Kara no Kyoukai

Belum lama ini, aku menonton sampai habis ketujuh film adaptasi animasi Kara no Kyoukai: The Garden of Sinners. Kemudian aku sadar bahwa selain menyebut beberapa hal tentangnya dalam blog-ku beberapa tahun lalu (waktu itu blog-ku belum aktif kuurusi seperti sekarang), aku sama sekali belum pernah membahasnya secara spesifik.

Kara no Kyoukai berawal sebagai seri novel (ranobe) karya kolaborasi antara Nasu Kinoko (sebagai penulis) dan Takeuchi Takashi (sebagai ilustrator), pasangan yang kelak membentuk grup TYPE-MOON yang menelurkan game doujin legendaris, Tsukihime. Kara no Kyoukai bisa dibilang merupakan ‘prototipe’ dari Tsukihime, mengingat keduanya memiliki berbagai kemiripan antara satu sama lain, baik dari segi ilustrasi visual maupun konsep cerita.

Aku sendiri pertama mengetahui tentang Kara no Kyoukai beberapa tahun sebelum booming TYPE-MOON melanda. Semua berawal dari sebuah diskusi online tentang Shingetsutan Tsukihime, adaptasi anime dari game Tsukihime, yang mendorongku untuk menelaah lebih jauh detil-detil plot penting yang ada dalam game tapi tak dapat dibahas dalam versi anime. Dari sanalah aku kemudian mengetahui lebih banyak tentang TYPE-MOON, beserta judul-judul lain yang telah mereka keluarkan. Di antaranya adalah Fate/Stay-Night (yang waktu itu adaptasi anime-nya masih belum dikeluarkan) dan Kara no Kyoukai.

Pada waktu itu, kedua game TYPE-MOON yang terkenal, Tsukihime dan Fate/Stay-Night, masih belum ditranslasikan oleh para fans. Tak heran informasi yang bisa ditemukan tentang Kara no Kyoukai saat itu masih sangat terbatas. Meski demikian, membaca apa yang tertulis tentang garis besar alur dan penokohannya saja sudah cukup untuk mengusik rasa ingin tahuku lebih lanjut.

Harapanku untuk tahu menikmati ceritanya secara menyeluruh pada akhirnya terpenuhi beberapa tahun kemudian, sesudah versi anime-nya dibuat oleh studio UFOtable.

Sebelumnya perlu kujelaskan, bahwa bagi orang awam, apalagi buat mereka yang belum terlalu kenal dengan gaya cerita Nasu, lumayan susah menjabarkan inti cerita Kara no Kyoukai adalah tentang apa.

Kara no Kyoukai (yang sepertinya berarti ‘garis batas ketiadaan’; subjudulnya yang dalam bahasa Inggris sendiri berarti ‘taman para pendosa’) memiliki tema yang berat dengan muatan-muatan filosofis. Alur ceritanya tidak selalu bergerak secara kronologis. Ditambah lagi, karena latarnya termasuk di dalam settingan dunia khayalnya Nasu, ada berbagai bumbu sihir dan kekuatan ajaib yang cara kerjanya tak mudah dijelaskan secara gamblang. Karena itu ceritanya jelas bukan jenis yang akan mudah diterima oleh sebagian besar orang.

Studi Pembunuhan

Ceritanya berlatar di kota… sial, aku lupa nama kotanya apa, pada rentang waktu sekitar tahun 1995 sampai sekitar tahun 1998 (Gampangnya, ini adalah masa tatkala grafis 3D di konsol PSOne sudah mulai memukau, tapi penggunaan ponsel masih belum lazim seperti sekarang.).

Tersebutlah pada suatu malam bersalju di sekitar awal tahun 1995, seorang pemuda berkacamata bernama Kokutoh Mikiya berpapasan di tengah jalan dengan seorang cewek cantik berkimono yang karena suatu alasan tertentu, teramat menarik perhatiannya. Gadis yang ternyata ditempatkan sekelas dengannya pada tahun ajaran baru itu belakangan Kokutoh ketahui bernama Ryohgi Shiki (keduanya sama-sama baru masuk SMA).

Namun Shiki ternyata bukanlah gadis yang biasa. Darah kuno keluarga Ryohgi yang mengalir kental dalam dirinya membuatnya mewarisi sejumlah keistimewaan khusus. Ia sudah dilatih ilmu bela diri sejak kecil, bakat alami yang dimilikinya dalam belajar di atas rata-rata, tetapi yang paling utama adalah bahwa Shiki memiliki semacam kepribadian ganda.

Dalam novelnya, dijelaskan bahwa keluarga Ryohgi percaya bahwa apabila manusia mendalami suatu bidang ilmu tertentu, maka secara alami akan ada bidang ilmu lain yang akan dilupakannya. Sebagai kompensasi atas hal ini—mungkin sebagai bentuk ‘keserakahan’ keluarga Ryohgi terhadap ilmu pengetahuan—anak-anak mereka dibuat sedemikian rupa agar memiliki kepribadian lebih dari satu. Satu kepribadian mendalami bidang ilmu tertentu. Sedangkan satu kepribadian satunya mendalami bidang ilmu lainnya yang lazimnya sulit dikuasai apabila bidang ilmu sebelumnya dipelajari.

Jadilah Shiki tumbuh menjadi seseorang yang memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Satu bersifat ‘yin,’ sedangkan satunya bersifat ‘yang.’ Yang satu bersifat maskulin, sedangkan yang satunya bersifat feminin. Meski yang feminin yang biasanya lebih dominan dari yang satunya.

(Kabarnya, karena masalah ini, ada banyak anggota keluarga Ryohgi berakhir dengan kehilangan kewarasannya… Adanya anggota keluarga yang mendapat kepribadian majemuk dan bisa tetap waras seperti Shiki konon merupakan kasus langka.)

Berbeda dari kebanyakan manusia yang terlahir sebagai makhluk sosial, Shiki tidak lagi mencari secara alami uluran tangan bantuan dari orang lain, karena sejak awal ia memang sudah ‘berdua.’ Karena itulah ia akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang terlihat asosial dan antipati dari luar.

Menariknya, di sisi lain, karena seumur hidupnya belum pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk bisa ‘sendiri,’ Shiki selama ini senantiasa hidup dengan mencoba ‘mematikan’ sebagian dirinya yang lain. Hal itulah yang akhirnya membuat Shiki sedemikian terpikatnya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kematian(!).

Meski Shiki sudah mengungkapkan kenyataan ini padanya, di luar dugaan Shiki, Mikiya tetap gigih dalam upayanya berteman dengan Shiki. Seiring dengan waktu, persahabatan di antara mereka agak terjalin. Tapi persahabatan itu mulai rapuh saat serangkaian pembunuhan sadis ditemukan terjadi di dalam kota.

Dari kakak sepupunya yang bekerja sebagai polisi, Daisuke-niisan, Mikiya kemudian mengetahui bahwa ada seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti Shiki kerap kali terlihat di lokasi-lokasi TKP (perempuan, berkimono, dsb. perlu diperhatikan bahwa Shiki selalu berkimono, termasuk di sekolah, karena tak adanya ketentuan yang mengharuskan para siswa memakai seragam). Mikiya yang kebingungan oleh sikap Shiki yang tiba-tiba menjauhinya, mulai curiga kalau-kalau Shiki, karena suatu alasan, adalah pelaku yang sebenarnya dari pembunuhan-pembunuhan tersebut.

Konflik di antara keduanya mencapai puncaknya dengan insiden kecelakaan lalu lintas yang membuat Shiki jatuh ke dalam keadaan koma. Pada waktu yang kurang lebih sama, rangkaian pembunuhan itupun tidak terjadi lagi. Teka-teki tentang pembunuhan-pembunuhan itu untuk sementara berakhir sebagai sebuah kasus yang tak pernah terselesaikan.

Beberapa tahun berikutnya, Shiki pulih kembali dari komanya. Terbangun dari tidur panjangnya, Shiki mendapati bahwa ia tak mengalami cedera permanen pada tubuhnya. Tapi meski ia ingat jelas dan sadar sepenuhnya bahwa dirinya adalah Ryohgi Shiki, ia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan pikiran dan matanya.

The Mystic Eyes of Death Perception

Sekitar dua tahun sesudah kecelakaan itu, Mikiya mengundurkan diri dari bangku kuliah dan memutuskan untuk bekerja di agensi Garan-no-Dou milik wanita berkacamata misterius bernama Aozaki Tohko. Di balik pekerjaannya sebagai konsultan pembangunan dan seniman boneka, Tohko sebenarnya adalah seorang penyihir (magus), yang membuatnya bisa tahu dan memahami hal-hal tertentu yang orang-orang awam tidak bisa ketahui. Menyadari bakat abnormal yang Mikiya miliki dalam menemukan fakta dan barang hilang, Tohko menjadikannya aset berharga dalam perusahaannya sebagai pencari informasi.

Tohko inilah yang kemudian membantu Shiki dalam masa pemulihannya. Tohko menjelaskan bahwa Shiki kini sudah tidak lagi berkepribadian ganda (salah satu kepribadiannya ‘tewas’ dalam kecelakaan itu). Lalu garis-garis aneh yang kini Shiki bisa lihat pada segala sesuatu di sekelilingnya itu, sesungguhnya adalah ‘kematian’ yang dimiliki oleh setiap benda.

Apabila salah satu garis yang tak dapat dilihat orang lain itu digores Shiki dengan benda tajam, maka benda bersangkutan akan terbelah atau bahkan hancur seketika. Dengan kata lain, benda apapun, baik makhluk hidup atau benda mati, dapat Shiki ‘matikan’ asalkan garis yang terdapat padanya bisa ia gores.

Kemampuan baru Shiki untuk secara harfiah ‘melihat’ kematian terjadi berkat koneksi yang kini dimilikinya dengan ‘awal mula segala hal.’ Karena salah satu kepribadiannya—satu bagian yang teramat kuat dari dirinya—mati, dan kembali menjadi bagian dari ‘awal mula segala hal’—kepribadian Shiki yang masih hidup, yang notabene merupakan bagian dari dirinya yang telah mati, kini terhubung pula secara langsung dengan ‘awal mula segala hal.’ Dengan demikian, Shiki telah dianugrahi kemampuan untuk membunuh siapapun atau menghancurkan apapun yang ia mau, karena bisa melihat dan memutuskan garis-garis yang menghubungkan segala sesuatu dengan ‘awal mula segala hal’ tersebut.

Dalam perkembangan yang berlangsung inilah, Shiki dan Mikiya kemudian harus berhadapan dengan serangkaian insiden aneh yang secara tersamar namun pasti melibatkan mereka berdua…

Kimi ga Hikari ni Kaete yuku

Meski aku menceritakannya seperti ini, pada kenyataannya, novel maupun anime-nya menyampaikan apa-apa saja yang terjadi secara sepotong-sepotong. Diperlukan kesabaran yang agak lebih buat bisa mencerna apa sih sesungguhnya yang tengah terjadi. Di samping temanya yang ‘gelap’ dan sejumlah adegannya yang jelas tidak diperuntukkan anak-anak, jalinan ceritanya yang rumit menjadikan Kara no Kyoukai memang agak lebih bisa dinikmati penonton dewasa, dan itu pun jika mereka bisa mentolerir sifat para tokohnya yang agak-agak ‘sakit.’

Tapi terlepas dari semuanya, ada banyak hal mengesankan yang bisa ditemukan pada Kara no Kyoukai. Dimulai dari para karakternya; pribadi Shiki yang sebenarnya rapuh dan dilematis jelas tidak mudah dilupakan. Mikiya, yang kesetiaan dan keyakinan penuhnya pada Shiki menjadi sifatnya yang paling menonjol, memiliki kelembutan hati sedemikian rupa yang membuat kita maklum bila sebagian besar tokoh cewek di seri ini jatuh hati padanya.

Bila menghubungkan dengan karya-karya Nasu lain, kita juga akan langsung tahu bahwa mata Shiki serupa dengan mata Tohno Shiki, tokoh utama dari Tsukihime. Dari segi desain, karakter Mikiya sangat mirip dengan Tohno Shiki. Lalu adik perempuannya, Kokutou Azaka (yang jatuh cinta pada kakak kandungnya sendiri, dan belakangan menjadi murid Touko karenanya), sangat mirip dengan adik perempuan Tohno Shiki, Tohno Akiha (yang juga jatuh cinta pada kakaknya, meski dalam hal ini sejak awal keduanya memang bukan saudara kandung).

Karakter Touko adalah kasus yang lain lagi. Touko—yang sangat cantik bila memakai kacamata, tapi berubah menjadi terlihat galak bila kacamatanya dilepas—disebutkan adalah saudara kembar dari Aozaki Aoko, ‘guru’ dari Tohno Shiki sekaligus satu-satunya tokoh penyihir sejati yang muncul dari Tsukihime. Hubungan keduanya konon sangat buruk.dan sudah sampai ke tingkat saling mendendam. Tapi peran yang mereka jalani dalam kedua seri ini, sebagai semacam penasihat bagi para tokoh utama, kurang lebih sama.

Sebagian besar tokoh lain yang berperan dalam seri ini adalah tokoh-tokoh ‘tamu’ yang biasa berada dalam posisi-posisi yang agak antagonis. Tapi di antara mereka, yang memegang peran menonjol yang agak konsisten adalah Gakuto-san, sahabat dekat Mikiya; Shirazumi Lio, kakak kelas Mikiya dan Shiki; serta Araya Souren, sosok pendeta misterius yang bisa jadi merupakan dalang dari segala sesuatu yang tengah terjadi (yang wajahnya agak-agak mirip dengan tokoh serupa, Kotomine Kirei dari Fate/Stay-Night).

Sepanjang cerita, kita akan mengikuti bagaimana para tokoh ini berkembang menjadi lebih dewasa dan manusiawi. Tema yang beberapa kali berulang dari seri ini adalah tentang upaya manusia untuk saling memahami dan menerima satu sama lain apa adanya, serta dorongan untuk terus berjuang dalam menjalani hidup di masa depan.

Dari segi teknis presentasi, Kara no Kyoukai itu memukau. Menggunakan warna-warna tajam serta efek-efek animasi khusus, setiap adegan yang berlangsung di dalamnya digambarkan teramat dramatis dan mengesankan. Meski inti ceritanya tak pernah ada di adegan-adegan pertarungannya, adegan-adegan pertarungannya itu keren. Temponya cepat, pergerakan kameranya dinamis, dan kita yang menyaksikan dibuat terkesima oleh banyaknya adegan yang berlangsung selama sekejap.

Dari audio, seri inipun memikat. Musik latarnya melarutkan dan menghantui. Lalu Sakamoto Maaya memainkan peran ‘ganda’-nya sebagai dua sisi kepribadian Ryohgi Shiki dengan teramat baik. Mungkin yang agak tak disukai semua orang adalah deretan theme song-nya yang dibawakan oleh Kalafina. Tapi nuansa agak-agak seriosa opera yang tercermin dalam lagu-lagu mereka tanpa dapat disangkal memang cocok dengan seri ini kok.

Meski mengangkat tema yang sama, masing-masing episodenya memiliki nuansa yang agak berbeda. Hanya dua dari ketujuh episodenya yang berdurasi dua jam, dua kali lipat dari episode-episode yang lain. Meski setiap episode mengangkat ceritanya sendiri-sendiri, menonton keseluruhannya adalah hal yang mutlak bila ingin memahami inti ceritanya secara penuh (tapi itu tetap bukan jaminan ceritanya dengan mudah akan bisa tercerna sih)

Akhir kata, adaptasi anime Kara no Kyoukai bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ‘menyegarkan’ yang muncul dalam tahun-tahun terakhir. Meski untuk bisa larut dalam jalan pikiran para tokohnya yang tak biasa kita tetap harus membaca novelnya, versi anime-nya menyampaikan inti ceritanya secara memikat dan jelas.

Apabila kau menyukai cerita-cerita yang agak mistis dan filosofis (dan merasa cukup dewasa, dan memiliki pikiran yang cukup terbuka untuk tak merasa jijik), kisah cinta antara Shiki dan Mikiya ini mungkin ada baiknya kau coba ikuti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A-; Eksekusi: A; Perkembangan: B; Kepuasan Akhir: A

About these ads

About this entry