunuhan-pembunuhan yang baru terjadi dengan penambahan berbagai faktor baru. Sasaran Beatrice: membuat Battler mengakui bahwa semua pembunuhan yang sebelumnya terjadi, beserta pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemudian dalam permainan reka ulang yang mereka mainkan, sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia biasa. Sedangkan sasaran Battler: membuktikan sebaliknya; bahwa sekalipun terlihat mustahil, semua itu memang bisa dilakukan dengan tangan manusia.

Semua ini dilakukan karena keinginan Beatrice untuk membuka pintu ke Negeri Emas gagal tercapai akibat Battler yang masih belum sudi ‘mengagungkan namanya’ sebagaimana ketentuan yang telah dibuat.

Menyaksikan permainan mereka adalah dua orang penyihir lain: Bernkastel, yang memiliki kuasa terhadap segala bentuk keajaiban; dan Lambdadelta, yang menguasai segala yang bersifat absolut. Perlu diperhatikan bahwa Bernkastel dan Lambdadelta masing-masing memiliki wajah yang mirip sekali dengan kedua tokoh Furude Rika dan Takano Miyo dari Higurashi. Terlebih lagi diceritakan bahwa Lambdadelta tengah sebal pada Bernkastel, karena dirinya yang selama ini tak pernah kalah baru saja takluk oleh Bernkastel dalam permainan mereka yang terakhir.

Demi memenangkan permainan aneh ini, kecerdasan, pendirian, serta ketabahan Battler berulangkali sampai diuji. Tapi bahkan Beatrice pun tidak memiliki kendali terhadap perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam permainan mereka berdua. Bersama setiap babak baru, terbuka pula kemungkinan-kemungkinan baru yang selanjutnya semakin mempengaruhi permainan mereka ke depan.

Pertanyaan terakhirnya adalah…’Siapakah Aku?’

Jujur saja, pada saat aku menonton ini, pertanyaan yang semula hanyalah: ‘Apakah Beatrice benar-benar ada?’ atau ‘Apa iya emas itu betulan ada?’ dengan segera berubah menjadi ‘Ini maksudnya apaan sih?!’ seiring dengan semua perkembangan cerita yang terjadi. Sebab meski yang di atas terdengar menarik, cerita ini ternyata tidak hanya berkisar soal permainan antara Beatrice dan Battler saja.

Melalui permainan ini (yang di dalamnya ada ‘Battler lain lagi,’ yang terlepas dari Battler yang sedang bermain melawan Beatrice, jadi semacam avatar-nya gitu), terungkap berbagai kenyataan mengejutkan tentang masing-masing anggota keluarga Ushiromiya, seringkali dalam bentuk flashback. Dari sini cerita seringkali menjadi lebih berat ke sisi drama, dengan plot yang agak tangensial dengan plot utama. Karena itu, mengingat maksud semua pembeberan ini belum jelas adalah apa, para penonton yang kurang bisa menyimak apa yang terjadi dengan mudah akan menjadi bosan.

Di sisi lain, ada banyak visualisasi berdarah-darah dan permainan sihir yang menyala-nyala, membuat orang-orang yang menyukainya lumayan tertarik. Apalagi tokoh-tokoh baru yang muncul belakangan (yang… uh, ‘bukan manusia’) seringkali mengenakan outfit yang lumayan revealing. Jadi para penonton yang menyukai sedikit fanservice atau butuh inspirasi untuk membuat doujin juga kurang lebih akan menikmatinya.

Terlepas dari itu semua, Umineko adalah seri yang lumayan menarik. Karena diangkat dari ide yang dari awalnya sudah orisinil, seri ini lumayan ‘beda’ dari seri-seri anime lain yang pernah ada. Kenyataan itu saja menurutku sudah cukup untuk membuatnya layak ditonton.

Alliance of the Golden Witch

Di akhir seri, Battler memang berhasil mematahkan serangan-serangan Beatrice dengan memunculkan argumen yang menunjukkan bahwa semua pembunuhan bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tapi hingga akhir, masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Seperti halnya Higurashi yang mendapatkan jawaban-jawabannya dalam bentuk Higurashi Kai, Umineko memiliki Umineko no Naku Koro ni Chiru yang menjelaskan semua teka-teki dengan memberikan sudut pandang berbeda berkenaan semua hal yang telah terjadi, termasuk permainan antara Battler dan Beatrice.

Hingga saat tulisan ini dibuat, pembuatan rangkaian seri sound novel Umineko Chiru masih berlanjut. Jadi kurasa masih bakal agak lama sampai versi adaptasi anime Umineko Chiru akan muncul. Bagaimanapun, kalau sudah menonton hingga akhir dan dibiarkan penasaran seperti ini, rasanya agak merana juga.

Penilaian

Konsep: S; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

(BTW, sebelumnya aku memang bermaksud mengulas ini per babak, tapi perkembangan cerita yang berlangsung di dalamnya membuat aku malas melakukannya)


About this entry