Guin Saga

Guin Saga itu seri yang aneh. Sangat aneh. Baik apakah kita ngomongin adaptasi anime-nya ataupun versi novel aslinya.

Tapi Guin Saga itu legendaris.

Seri novelnya yang mencapai lebih dari 100 buku bisa dibilang salah satu pelopor generasi light novel.

Tanpa Guin Saga, mungkin Miura Kentaro takkan pernah terinspirasi untuk membuat Berserk. Dan enggak bisa dipungkiri lagi kalo udah ada banyak penghargaan yang seri ini pernah terima. Almarhumah Kurimoto Kaoru sebagai pengarang mungkin mendapat penilaian aneh di mataku karena kesukaannya terhadap yaoi. Tapi kapasitasnya sebagai pengarang benar-benar enggak bisa dipandang sebelah mata.

Jadi, begitu aku denger Guin Saga akan dibikin adaptasi anime-nya, aku lumayan excited juga. Aku sudah lama pengen tahu tentangnya. Tapi info yang bisa kudapat di Internet tentang Guin Saga sebelum anime ini dirilis lumayan terbatas. Dan aku agak ngebayangin ini bisa nyaingin kualitas OVA Record of Lodoss War yang hingga kini masih dianggap sebagai anime fantasi paling bagus yang pernah ada.

Tapi ternyata… yang aku dapetin ini sesuatu yang sama sekali di luar dugaan.

Semoga bimbingan Jarn menyertaimu…

Cerita dibuka dengan diserangnya Crystal, ibukota Kerajaan Parros, oleh pasukan tentara negara Mongaul. Raja dan ratu baik hati bersama semua orang lain di istana tewas terbantai dalam serangan ini. Sebelum wafat, mereka semua berusaha meloloskan si kembar Putri Rinda dan Pangeran Remus yang baru menginjak awal usia remaja.

Dengan menggunakan sebuah mesin kuno yang terkubur di bawah Crystal, upaya untuk menteleportasi mereka ke negara tetangga sepertinya akan berhasil. Tapi sebuah hal yang tak terjelaskan kemudian terjadi, yang menyebabkan koordinat sasaran teleportasi mereka melenceng jauh dari sasaran.

Kini, si kembar ini terdampar di Roodwood, sebuah kawasan hutan liar yang terletak di tepi kawasan gurun yang lebih liar lagi: Nospheros, di mana makhluk-makhluk yang keberadaannya saja tak berani diucapkan banyak berkeliaran. Dan mereka hampir saja jatuh ke tangan pasukan Mongaul lagi, kalau bukan karena kemunculan tiba-tiba seorang lelaki berkepala harimau: Guin.

Siapa itu Guin?

Pertanyaan bagus. Karena pertanyaan itu akan terus ditanyakan sampai berkali-kali.

Guin adalah… seorang laki-laki kekar bertenaga super dan berkepala harimau. Atau mengenakan topeng harimau… yang topeng harimaunya tak bisa dilepas (sehingga jadi kayak King ato Armor King dari Tekken), dan satu-satunya hal yang bisa ia ingat tentang dirinya adalah namanya sendiri dan kata ‘Aurra’. Dan… uh, ia baru bangun. Lalu mendapati ada sesuatu yang aneh pada kepalanya. Lalu ia tersadar bahwa ia tak ingat apapun tentang dirinya. Lalu ia melihat Rinda dan Remus dalam bahaya, sehingga ia lalu mengamuk, menghajar pasukan tentara Mongaul itu seorang diri, dan menyelamatkan berdua.

Atau kurang lebih seperti itu.

Diamlah. Bagian-bagian awalnya emang aneh banget. Dan sepanjang seri ini dan maksudku adalah hampir di SETIAP episode, ada banyak banget adegan yang menbuatku pengen teriak ‘what… the f***?!’ karena saking aneh dan tiba-tibanya perkembangan yang terjadi.

Tapi dari awal yang aneh ini, ceritanya entah gimana berkembang menjadi jauh lebih menarik, menjadi sesuatu yang jauh, jauh, jauh lebih besar dari apa yang tampak di permukaan. Asal kau enggak keberatan dengan semua keanehan ini, Guin Saga merupakan sebuah kisah tentang takdir, kesungguhan hidup, serta impian dan cita-cita yang dapat melarutkan siapapun yang mengikutinya.

This is my road… aruite yuku

Keunggulan terbesar dari Guin Saga, sekaligus mungkin kelemahan terbesarnya, adalah bagaimana seri ini menawarkan sesuatu yang sejauh aku tau sama sekali enggak akan ditemui di anime lain: dramatisasi; dan yang kumaksud di sini bukan dramatisasi ga penting berlebihan ala di sinetron-sinetron gitu. Melainkan dramatisasi penuh makna yang tersusun atas monolog-monolog penuh emosi mendalam gitu, yang diiringi irama musik megah, persis kayak di gedung-gedung opera.

Adegan-adegan kolosal yang ada enggak ditampilin ala di film-film Hollywood zaman sekarang. Tapi ditampilin ala pertunjukan di gedung-gedung teater, yang banyak menekankan pada apa yang berlangsung terhadap tokoh-tokoh sentralnya serta adegan-adegan kunci yang mereka alami, sekaligus membatasi semua aksi yang terjadi lebih sebagai latar sampingan yang ga perlu ditunjukin.

Ato dengan kata lain, gaya penggambarannya enggak ngambil dari sudut-sudut perspektif kayak di kebanyakan manga ato anime gitu. Tapi panoramis ala di lukisan-lukisan bersejarah atau buku-buku cerita bergambar! Ini ngehasilin suatu kesan aneh yang belum pernah kuliat sebelumnya gitu, dan penggambaran anehnya yang kayak gini sebelum aku kebiasa hampir ngebikin aku jadi gila! Tapi lalu plot ceritanya yang terjalin secara apik kemudian membuatku bertahan, hingga akhirnya aku mesti mengakui kalo ini salah satu anime dengan jalinan plot paling bagus yang pernah ada. Masing-masing karakter punya motivasi dan kepentingannya sendiri-sendiri, yang dijelasin secara tersusun dan lugas.

Singkat kata, dalam bahasa Inggris, buat yang merhatiin, cerita Guin Saga itu sangat intriguing. Ngebuat kamu pengen tau terus apa selanjutnya yang akan terjadi. Para penggemar drama ato segala sesuatu tentang relationship pasti bakal jatuh cinta.

Ada lumayan banyak tokoh yang ditampilin untuk sebuah seri anime berdurasi 26 episode. Tapi tokoh sentralnya tetap cuma enam:

  • Guin, yang berusaha menyingkap jati dirinya dengan menolong mereka yang tertindas lewat kepahlawanan dan kebijaksanaannya
  • Rinda, gadis bersifat penyayang yang mampu melihat kejadian-kejadian di masa depan
  • Remus, bocah lembut cengeng yang meski tak setenar saudarinya, akan bangkit pula bakat-bakatnya sebagai pemimpin menjelang pertengahan seri.
  • Istovan; seorang ahli pedang muda yang percaya bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi seorang raja akibat sebuah ramalan di masa lalu, yang kemudian meyakini bahwa pertemuannya dengan Rinda dan Remus merupakan pertanda bahwa takdirnya mulai bergerak.
  • Amnelis, putri sekaligus ksatria negeri Mongaul, yang pada awal cerita memimpin pengejaran terhadap Rinda dan Remus, namun kelak ditakdirkan menjadi salah satu penyebab kehancuran bagi negaranya sendiri.
  • Aldo Narris, pangeran Parros, sepupu Rinda dan Remus sekaligus tunangan Rinda, yang dengan kerupawanan, kecerdasan dan hatinya yang dingin memimpin pemberontakan untuk merebut Parros kembali. Ia dipandang oleh rakyatnya sebagai calon raja yang sesungguhnya..

Lalu ada banyak sekali pertanyaan seputar mereka yang kemudian diungkap: Apa sebenarnya makna ramalam Istovan? Apa sesungguhnya ambisi Aldo Narris? Apa arti ‘aurra’ dan ‘kapal cahaya’ yang tersimpan dalam ingatan Guin?  Peran apa sesungguhnya yang akan si kembar mainkan, yang jadi penyebab mengapa mereka diburu? Rahasia apa pula yang tersimpan di Parros dan Nospheros, yang dengan gigih terus dicari oleh orang-orang Mongaul? Dan terutama, siapakah sesungguhnya Guin? Apakah dia memang titisan sang dewa takdir Jarm? Ataukah dia wujud inkarnasi dari sang iblis, Doal, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang misterius yang disebut-sebut mengenal dirinya?

Anime ini beneran memiliki porsi perkembangan plot dan karakter yang gila untuk ukuran anime 26 episode. Tapi bahkan dengan ukuran perkembangan plot dan karakter  sebesar itupun, hingga akhir seri masih banyak pertanyaan tersisa yang dibiarkan tak terjawab. Mengikuti jalinan ceritanya saja memang sudah memberi keasyikan tersendiri sih. Tapi tetap saja kita jadi agak berharap nanti akan muncul season kedua.

Kita lihat saja ntar.

Hateshinai… tobira koete…

Sebagai anime yang konon ditangani orang-orang yang masih baru, apalagi di tahun 2009 saat jumlah anime yang enggak jelas menjamur di pasaran, keberanian anime ini untuk tampil beda memang patut diacungi jempol. Sayangnya, itu mungkin masih belum cukup untuk mengubah kenyataan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bakal tertarik buat menonton serial ini…

Terlepas dari itu, hal lain yang patut dicatat adalah bahwa musik serial ini ditangani Nobuo Uematsu, yang nada-nadanya yang memukau telah banyak menghidupkan game-game Final Fantasy. Kau mungkin takkan terlalu menyadari kekhasan nada-nadanya, karena musik yang dibuatnya entah bagaimana sampai sedemikian larut ke dalam cerita…

Ah, soal perbandingan semulaku dengan Record of Lodoss War, seri ini ternyata sama sekali engga bisa dibandingkan. Seri ini saking anehnya hampir engga bisa dibandingkan ama seri anime lain manapun. Tapi, mungkin justru di situ sisi bagusnya, karena itu merupakan wujud keakuratannya dalam menggambarkan apa yang berlangsung dalam novel-novelnya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: C+; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: B-;  Kepuasan Akhir: A


About this entry