Turn A Gundam

Turn A Gundam mungkin merupakan seri Gundam terakhir yang masih ‘asli’; dalam artian dibuat langsung oleh sutradara yang menciptakannya sendiri, Yoshiyuki Tomino.(Setidaknya, sebelum Gundam: G no Reconguista keluar di tahun 2014.)

Meski demikian, terdapat jeda panjang antara seri ini dengan seri Kidou Senshi V Gundam yang beliau sebelumnya buat, dan di antaranya sudah ada tiga seri Gundam AU yang telah dibuat orang lain, yakni Gundam G, Gundam Wing, dan Gundam X. Sudah pasti ada pergeseran selera pemirsa dan perubahan paradigma terhadap apa yang disebut sebuah seri anime mecha.

Mungkin itu alasan mengapa ada kesan kalau Turn A Gundam dibuat dengan begitu seenaknya sendiri.

Bumi Itu Luar Biasa!

Meski ‘asli’, seri ini merupakan seri Gundam paling ‘aneh’ yang pernah ada. Alih-alih berlatar futuristis, sebagian besar cerita bertempat di bumi di masa ketika peradaban manusia telah ‘mundur’ ke masa lampau, menjadi kurang lebih sama seperti ketika masa-masa sebelum dimulainya Revolusi Industri.

Alkisah, tanpa sepengetahuan orang-orang bumi, hidup di bawah permukaan bulan, terdapat segolongan manusia yang masih menjalani peradaban canggih yang tersisa dari masa lalu. Kaum ini disebut Moonrace.

Tiga remaja Moonrace: Loran Cehack, Keith Laijie, dan Fran Doll; lalu diutus ke Bumi oleh pemerintahan mereka sebagai ‘mata-mata’ untuk memastikan apakah Bumi sudah menjadi tempat yang layak bagi masyarakat bulan untuk ‘kembali’ atau belum. Tiba di Bumi dengan menggunakan MS FLAT, mereka bertiga berpisah jalan. Loran, sang tokoh utama, kemudian menuju kota Vicinity di negeri Inglessa, benua Ameria, untuk melamar kerja sebagai pekerja di pertambangan milik keluarga Heim.

Sesampainya di sana, Loran lalu berkenalan dengan kedua putri keluarga tersebut yang sebaya dirinya: Kihel Heim dan Sochie Heim. Satu fakta yang mengejutkan adalah bahwa sang kakak, Kihel Heim, ternyata memiliki wajah dan pembawaan yang sama persis dengan pemimpin Moonrace, Ratu Dianna Soriel yang sudah lama Loran kagumi. Loran tak pernah menduga bagaimana kebetulan fenomenal ini kelak akan begitu mempengaruhi nasibnya.

Dua tahun kemudian berlalu.

Loran, berkat kehandalannya menangani mesin, telah naik pangkat menjadi supir pribadi keluarga Heim. Keith telah bekerja sebagai pembuat roti. Fran telah berprofesi sebagai fotografer surat kabar. Ketiganya bertemu kembali di ibukota Inglessa, Nocis, menjelang upacara adat kedewasaan yang sebentar lagi harus Loran dan Sochie jalani sebagai tradisi penduduk Vicinity.

Dalam upacara tersebut, para remaja yang beranjak dewasa akan menari dan menyanyi di bawah naungan patung putih yang mereka puja, White Doll. Namun perayaan tersebut ternyata akan dilangsungkan pada hari yang sama dengan pawai Militia Inglessa di Nocis. Sesudah bertukar kabar, tiga sekawan itu segera memahami bahwa negeri Inglessa konon tengah mempersiapkan diri akan datangnya serangan dari negara asing yang disebut ‘Galia’. Rupanya untuk alasan tersebutlah Militia dibentuk dan senjata-senjata berat ditempatkan di seluruh penjuru Nocis.

Namun di luar dugaan, tanpa sepengetahuan orang-orang awam, negeri Galia yang dimaksud orang-orang ternyata tak lain adalah Moonrace yang datang dari luar angkasa! Pemimpin Inglessa yang masih muda, Guin Sard Lineford, selama dua tahun terakhir rupanya telah menjalin kontak lewat radio secara diam-diam dengan orang-orang bulan. Guin, dengan didorong keinginan untuk mengindustrialisasi negaranya, hanya bersedia memberikan sebagian tanahnya untuk tempat tinggal Moonrace sesudah mereka terlebih dahulu ‘berbagi’ teknologi dengannya.

Perdebatan alot selama dua tahun ini mencapai puncaknya tatkala pasukan Moonrace secara sepihak menyatakan perang dengan menginvasi kota Nocis menggunakan pasukan mobile suit WaDom dan WaD, persis pada malam dilangsungkannya upacara kedewasaan yang diikuti Loran dan Sochie.

Dalam pertempuran yang tak terelakkan lagi, patung White Doll yang Loran dan Sochie panjati tiba-tiba saja bergerak sendiri. Kulit permukaan patung tersebut mengelupas, memperlihatkan sosok sesungguhnya sebagai mobile suit putih yang ‘berkumis’. Mengikuti nalurinya, Loran membimbing Sochie menaiki White Doll yang mekanisme pertahanan diri otomatisnya berhasil memukul mundur pasukan Moonrace…

Faktor Tak Terduga

Kemunculan White Doll menjadi faktor tak terduga yang harus diperhitungkan oleh semua pihak.

Loran, berkat pengetahuannya akan mesin, semakin memahami cara-cara pengendalian White Doll dari ‘laptop’ petunjuk yang ia temukan di kokpitnya. Namun karenanya ia dipaksa Guin untuk bergabung bersama Militia sebagai pilot White Doll, yang nantinya hendak ia gunakan sebagai kartu yang bisa ia mainkan dalam pertarungan diplomasi melawan Moonrace.

Sochie, yang ayahnya terbunuh dalam serangan malam itu, memutuskan untuk turut serta bergabung bersama Militia demi membalas dendam. Sementara Kihel, yang kini sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai sekretaris Guin, masih terjebak bersama ibunya di Nocis dan bahkan masih belum mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Fran ingin mendokumentasikan kejadian-kejadian bersejarah ini dengan memotretnya. Tapi tak ada satupun surat kabar yang bersedia membeli foto-foto karyanya karena mencemaskan intervensi dari salah satu pihak militer. Keith sendiri menolak ikut campur sama sekali dengan segala perselisihan, dan bersikeras menjual rotinya sebagai bahan pangan kepada kedua belah pihak.

Menyaksikan tekad mereka, Loran akhirnya bersedia untuk bergabung bersama Militia agar bisa menggunakan kekuatan White Doll untuk mencegah jatuhnya korban.

Pihak Moonrace sendiri, yang dipelopori tentara Dianna Counter, dengan dipimpin oleh Aji, sama sekali tidak menduga bahwa pihak bumi juga memiliki mobile suit. Karena itu mereka sudi menerima tawaran Guin untuk membuka kembali jalur diplomasi.

Namun pembicaraan damai yang dilangsungkan itu berakhir pahit saat Aji secara misterius terbunuh oleh orang-orang yang menyatakan diri sebagai bagian dari Militia. Wakil Aji, Phil Ackman, mengambil alih peran sebagai pemimpin pihak Moonrace untuk sementara bersama ajudannya, Poe.

Kedudukan Guin menjadi sulit. Namun untunglah ia kembali diselamatkan oleh kedatangan Dianna Soriel sendiri dari bulan, yang tiba bersama pengawalnya yang terpercaya, Harry Ord.

Berbeda dengan sebagian besar orang di sekelilingnya, Dianna rupanya sungguh-sungguh ingin suatu hubungan damai bisa terjalin antara kedua belah pihak. Tapi hubungan mereka sudah terlanjur memburuk. Terlebih sesudah pihak Militia menemukan MS-MS mereka sendiri yang terkubur di wilayah-wilayah yang disebut Mountain Cycle, yang Guin pandang sebagai peluangnya untuk membuka era baru yang dicita-citakannya.

Berkat kesigapan Loran dan Harry, terungkaplah indikasi akan adanya pihak-pihak tertentu yang memang mengharapkan berlangsungnya perang antara pihak bulan dan bumi. Hal ini semakin dipertegas dengan terjadinya beberapa upaya untuk membunuh Dianna. Indikasi ini semakin memuncak dengan dilepasnya penjahat perang berbahaya Corin Nander yang sebelumnya dikurung dalam penjara kriogenik. Pengirimanya ke bumi untuk membantu pihak Moonrace ternyata didalangi sosok misterius bernama Agrippa Maintainer.

Corin yang sudah separuh gila, dengan penuh nafsu memburu White Doll dan bahkan seorang diri menghancurkan kota Nocis demi mencarinya, menyebut-nyebutnya sebagai mimpi buruk yang dulu pernah membinasakan peradaban umat manusia: Turn A Gundam.

Dan Cinta Di Antara Kita Akan Memulihkan Tanah Ini!

Dari ringkasan cerita di atas bisa tertebak bahwa bahwa plot seri ini berjalan jauh lebih lambat dibandingkan seri-seri Gundam lain. Pokoknya, Turn A Gundam secara garis besar lebih banyak berfokus pada bagaimana tiap-tiap karakter di dalam cerita berupaya melakukan sesuatu yang dipikirkannya benar, tapi tanpa sepenuhnya memahami bagaimana implikasi tindakannya tersebut bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan pola seperti inilah, plot sederhana yang dimiliki Turn A Gundam bergerak.

Seperti Eureka Seven, porsi adegan-adegan pertempuran di Turn A Gundam jauh lebih sedikit dibandingkan porsi yang dihabiskan untuk perwatakan tokoh. Bahkan momen ‘perang penentuan besar’ sebagaimana yang biasa ditemukan dalam seri-seri Gundam lain bisa dikatakan absen(!) dalam seri ini. Meski begitu, tak dapat disangkal bahwa sekalipun dengan durasinya yang terbatas, koreografi adegan-adegan pertarungan mecha di Turn A Gundam termasuk salah satu yang paling keren dan detil yang pernah ada. Di mataku sebagai penggemar berat anime mecha, adegan-adegan pertarungannya sangat rame. Tapi sebagai drama komedi dan kehidupan pun, Turn A Gundam sebenarnya sudah lebih dari bagus. Seperti ide-ide ceritanya yang aneh, desain mechanya yang ‘unik’ juga sebenarnya tak jadi masalah, karena lama-lama kita bakal terbiasa dan bahkan menyukainya. Sayang sisi mechanya tak terlalu ditonjolkan, sehingga tak banyak yang bisa kukatakan tentangnya…

Soal mecha-mechanya sendiri, tak dapat disangkal bahwa teknologi yang terkandung di dalamnya mungkin adalah yang tercanggih dalam seri Gundam manapun.

Turn A Gundam, yang desain anehnya seolah menegaskan bahwa ‘MS ini enggak jelas buat apa’, tampil sebagai sebuah MS serbaguna yang Loran kemudian gunakan untuk berbagai urusan, mulai dari membantu-bantu urusan penggalian sampai urusan mencuci pakaian(!). Tapi kecanggihan yang Turn A miliki baru belakangan terlihat, saat Loran dan kawan-kawannya sadar bahwa mecha ini memiliki kemampuan untuk meregenerasi diri sendiri(!). Mecha yang rangkanya ‘kosong’ ini juga digambarkan memiliki tenaga output yang luar biasa (meski tak bisa dibilang bisa terbang, tenaga jet pendorong Turn A setara dengan tenaga jet pendorong sebuah kapal induk) serta keluwesan alami yang tak dimiliki MS-MS lain. Selain sepasang beam saber (pedang sinar) dan beam rifle (senapan sinar) yang opsional, terkandung pula di dalamnya adalah senjata legendaris Moonlight Butterfly yang berupa pelepasan nanomesin berbentuk lapisan serat-serat cahaya berjumlah banyak yang mampu mendisintegrasikan apapun yang disentuhnya. MS ini juga memiliki I-Field penangkal serangan beam yang (tak seperti MS-MS yang ada di era UC) bisa diatur bentuk dan kekuatannya.

MS SUMO, yang digunakan oleh  pasukan pengawal kerajaan Dianna, merupakan jenis  MS lain yang menarik perhatian karena bentuknya yang ‘gempal.’  Di mataku, mecha ini memiliki sisi kerennya tersendiri dengan senjata Heat Fan dan Beam Gun-nya, serta medan I-Field yang dapat dibentuk menjadi senjata. Hal lain yang sangat kusukai adalah SUMO khusus yang Harry gunakan memiliki lapisan permukaan berwarna emas yang berkesan.

Beralih ke MS-MS produksi massal, di pihak Militia gabungan, ada beberapa MS bawah air Kapool yang salah satunya Sochie gunakan serta sepasukan MS serbaguna Borjarnon (yang pada dasarnya merupakan MS Zaku dari seri UC klasik) yang membentuk pasukan utamanya. FLAT yang Loran dkk bawa dan dinamai kembali sebagai High Heel turut diimplementasikan dalam pertempuran berkat fitur ‘permukaan getar’-nya yang secara efektif menangkal hampir semua serangan fisik.

Di pihak Moonrace, selain WaD dan WaDOM, yang tinggi besar seperti menara berjalan dan ceking seperti raptor, juga ada Mahiroo yang menjadi inti pasukan utamanya di luar angkasa serta beberapa MS lain, seperti peluncur misil Zssan (yang merupakan tiruan Zssa) serta Bandit yang dapat digerakkan berpasangan secara otomatis(?).

Turn X Gundam yang Gym temukan, dan menimbulkan efek resonansi aneh dengan Turn A, menjadi mecha aneh yang mampu melepas bagian-bagian tubuhnya sendiri, di mana bagian-bagian tubuhnya tersebut melayang sama-sama dan secara bersamaan menyerang seperti selayaknya bit. Turn X juga memiliki jurus bernama Shining Finger (dari G Gundam) serta memiliki senjata Moonlight Butterfly miliknya sendiri.

Ada banyak mecha lain hasil desain Syd Mead yang memberikan nuansa yang lain dari yang lain untuk sebuah seri mecha. Tetapi karena bentuk-bentuknya yang ‘ajaib’, desain-desain Turn A kalah populer dibandingkan desain-desain mecha seri lainnya, sehingga jarang sekali dibuat model kitnya.

Romantisme Di Balik Pertanyaan Tentang Siapa Sebenarnya Agrippa Maintainer

Pada akhirnya, meski dipandang sebagai seri Gundam paling abnormal, kisah cinta antara Ratu Dianna dan Loran yang menjadi ksatrianya ini tetap berhasil meraih sejumlah penggemar fanatik di seluruh penjuru dunia. Soalnya, memang susah untuk tak jatuh cinta pada setiap tokoh-tokohnya sih. Secara pribadi, aku memang kecewa karena unsur intrik dan pertempurannya tak sebanyak yang semula aku kira. Tapi whew, aku bohong kalau bilang aku enggak puas.

Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah bahwa di sepanjang seri ini, sutradara Tomino sebisa mungkin tidak memperlihatkan adegan-adegan kematian dan pengrusakan secara langsung. Memang ini terasa aneh untuk sebuah seri Gundam, yang di dalamnya seringkali ada adegan-adegan kehancuran besar-besaran dan pembunuhan massal. Apalagi Tomino sendiri dulu terkenal karena pernah menyutradarai adegan hilangnya kepala seorang anak kecil akibat letusan meriam. Tapi mungkin Tomino ingin mencoba memberi suatu warna lain pada karyanya.

Sesuatu yang lebih… optimis dan bernuansa positif.

Kurasa itulah alasan mengapa Turn A Gundam begitu nyaman ditonton; sekalipun ada sedikit bumbu nudity di sana-sini, sebab di balik kesederhanaannya, dilatari keindahan musik Yoko Kanno yang cemerlang, seri ini menyajikan cerita bermakna yang indah buat dikenang.

Oya. Dan aku berharap suatu saat aku bisa cosplay sebagai Harry Ord.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A+; Eksekusi B+; Perkembangan: B-; Kepuasan Akhir: A


About this entry