Bounen no Xamdou

BONES itu studio animasi yang sudah ternama. Karya-karya mereka itu, baik yang bagus apa enggak, selalu punya animasi berkualitas tinggi dan ciri khas tersendiri di dalamnya.

Ciri khas itu juga ada di Bounen no Xamdou, yang berformat ONA yang didistribusikan melalui saluran Playstation Network (gampangnya, colokan online bagi mereka yang punya PS3). Cuma ngeliat sekejap aja, orang bisa tahu kalau serial 26 epsode ini dibikin dengan biaya lumayan tinggi. Tapi ciri khas itu di sini… anehnya, enggak akan begitu menonjol sampai pertengahan seri. Jadi orang yang nonton serial ini enggak akan begitu jelas demografinya sampai ceritanya sendiri… uh, udah mulai jelas. (uh, maksudku enggak jelas ya?)

Tapi sayangnya, masalah pertama yang Xamdou miliki adalah: hampir separuh awal ceritanya bener-bener enggak jelas.

Remaja Korban Perang

Untuk lebih gampangnya, Xamdou mungkin bisa dibilang bergenre fantasi melodrama. Dunianya berlatar kontemporer, meski teknologi yang berkembang sama sekali berbeda dengan teknologi yang berkembang di dunia kita. Di dunia ini, listrik dihasilkan dari senyawa-senyawa organik. Lalu ada pesawat-pesawat berbentuk eksotis yang terbang dengan letupan-letupan sinar berwarna pelangi. Sisanya, yah, kurang lebih sama dengan masyarakat dunia kita (Jepang) di mana ada ibu-ibu rumah tangga, sepeda, mobil, es krim, mesin penjual minuman kaleng, roti coklat, dojo bela diri, lautan, gunung, serta sekolah.

Nah, ada dua negara yang ceritanya sedang berperang, yakni Utara dan Selatan. Di pulau Sentan, yang terletak di perbatasan kedua negara ini, tapi termasuk ke dalam wilayah Selatan, hidup remaja SMA bernama Akiyuki Takehara. Pada suatu pagi, saat ia naik bis menuju sekolah bersama dua sahabatnya, Haru Nishimura dan Furuichi Teraoka, diam-diam ia meloloskan seorang gadis asing berambut putih—yang disangkanya sebagai murid pindahan—dari pengawasan pihak militer yang tengah mengawasi segala sesuatu untuk mencegah masuknya mata-mata Utara. Dan ternyata, sesampainya di gerbang sekolah, gadis yang ditolong Akiyuki ini kemudian ‘meledakkan’ bis yang baru mereka naiki!

Syok, Akiyuki yang menyadari bahwa gadis tersebut pastilah salah satu pelaku ‘bom bunuh diri’ yang belakangan banyak dibicarakan, berlari kembali ke bis untuk memeriksa keadaannya. Di sana, benih Hiruko yang telah disebarkan gadis itu lalu tertanam dalam diri Akiyuki, mengubahnya menjadi makhluk putih aneh yang membuat panik semua orang. Sesaat sebelum kehilangan kesadaran, gadis itu meyakinkan Akiyuki bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan menyebut Akiyuki yang telah berubah wujud itu sebagai ‘Xam’d dari Ingatan yang Hilang’.

Tepat pada saat itu, sirene peringatan berkumandang, pertanda bahwa pihak Utara akan melancarkan serangan udara.

Sang Penunggang Awan

Zanbani adalah sebuah kapal pos yang agak istimewa. Mereka memang bekerja mengantar surat, tapi cara mereka melakukannya… tidak bisa dibilang sepenuhnya ‘bersih’.

Kapal udara ini ceritanya terdesak ke pulau Sentan karena kejaran kapal-kapal militer dari Utara. Salah satu awaknya, Nakiami, mengabaikan peringatan kaptennya, Ishu, dan mengendarai sepeda motor udara Beat Kayak untuk melihat keadaan di sekitar. Sebenarnya, Nakiami nekad pergi karena secara telepatis mendengar suara panggilan dan seketika menyadari bahwa ada ‘sesuatu’ yang membutuhkan dirinya.

Nakiami sendiri sama sekali bukan gadis biasa. Perempuan dengan dandanan unik dan jarang tersenyum ini mampu mendengarkan ‘suara-suara’ bentuk-bentuk kehidupan lain dan dengannya mampu melakukan jurus-jurus hipnotis aneh yang mampu mempengaruhi kesadaran lawan. Orang-orang seperti dirinya belakangan dikenal dengan sebutan ‘Tamayobi’.

Nah, di tengah kekacauan pertempuran yang merebak, Akiyuki yang telah berubah menjadi monster mengamuk dan menghancurkan monster-monster Humanform (‘Hitogata’) yang dijatuhkan pihak Utara dari pesawat-pesawat mereka. Haru yang bakatnya sebagai Tamayobi mulai bangkit akhirnya menyadari bahwa monster putih itu sesungguhnya adalah Akiyuki. Lalu meski dianugrahi kekuatan luar biasa sebagai Xam’d, kesadaran Akiyuki akan tergantikan oleh kesadaran Hiruko yang sepenuhnya berusaha mengikuti nalurinya untuk bertahan hidup. Saat benak Akiyuki mulai melupakan dirinya sebagai individu dan semakin tenggelam dalam kesadaran Hiruko, maka pada saat itu pulalah tubuhnya akan mengkristal hingga akhirnya ia berubah menjadi batu.

Beruntung, Nakiami datang tepat pada waktunya untuk meredakan amarah Hiruko dan memulihkan tubuh Akiyuki dari kondisi tersebut. Nakiami kemudian memerintahkan Akiyuki untuk ‘berpikir’ agar dirinya tak sampai lupa diri dan, karena terdesak oleh pertempuran yang mengganas, di depan mata Haru, Nakiami terpaksa pula ‘menculik’ Akiyuki yang pingsan dan membawanya ke Zanbani untuk kabur dari pulau Sentan yang dilanda perang.

Kehidupan Orang-orang Kesepian

Masalah kedua yang Xamdou miliki adalah: orang-orang enggak akan dengan gampang mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tahu-tahu saja cerita sudah beralih ke sudut pandang kedua orangtua Akiyuki, yang sebenarnya sedang tak begitu akur, yang sama-sama terpukul oleh hilangnya putra mereka satu-satunya. Ayah Akiyuki, yang kini berprofesi sebagai dokter, diam-diam mempertanyakan apakah bencana yang menimpa putranya adalah karma akibat perbuatannya sendiri di masa lalu yang telah lama ia tinggalkan. Lalu Furuichi, yang diam-diam menyukai Haru, bersikeras untuk percaya bahwa Akiyuki telah mati dan menolak untuk mendengarkan perkembangan situasi aneh yang telah Haru saksikan. Hal itu akhirnya memicu konflik di antara mereka, yang membawa mereka sama-sama bergabung bersama militer. Sementara itu, kepemimpinan pemerintah militer di pulau Sentan telah berganti, dan sebuah agenda rahasia sekaligus berbahaya diam-diam mulai dijalankan…

Akiyuki sendiri, yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang telah terjadi pada dirinya, akhirnya terpaksa ikut hidup sebagai tukang pos bersama awak-awak kapal lain di Zanbani. Saat ia akhirnya mengerti bahwa kini ada ‘makhluk lain’ yang bersimbiosis bersama dirinya, dan membiarkan makhluk aneh itu mengambil alih akan memberinya kekuatan luar biasa dengan resiko drinya akan lupa diri dan akhirnya membatu, Akiyuki lalu bertekad untuk mencoba hidup berdampingan bersama Hiruko tersebut. Dan bukan hanya bersama Hiruko, melainkan juga bersama semua bentuk kehidupan berkesadaran lain yang ada di planet ini. Tekadnya itu ternyata akan diuji sampai berulang-ulangkali sepanjang cerita.

Lalu siapa sebenarnya Nakiami? Bagaimana bisa dia mengerti cara-cara yang diperlukan untuk ‘mendidik’ Akiyuki dan Hiruko di dalam dirinya, sekaligus senantiasa menjauhkan mereka berdua dari marabahaya? Apa pula hubungannya dengan orang-orang berambut putih yang menyebarkan benih-benih Hiruko di dunia ini? Dan siapa, atau apa, sesungguhnya kaisar Hiruken yang disebut sebagai biang semua masalah ini?

Kisah Xamdou berpusar tentang kehidupan di antara orang-orang ini selama bulan-bulan panjang saat Akiyuki melakukan pengembaraannya untuk mencari jati diri. Meski episode-episode ke sananya berfokus lebih pada melodrama, BONES masih berhasil menyelipkan plot-plot pelik tentang intrik, kemanusiaan, kekeluargaan, serta diskriminasi rasial sepanjang ceritanya, yang bisa dianggap sebagai alegori dan bisa juga tidak, dan menuntaskan semuanya (wow…) di episodenya yang terakhir. Tentunya dengan presentasi yang kaya dan artistik yang jarang ditemukan di seri-seri anime lainnya.

Mungkin agak mirip Wolf’s Rain mereka dulu. Cuma dalam bentuk yang jauh lebih manusiawi dan gampang dimengerti (mungkin), asalkan orang tak berpikir terlalu jauh soal perkembangan situasi dan tokoh-tokohnya yang terkadang agak ‘maksa’ dan ‘berlebihan’.

Kisah cinta antara Akiyuki dan Haru ini bisa dijelaskan dengan satu kata: aneh. Sama sekali enggak jelek kok. Cuma, cenderung menuai tanggapan yang agak terlalu subjektif. Jadi jangan paksakan diri menonton bila kau tak suka melodrama.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: S; Eksekusi: B+; Perkembangan: B; Kepuasan Akhir: B+


About this entry