Kara no Kyoukai (news)

Aku merasa campur aduk waktu pertama kali mendengar Kara no Kyoukai akan dianimasikan.

Kara no Kyoukai, atau biasa disingkat Rakyou (terjemahan kasarnya mungkin adalah ‘Perbatasan Menuju Ketiadaan’, sub-judulnya adalah ‘The Garden of Sinners’—‘taman para pendosa’), buat yang belum tahu, merupakan sebuah novelet yang ditulis oleh Kinoko Nasu, orang yang sama dengan yang dulu menciptakan novel visual legendaris Tsukihime bersama rekannya, Takashi Takeuchi, dalam kelompok Type-Moon. Hal menarik yang bisa dikatakan tentang novel ini mungkin adalah bahwa si pengarang menyebutkan kalau sebuah novel dibuat tanpa gambar dan suara, maka ceritanya harus tiga kali lipat lebih menarik dari versi cerita pada media lain, untuk mengisi ketiadaannya gambar dan suara. Ungkapan kalimat itu yang mendorong aku, sebagai novelis amatir, tertarik untuk tahu tentang novel ini.

Beberapa tahun ke belakang, aku mencari-cari tahu tentang Tsukihime di internet dan sampai ke salah satu situs fans mereka yang paling terkemuka, The Moonlit World. Di sana, untuk pertama kalinya aku tahu tentang Kara no Kyoukai.

Gambaran kasar cerita itu langsung kudapatkan waktu itu. Gamblangnya, seorang cewek bernama Ryougi Shiki, suatu hari terkena kecelakaan dan jatuh koma selama dua tahun. Sesudah ia bangun, ia merasa ada sesuatu yang enggak beres pada ingatannya.

Ha?

Cuma itu satu-satunya reaksiku waktu itu. Sebab kelanjutan penjelasan cerita itu bisa dibilang agak-agak enggak jelas.

Sesudah kecelakaan itu, Shiki mendapat kemampuan untuk melihat ‘garis-garis kematian’ di tiap benda. Kemampuan yang nyaris sama dengan apa yang dimiliki Tohno Shiki dari Tsukihime. Istlahnya, the Mystic Eyes of Death Perception. Saat ‘garis-garis kematian’ suatu benda dipotong, maka benda tersebut akan hancur. Dan kemampuan itu harus dimanfaatkannya untuk menghadapi berbagai kasus supranatural.

You know, lah. Kalau memang cuma sampai sejauh itu.

Cuma masalahnya, cerita ini sama sekali enggak cuma sejauh itu. Gimana menjelaskannya ya?

Oke, sebelumnya, ada yang pernah bilang cerita ini adalah prototip dari Tsukihime. Memang begitu pada beberapa segi. Tapi tema ceritanya berkembang menjadi jauh, jauh berbeda, dengan makna yang mungkin saja sedikit lebih dalam.

Pertama yang mesti diperhatiin adalah karakter. Bila kau entah gimana pernah main Tsukhime, mungkin kau akan memperhatikan kalau marga Shiki adalah salah satu marga yang pernah Tohno Akiha sebutkan sebagai… uh, musuh alami kaum non-manusia, dan memang begitu ceritanya. Bila belum tahu, hampir semua cerita karya Kinoko Nasu berlatar dalam dunia yang sama. Begitu pula dengan Rakyou dan Tsukihime. Jadi ada sedikit hubungan antar tokoh-tokohnya, dan di Rakyou ini ada tokoh pembuat boneka misterius bernama Aozaki Tohko, yang tidak lain tidak bukan adalah saudara perempuan si penyihir misterius Aozaki Aoko di Tsukihime. Mesti kutegaskan di sini bahwa Tohko amat sangat berlawanan dengan saudara perempuannya yang lembut. Dikisahkan pula, hubungan kekeluargaan di antara keduanya pun untuk suatu alasan sudah hancur lebur berantakan tanpa bisa diperbaiki lagi.

Tapi cukup soal itu, sebab itu cerita lain lagi.

Tokoh lain yang menonjol adalah teman cowok Shiki, mungkin satu-satunya manusia normal dalam cerita, Kokutou Mikiya. Secara tampang, ia cukup mirip dengan Shiki dari Tsukihime. Baik hati, berkacamata, dan agak culun, tapi ia memiliki bakat yang sangat abnormal dalam melakukan investigasi. Bila ia ingin mencari sesuatu, ia bisa dibilang hampir pasti akan menemukannya. Hal tersebutlah yang kemudian membawa Mikiya masuk ke dalam dunia ajaib di mana Shiki tinggal dan akhirnya mempertemukannya dengan sang penyihir Tohko, yang kemudian dengan senang hati memperkerjakannya paruh waktu untuk mengurusi hal-hal yang enggak jelas.

Lalu ada Kokutou Azaka, adik perempuan Mikiya, secara tampang mirip Akiha dari Tsukihime, yang entah bagaimana jatuh cinta pada kakaknya sendiri sehingga ia teramat membenci kedekatan antara kakaknya dengan Shiki. Ia pada bab-bab selanjutnya memainkan peran penting dalam cerita dan menjadi murid Tohko dalam belajar sihir.

Yah, keempat tokoh itu menjadi tokoh sentral, dan pada tiap episode mereka bersama-sama berurusan dengan kejadian-kejadian supernatural. Tapi keempat tokoh itu, sesungguhnya, sama-sama enggak bisa dibilang beres. Bukannya gila sih, tapi cara pandang mereka terhadap segala sesuatu yang terjadi, dialog-dialog yang mereka lakukan berkenaan dengan makna setiap kejadian, entah gimana menjadi daya tarik utama cerita ini. Di samping itu adalah hubungan di antara mereka, bagaimana orang-orang aneh ini bisa sampai bertemu dan dalam keadaan apa. Sebab cerita ini bukan cuma tentang mereka berempat, tapi juga tentang ‘orang-orang bermasalah’ yang mereka hadapi sebagai sumber setiap kejadian ganjil yang terjadi pada tiap bab. Keempat tokoh ini secara lugas menguraikan pendapat mereka tentang apa-apa yang tiap tokoh bermasalah ini alami. Meski omongan mereka aneh dan cenderung sulit dimengerti, hasil akhirnya tetap adalah ‘wow’ dan pembaca pada umumnya enggak bisa enggak terkesan dengan apa yang mereka bicarakan. Selama para pembaca itu masih mau mikir.

Kedua yang harus diperhatikan adalah penceritaan. Ini hal yang paling gila. Penceritaan dilakukan dengan gaya minimalis, seperti halnya beragam novelet dan novel visual lainnya. Tapi bukan Kinoko Nasu namanya kalau enggak ditulis dalam gaya khasnya yang aneh.

Dengan mempertahankan porsi deskripsi yang minimum, ceritanya cenderung melompat-lompat dari sudut pandang pertama satu tokoh ke sudut pandang pertama tokoh lainnya, beberapa kali juga bahkan dilihat dari sudut pandang orang ketiga. Di samping itu, alur ceritanya juga maju mundur antara waktu ketika Shiki masih ‘normal’ sebelum kecelakaan dan ketika dia menjadi ‘terganggu’ sesudah kecelakaan.

Betul, Shiki bukan cuma gadis cantik yang bisa melihat garis-gairs kematian dan merasa ada yang enggak beres dengan ingatannya. Dia tokoh yang… bagaimana ya? Susah dijelaskan dengan kata-kata. Sebab latar belakang keluarganya sendiri yang melandasi cara hidupnya sama sekali enggak normal.

Dengan gaya cerita enggak jelas kayak demikian, orang mungkin bakal heran kenapa masih ada orang yang mau baca. Tapi di situ uniknya, karena setiap adegan yang berlangsung di dalamnya begitu aneh dan abnormal sehingga ada saja orang-orang tertentu yang mau baca.

Kalau kau tertarik, coba baca sendiri terjemahan bahasa inggris cuplikannya di www.baka-tsuki.net. Kalau kamu bisa bahasa inggris tentunya, dijamin kamu bakal mengernyit, ternganga, atau hanya sekedar merasa jijik.

Dengan semua keadaan itu, ditambah keskeptisan sesudah melihat sendiri hasil adaptasi animasi Tsukihime dan Fate/Stay-Night, para penggemar enggak bisa enggak ragu saat mendengar versi animasi Kara no Kyoukai akan dibuat oleh UFOTable. Ceritanya, Rakyou akan dibuat dalam format layar lebar berseri, dengan tiap episode mengetengahkan satu kasus supernatural dalam seri noveletnya. Rasanya heran deh, gimana caranya cerita sakit enggak jelas begini bisa dibuat enak untuk ditonton.

Tapi dari semua ulasan yang pernah kubaca di internet mengenai film pertamanya yang baru beredar, semua orang bilang hasilnya luar biasa bagus. Bahkan melebihi versi layar lebar dua animasi yang dinanti waktu itu, Rebuild of Evangelion dan Clannad. Komentar-komentar seperti betapa Shiki adalah moè(?), adegan-adegan dialog yang khas, sudut-sudut pengambilan gambar yang tak biasa, pertarungan-pertarungan yang sangat seru, brengsek, semua itu membuatku penasaran dan pengen nontoooooon!! Ditambah lagi, pengisi suara Ryougi Shiki adalah salah satu pengisi suara favoritku, Sakamoto Maaya-san (Leaf, Lodoss: Eiyuu Kishinden dan Lunamaria Hawke, Gundam Seed Destiny). Kabarnya ia melakukan gebrakan baru dalam perannya sebagai Shiki, bahkan mungkin lebih baik dari perannya sebagai Kanzaki Hitomi di The Vision of Escaflowne dulu.

Ha, sayangnya, seperti biasa, kita penggemar miskin di Indonesia hanya bisa bersabar menunggu sampai sesuatu seperti versi bajakannya keluar. Kita ini memang benar-benar menyedihkan.

Tapi cerita ini benar-benar menyegarkan, lho. Membuatmu merasa terbebas karena telah bisa membuatmu melihat dunia dalam satu sudut pandang yang lain. Bagaimanapun, ini cerita bertema boy meets girl paling aneh yang pernah kuikuti. Sangat direkomendasikan.


About this entry