Bakemonogatari

Cerita anime ini agak sulit dijelaskan.

Araragi Koyomi adalah seorang remaja kelas III SMA yang kebetulan saja pernah menjadi vampir.

Sekali lagi, pernah. Sekarang, dia sudah bukan vampir lagi.

Tapi meski kini sudah kembali menjadi seorang remaja ‘manusia’, Koyomi tak pernah sepenuhnya menjadi ‘manusia normal’ kembali. Karena suatu alasan, sepersepuluh bagian dirinya tetaplah seorang vampir. Efek samping hal tersebut meliputi daya pulih tubuh yang dipercepat, indera-indera yang menjadi lebih tajam, serta ketakutan berkala terhadap sinar mentari pagi.

Lalu pada suatu hari, saat datang terlambat ke sekolah, Koyomi secara kebetulan menangkap seorang gadis cantik yang terjatuh dari langit.

“Kau benar-benar tahu segalanya ya, Hanekawa-san!”

Yah, oke. Bukan ‘dari langit’ secara harfiah banget. Lebih tepatnya, dari lantai atas yang Koyomi hendak tuju. Gadis itu terpeleset dari tepi tangga karena tak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan. Terkejut, Koyomi bergegas menangkapnya sebelum gadis itu terluka. Tapi kemudian ia menyadari adanya satu hal mengherankan.

Gadis cantik itu, yang bernama Senjougahara Hitagi, yang selama tiga tahun ini telah menjadi teman sekelasnya di SMA,  yang meski demikian belum pernah sekalipun diajaknya bicara karena berbagai alasan, ternyata memiliki tubuh yang secara abnormal teramat sangat ringan.

Senjougahara Hitagi ternyata adalah seorang gadis yang hampir-hampir tak memiliki berat.

Penasaran akan kenyataan mengejutkan ini, sepulang sekolah (mungkin) pada hari yang sama, Koyomi, yang juga menjabat sebagai wakil ketua kelas, kemudian bertanya tentang Hitagi pada salah seorang teman sekelasnya yang lain, si gadis ranking satu sekaligus ketua kelas yang serba tahu, Hanekawa Tsubasa, yang kebetulan pernah satu SMP dengan Hitagi dulu. Hanekawa kemudian menjelaskan apa yang diketahuinya tentang Hitagi. Soal bagaimana gadis populer yang dulu menjadi bintang atletik itu sudah berubah drastis semenjak pertama masuk SMA dulu lah, bagaimana dia dia jadi sering absen dari sekolah karena sakit-sakitan lah, jadi menutup diri dan tak bergaul, dsb dsb.

Merasa sudah terlalu lama berada di sekolah sementara dirinya masih memiliki janji lain, Koyomi kemudian berpamitan pada Tsubasa dan pulang duluan. Tapi begitu ia melangkahkan kaki keluar kelas, sebilah mata pisau cutter tahu-tahu disumpal masuk ke dalam mulutnya. Lalu dengan ngeri Koyomi melihat, berdiri di samping pintu kelas, memelototinya dengan mata mengancam, tak lain tak bukan adalah Senjougahara Hitagi sendiri.

“Bukannya aku tahu segalanya, kebetulan saja aku tahu soal ini.”

Hitagi dengan tegas memperingatkan Koyomi untuk berhenti bertanya-tanya tentang dirinya. Singkatnya, Koyomi ia wajibkan merahasiakan segala sesuatu perihal berat tubuhnya pada orang lain. Sebab jika tidak, Hitagi akan lebih dari sekedar mengiris bagian dalam mulutnya saja.

Tapi Koyomi, yang punya gambaran tentang wujud sesungguhnya dari masalah yang Hitagi alami, kemudian dengan nekat menunjukkan bukti bahwa ia pernah mengalami hal serupa (dalam hal ini, menjadi vampir…). Lalu ia berkata pada Hitagi bahwa dirinya mungkin bisa membantunya menemukan solusi terhadap masalah yang dia hadapi.

Hitagi kemudian dengan enggan mengikuti Koyomi ke sebuah gedung sekolah terbengkalai, untuk menemui Oshino Meme, seorang pria lusuh yang tampangnya sama sekali tak seimut namanya. Tak jauh dari tempat Oshino-san berada, terdapat juga seorang anak perempuan manis berambut pirang bernama Oshino Shinobu. Saat Hitagi bertanya perihal ekspresi aneh gadis itu, Koyomi hanya bilang agar dia tak usah terlalu diperhatikan. Jadi biarlah kita tak membahas Shinobu-chan secara mendalam dulu untuk saat ini.

Ternyata pria misterius yang dipanggil Oshino-san ini  dulu pernah membantu Koyomi dan Tsubasa saat mereka mengalami ‘masalah aneh’ mereka sendiri. Sehingga sesinis apapun sikap dan perilaku Oshino, tetap saja Koyomi merasa hormat dan berhutang budi padanya. Alasan Koyomi membawa Hitagi menemuinya ialah, yah, siapa tahu saja Oshino-san juga punya solusi terhadap ‘masalah berat badan’ yang Hitagi hadapi.

Sesudah mempertimbangkannya untuk beberapa jenak, Hitagi akhirnya setuju untuk membiarkan Oshino-san membantunya. Gadis itu kemudian menjelaskan segala sesuatu tentang awal mula berat badannya menghilang, tentang kepiting misterius yang pada suatu hari ditemuinya di jalan, dan… sedikit banyak tentang masa lalunya yang suram…

“Tadi aku gagap.”

Kalau hanya dari sinopsis singkat itu, agak susah menjelaskan Bakemonogatari itu menariknya di mana. Aku sengaja membatasinya karena tak ingin terlalu memberikan spoiler. Karena daya tarik utama seri ini sebenarnya terdapat pada adegan-adegan percakapannya yang sekilas terlihat biasa-biasa saja.

Bakemonogatari (kombinasi dua kata ‘bakemono‘ + ‘monogatari,‘ yang masing-masing berarti ‘monster, jadi-jadian’ dan ‘cerita’), adalah seri anime yang dibuat berdasarkan light novel karangan Nisio Isin, yang merupakan salah satu penulis LN paling produktif saat ini. Berbeda dari seri detektif Zaregoto yang ditulisnya sebelumnya, dalam Bakemonogatari, Nisio-sensei menghadirkan karater dalam jumlah yang sangaaat minimal. Dengan kata lain, sebenarnya tak banyak yang bisa diceritakan dari ceritanya, karena memang sebenernya tak banyak yang perlu diceritakan. Tapi Nisio-sensei mengoptimalkan keterbatasan karakter ini dengan mengeksplorasi sifat-sifat mereka secara penuh.

Ini memang membuat seri ini terkesan terlalu banyak ‘dialog.’ Tapi kalau kau bisa menikmati dialog-dialog tersebut, maka kurasa kau akan bisa menyukai Bakemonogatari.

Intinya, daya tarik utama seri ini lebih terdapat pada tokoh-tokohnya yang kuat dan dialog-dialog cerdas di antara mereka (sekali lagi, aku beneran enggak kepengen ngebahas lebih lanjut tentang ceritanya karena takutnya terlalu spoiler). Maksudku, bukan pembicaraan-pembicaraan berat yang bikin orang ngerasa kejelimet. Melainkan dialog-dialog yang rada muter-muter ke sana kemari, menyinggung hal-hal yang seringkali enggak perlu terlalu disinggung, diselingi lelucon-lelucon acak yang tiba-tiba nongol, berisi satu-dua sindiran terhadap budaya otaku, sehingga kita, enggak akan bosen ngikutin sekalipun itu cuma percakapan doang.

Dalam perkembangan cerita selanjutnya, plot semakin berkembang dengan diperkenalkannya tokoh-tokoh lain baru yang memiliki masalah-masalah mereka sendiri-sendiri (kebanyakan cewek sih). Sesudah pertemuan Koyomi dengan seorang tokoh baru, Koyomi dengan berpegang pada nasihat Oshino akan membantu mereka menuntaskan masalah supernatural mereka masing-masing. Tapi gaya penceritaan Nisio-sensei yang ‘ajaib’ memberikan Bakemonogatari nuansa tersendiri yang membedakannya dari cerita-cerita lain yang memiliki premis serupa.

Apalagi dengan dipadu dengan gaya visualisasi ‘avant garde’ yang menjadi ciri khas sutradara Akiyuki Shinbo dari studio animasi SHAFT! Hasil yang dicapai ternyata meninggalkan kesan yang lumayan dalam. Padahal tak mudah buatku untuk menerima gaya visualisasi ini pada awalnya loh. Waktu pertama menonton episode pertamanya saja, aku langsung “WTFOMGBBQ?! NAA!” karena langsung teringat pada dua seri anime Ef – A Tale of Melodies dan Sayonara Zetsubou Sensei yang memiliki gaya visualisasi serupa, hanya dalam bentuk yang sedikit lebih disturbing (keduanya dihasilkan oleh studio animasi yang sama, soalnya). Tapi ternyata, gaya penggambaran begini cocok juga untuk memaparkan dunia Bakemonogatari yang memang sengaja dikesankan sepi, seolah hanya dihuni para karakter utama saja.

Nisioisin, terlepas dari hobinya memberi para karakter ceritanya nama-nama yang super-duper aneh, memang seorang ahli dalam meramu plot cerita. Sehingga dengan karakter yang jumlahnya tak melebihi sepuluh orang saja, dia sudah bisa membuat cerita yang benar-benar menarik. Ceritanya sendiri kalo dipikir sebenarnya memiliki tema yang agak berat. Tapi cara penceritaannya yang ringan dan tokoh-tokohnya yang rada ada-ada saja itu dengan gampang bisa membuat kita jatuh cinta setiap kali kita ikutin (aku selalu ngakak tiap kali jambul di kepala Koyomi dipakai sebagai bentuk penggambaran perasaannya).

Yea, emang perlu waktu dikit buat bisa nikmatin mengingat semua anime keluaran SHAFT rada-rada aneh. Tapi kau akan benar-benar menikmatinya begitu kau mulai kebiasa.

Cerita yang Belum Kau Tahu

Bakemonogatari secara menyeluruh terdiri atas 15 episode. Tapi hanya 12 episode saja, yang memaparkan kisah cinta yang terjalin antara Koyomi dan Hitagi, yang ditayangkan di televisi. Tiga episode sisanya, yang dengan demikian berarti tamatnya yang sesungguhnya, dirilis belakangan dalam bentuk ONA melalui Internet.

Keputusan yang aneh, memang. Tapi mungkin lebih baik jika kita tak terlalu pikirkan. Terlebih bila kita mengingat bahwa novel asli Bakemonogatari memiliki rangkaian prekuel dan sekuelnya sendiri. Kizumonogatari misalnya, mengisahkan awal pertemuan Koyomi dengan Shinobu (dalam satu episode panjang yang dinamai ‘Koyomi Vamp’). Novel sekuel Nekomonogatari mengisahkan lebih banyak tentang masalah yang dialami Tsubasa, dan sebagainya. Dari gelagatnya, cerita-cerita tambahan tersebut tampaknya juga akan dianimasikan pada suatu saat nanti.

Dengan banyak lagu pembuka dan satu lagu penutup yang agak sulit kulupakan, Bakemonogatari menjadi salah satu seri paling unik yang pernah aku tonton.

Seri ini juga menjadi yang pertama dari rangkaian kampanye animasi Nisioisin yang dilancarkan penerbit (dsb) Kadokawa. Seri Nisio-sensei selanjutnya yang akan dianimasikan adalah Katanagatari, dijadwalkan untuk tahun 2010.

Terus terang saja, sesudah menonton Bakemonogatari, aku juga jadi tertarik untuk tahu lebih jauh tentang karya-karyanya yang lain.

Bagi mereka-mereka yang lebih merhatiin perkembangan tokoh daripada cerita, Bakemonogatari merupakan sesuatu yang wajib buat ditonton! Ah, tapi itupun kalau kau tak berkeberatan dengan gaya fanservice-nya yang agak aneh.

Penilaian (sampai episode 12)

Konsep: B; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A


About this entry