Kimikiss Pure Rouge

Ada seorang temanku yang mendorongku untuk menonton ini. Aku tak benci seri-seri romantis, tapi aku malas mendekati segala sesuatu yang bernuansa harem. Namun temanku bilang kalau nuansa dalam seri ini mirip dengan gaya penceritaanku yang suka membuat adegan-adegan menggantung saat perasaan para tokohnya tiba-tiba memuncak. Jadi akhirnya aku menontonnya juga.

Dan ternyata, ini sama sekali bukan cerita harem.

Terlepas dari itu, KimiKiss: Pure Rouge (kurang lebih berati ‘ciumanmu’, dengan subjudul berarti ‘warna merah rouge murni’) merupakan adaptasi anime dari game KimiKiss keluaran Enterbrain untuk PS2, yang lumayan berpengaruh pada masanya di tahun 2006. Produksi animasinya dibuat oleh J.C. Staff pada perempat akhir 2007, dengan Kasai Kenichi sebagai sutradaranya dan jumlah total episode sebanyak 24.

Um, Ceweknya Ada… Tujuh?

Inti cerita seri ini adalah tentang jalinan romansa antara… uh, sejumlah siswa-siswi SMA. Nuansanya entah mengapa banyak mengingatkanku akan Boys Be atau Salad Days, hanya saja menggunakan tokoh-tokoh tetap dan alur cerita yang berkelanjutan.

Ada tiga sekawan yang dulu menjalani masa kecil bersama-sama: dua sahabat Sanada Koichi dan Aihara Kazuki, serta gadis yang setahun lebih tua dari mereka, Mizusawa Mao.

Kisahnya, Mao-nee yang baru pulang dari Perancis tiba-tiba saja muncul di halaman rumah Koichi dan memperlihatkan bagaimana dirinya telah berevolusi dari seorang kutu buku berkacamata tebal, menjadi seorang gadis cantik yang dengan segera menjadi populer di SMA Kibina yang mereka bertiga masuki. Kelanjutannya, yah, inti serial ini tentang bagaimana tokoh-tokohnya kemudian mengenal cinta.

Koichi yang kini harus hidup bersama Mao-nee (yang dititipkan orangtuanya pada keluarga Koichi) sebenarnya sudah lama naksir pada teman sekelasnya yang penutup dan pendiam, Hoshino Yuumi. Sedangkan Kazuki, yang memiliki seorang adik perempuan manis bernama Nana, belakangan galau karena telah dijadikan objek ‘percobaan’ oleh sang siswi jenius yang eksentrik, Futami Eriko (sesuatu yang berkaitan dengan, ehem, ciuman). Mao yang mengira dirinya akan kembali menjadi ‘kakak’ yang mengurusi mereka jadi merasa sedikit kesepian karena perhatian mereka berdua tak lagi terpaku pada dirinya.

Dan,  kehidupan mereka berlanjut. Kurang lebih seperti itu.

Seorang cowok cool bernama Hiiragi Akira (yang love interest-nya di seri ini adalah anggota panitia disiplin sekolah Kuryuu Megumi)  kemudian menyeret Kazuki dan Koichi untuk membantunya membuat film indie yang akan diputarkan dalam festival sekolah. Koichi yang kemudian jadi penulis naskahnya. Dengan ini sebagai pemicu, cerita tentang tokoh-tokoh tersebut mulai berkembang.

Tokoh-tokoh ceweknya yang menonjol memang total ada tujuh.

Selain Mao-nee, Yuumi, dan Eriko, ada Sakino Asuka, gadis lincah pemain sepakbola yang kebiasaannya menyeret Kazuki berlatih tanding dengannya, yang semakin memperteguh tekad pemuda itu untuk berjuang mendapatkan gadis yang ia sukai. Lalu ada nona besar Shijou Mitsuki, yang dengan sukarela memodali Hiiragi dkk dalam pembuatan film mereka. Dan terakhir… Satonaka Narumi, sahabat Nana yang bertekad membuat mi udon paling enak sedunia. Tapi selain Asuka yang perlahan-lahan mulai menyukai Kazuki, Mitsuki dan Narumi kurang memegang peran signifikan dan ada lebih karena keberadaan mereka sebagai heroine di versi game-nya.

Antara Lurus dan Segitiga

Kelemahan terbesar Pure Rouge mungkin ketidakkonsistenan tema ceritanya, yang terbagi antara mengisahkan tentang berkembangnya hubungan dua orang yang sebenarnya saling mencintai, atau tentang dinamisnya hubungan orang-orang yang terlibat cinta segitiga. Nilai yang bisa tersampaikan melalui seri ini karenanya menjadi tersamar, sehingga menjelang pertengahan cerita, daya tariknya lumayan menurun. Aku curiga kekacauan tema ini akibat intervensi suatu faktor eksternal. Tapi pada akhirnya tak ada yang bisa dilakukan tentangnya.

Dengan demikian pula, aku pribadi kurang suka dengan tamat seri ini, walau kudengar orang-orang tertentu yang kurasa lumayan puas dengannya.

Yah, keadaannya bisa jadi lebih buruk sih. Bagaimanapun, pada titik ini, KimiKiss tetap jadi anime produksi JC Staff yang kedua paling aku sukai sesudah Yume Mahou. Di samping karena desain karakternya yang benar-benar memikat (padahal game-nya sendiri kudengar termasuk jenis yang bersih), juga karena lagu pembukanya yang—meski benci kuakui—terlanjur sangat kusukai.

Kekreatifan tim pembuatnya untuk memisahkan sang tokoh utama dalam game menjadi dua orang (perhatikan bahwa nama tokoh yang kita mainkan dalam game adalah ‘Aihara Koichi’), memasukkan unsur drama yang kuat, tidak mengarahkannya ke jalur harem, dan memasukkan tokoh baru (Kai Eiji-kun, yang jadi love interest Mao-nee) juga patut dipuji.

Aku bisa memahami keadaannya. Tapi pada akhirnya tetap saja aku jadi mencari-cari doujin untuk menyalurkan ketidakpuasanku saking besarnya pengharapanku.

…Untuk suatu alasan, kesannya jadi kayak Gundam 00.

Akhir kata, bagaimana naskahnya berusaha memaksakan sejumlah skenario di gamenya menyatu memang agak membuat kening mengernyit. Tapi selebihnya, ini salah satu seri romansa paling solid yang aku tahu. Ada suatu nuansa khas yang besar kemungkinan takkan kau temukan di seri lain, dan kurasa itu sudah cukup alasan bagi penggemar untuk tertarik dengannya.

Sekali lagi, desain karakternya benar-benar memikat.

Penilaian

Konsep: B;Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B-


About this entry