Yokohama Shopping Blog

Dulu, sejak awal, aku merasa skeptis kalau aku bakal bisa terus mengikuti Shonen Magz, salah satu majalah komik bulanan cowok terbitan Elex, dengan menjadi pengoleksinya. Kenyataannya, sekitar setahun kemudian, beberapa bulan sesudah Wild Baseballers tamat, aku terpaksa berhenti membelinya. Ruang di laciku sudah enggak cukup buat muat majalah lagi.

Tapi jika ada satu hal yang enggak kusesali dari mengoleksi edisi-edisi awal majalah itu, adalah bahwa darinya aku tahu tentang Yokohama Kaidashi Kikou (‘catatan belanja Yokohama’). Kini diterbitkan buku satuannya secara berkala oleh MnC, aku hampir enggak bisa mempercayai mataku saat melihat judul ini di etalase toko buku. Karena aku lemah sama jenis-jenis cerita drama kayak begini (mirip Yume Mahou atau Kino no Tabi), aku langsung membelinya tanpa ragu-ragu.

Kesanku? Bagaimana ngomongnya ya?

Kira-kira begini: kalau ada orang yang bilang bahwa sepuluh tahun itu lama, bagiku dan banyak orang dewasa lainnya, sepuluh tahun lalu terasa baru terjadi kemarin. Lebih dari sepuluh tahun lalu, Final Fantasy VII yang menghebohkan itu pertama kali keluar. Itu merupakan sebuah sensasi yang takkan pernah kulupakan seumur hidup dan aku masih ingat jelas kehebohan yang kurasakan saat itu sampai sekarang..

Nah, tema yang sama juga kurang lebih diungkap dalam komik ini (terlihat juga pada urusan terbitan lokalnya sih, mengingat komik ini pertama terbit di Jepang sepuluh tahun lalu, tapi itu cerita lain). Intinya, komik ini bercerita tentang kehidupan dari hari ke hari. Namun cara bertuturnya itu yang membuatnya terasa istimewa dan bermakna.

Hanya saja, tolong ingat bahwa ini bukan jenis komik yang bakal diminati semua orang.

Di sebuah kafe di pinggir desa…

Latarnya adalah masa depan, pada suatu masa ketika kota-kota besar sudah tenggelam di bawah permukaan air laut. Sedikit manusia yang masih tersisa hidup dengan damai di sejumlah dataran tinggi yang masih ada. Inilah waktu yang dianggap oleh sebagian besar orang—mengikuti kata-kata Alpha Hatsuseno—sebagai ‘keremangan senja’ bagi zaman. Sebuah masa ketika bumi sudah banyak berubah akibat berbagai perubahan ekologis. Tapi juga sebuah masa ketika orang-orang yang hidup di dalamnya mulai bisa menghargai lebih banyak hal.

Alpha Hatsuseno sendiri adalah ‘seorang’ robot. Ia salah satu dari sedikit robot tipe ‘alpha’ yang masih tersisa, yang berwujud dan bersikap sebagaimana layaknya seorang gadis muda berusia dua puluhan tahun. Ia mengambil nama majikannya sebagai nama marga (Hatsuseno), dan sendirian mengurusi kedai kopi peninggalan majikannya itu, yang terletak di ujung sebuah jalan rusak, di pinggiran sisi barat sebuah pedesaan kecil, yang sebenarnya terletak lumayan jauh dari kota Yokohama tempat ia biasa membeli biji kopi—sementara sang majikan sedang berpergian entah ke mana. Meski hanya ada sedikit orang yang mengunjungi kafenya dari hari ke hari, untuk suatu alasan, Café Alpha selalu menjadi tempat yang berkesan bagi tiap pengunjungnya.

Inilah kisah mengenai keseharian Alpha dalam memandang apa yang masih tersisa dari dunia tempat ia hidup, beserta orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Dunia

Meski tiap bab pada dasarnya merupakan penggalan berbagai adegan kehidupan yang terjadi di sekeliling Alpha, ada semacam benang merah yang sedikit demi sedikit menghubungkan itu semua. Benang merah yang secara perlahan juga menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada dunia di masa itu.

Maksudnya, walaupun komik ini berkisah tentang adegan sehari-hari, serinkali pada adegan-adegan sehari-hari yang biasa ini, ada banyak hal ajaib yang jelas saja enggak akan dianggap biasa oleh kita. Nah, hal-hal ajaib ini yang jadi benang merah yang kumaksud!

Oke, kita mulai misalnya dengan Alpha-san sendiri. Alpha-san adalah seorang robot (aku tadi udah bilang), tapi sikapnya (bahkan menurut penilaian sesama robot sekalipun) sama sekali tak seperti robot. Dia bisa dibilang unik untuk jenisnya, dan bahkan sampai sejauh yang aku baca pun, masih ada banyak hal tentang Alpha-san yang masih belum diketahui oleh kita. Dari mana dia berasal? Siapa majikannya (yang kumaksud di sini bukan namanya!)? Lalu, apa hubungan antara majikannya ini dengan orang-orang yang hidup di sekelilingnya?

Orang-orang di sekeliling Alpha sendiri meliputi seorang kakek tua penjaga pom bensin yang biasa dipanggil Oji-san, cucu lelaki Oji-san yakni Takahiro, ‘adik’ perempuan Alpha yang Alpha kenal secara kebetulan yakni Kokone Takatsu, dokter(?) wanita tua yang pernah jadi kakak kelas Oji-san, berbagai tetangga, seorang pria bernama Ayase, dan lain sebagainya. Orang-orang ini sepenuhnya adalah orang-orang biasa. Jadi enggak, sepertinya mereka bukan agen rahasia suatu organisasi mahabesar yang ditugaskan untuk mengawasi Alpha. Bukan.

Cuma, lewat kacamata Alpha dan orang-orang ini, kita dibawa untuk melihat apa-apa saja yang telah terjadi pada bumi dan kira-kira ke arah mana masyarakat yang ada saat itu akan bergerak. Terus terang, bila kamu bisa melarutkan diri pada tuap bab, kamu bukan hanya akan mendapati tiap bab menghibur, namun juga akan membawa semacam perenungan.

Ya, terlepas dari tipisnya tiap buku satuan yang MnC terbitkan.

The Art

Aku sudah bilang. Meski tiap buku satuanny tipis, aku selalu merasa puas setiap kali habis membacanya. Terjemahan Saudari Lidwina Leung dan kerja keras para editor amat tampak pada cerita ini!

Namun alasan lain yang membuat serial ini bisa begitu menarik dan memuaskan adalah artwork-nya yang luar biasa indah. Mungkin, ini salah satu dari sedikit komik yang masih menampilkan panorama yang digambar tangan. Yang benar-benar bagus, maksudku dan pas pacingnya.

Sangat direkomendasikan bagi kaum penikmat manga yang enggak pandang bulu dalam memilih judul.


About this entry