Sisa-sisa Seorang Aniota

Umineko no Naku Koro Ni – Turn 1

Posted by: alfare on: November 11, 2009

Satu hal yang jadi sensasi belakangan adalah ditayangkannya seri anime TV untuk Umineko, sound novel terkenal yang merupakan bagian dari koleksi When They Cry sesudah berakhirnya seri Higurashi no Naku Koro Ni. Aku yakin ada banyak orang (seperti aku) yang lebih memilih untuk mengikuti cerita ini dalam bentuk animasi daripada dalam bentuk game-nya (karena kalimat-kalimat rumit dan keterbatasan grafis dalam game yang disengaja). Karena itulah, rangkaian ulasan ini akan aku mulai.

Ulasan ini kubagi menjadi beberapa bagian, mengingat kedalaman dan kerumitan cerita yang (mudah-mudahan) seri ini miliki.

Selamat Datang di Rokkenjima

Alkisah, di pertengahan akhir tahun 1980an, ada sebuah keluarga kaya raya yang bernama Ushiromiya. Kepala keluarga ini, Kinzo Ushiromiya, konon berhasil bangkit dari keterpurukan akibat gempa besar Kanto dan mengumpulkan kekayaan dalam jumlah luar biasa besar dalam kurun waktu hanya satu generasi saja.

Kini, Kinzo yang berusia senja tengah sekarat karena penyakit. Anak-anak dan cucu-cucunya datang menjenguk ke kediamannya di Rokkenjima, yang merupakan pulau pribadi milik mereka. Sebenarnya, anak-anak Kinzo juga hendak berkumpul untuk membicarakan soal pembagian warisan dari Kinzo. Tapi hal-hal buruk yang mungkin berhubungan dengan suatu kekuatan supernatural dan mungkin juga tidak, kemudian menghantui kediaman di pulau terpencil tersebut, mengakibatkan terbunuhnya anggota-anggota keluarga tersebut secara misterius.

Tokoh utamanya adalah Battler Ushiromiya, salah satu cucu remaja Kinzo yang datang kembali ke pulau itu setelah beberapa tahun mengasingkan diri. Berbekal hasil didikan ibu tirinya yang analitis, Battler yang realistis berusaha menyingkap kebenaran di balik semua teka-teki ini.

Perlu diperhatikan bahwa meski sama-sama menyajikan misteri pembunuhan, Umineko nampaknya akan menyajikan jenis cerita yang agak berbeda dari Higurashi. Mungkin ini cuma aku, tapi nuansa kejar-kejaran dan saling menyudutkan ala Death Note nampaknya akan menghiasi episode-episode seri ini selanjutnya.

Siapa yang Memberikan Payung Itu?

Pada hari kedatangan mereka di Rokkenjima, Maria Ushiromiya, cucu paling kecil Kinzo yang masih berusia sembilan tahun, mendapati salah satu mawar di kebun berada dalam keadaan tak sehat. Mawar itu kemudian sengaja ditandai dengan pita oleh George, sepupu mereka yang tertua, agar Maria bisa merawatnya nanti.

Tapi menjelang sore, saat Maria kembali lagi ke kebun, mawar itu hilang dan tak bisa ditemukan lagi. Maria merengek-rengek meminta kakak-kakak sepupunya untuk membantu mencari. Ulahnya ini membuatnya dimarahi habis-habisan oleh ibunya, Rosa, yang sebagai orangtua tunggal sepertinya memiliki stres terpendam akan kelakuan-kelakuan putrinya. Battler, George, dan sepupu perempuan mereka, Jessica, merasa bahwa lebih baik untuk sementara waktu Rosa dan Maria ditinggalkan berdua saja. Mereka lalu kembali ke guest house, berharap nanti hubungan antara ibu-anak itu akan kembali membaik.

Namun menjelang makan malam, tiga sepupu itu menyadari bahwa Maria masih belum juga kembali. Padahal hujan deras di luar sudah begitu lama turun. Mereka bertemu Rosa, mengira Maria ada bersamanya. Tapi Rosa sebaliknya mengira Maria ada bersama mereka. Menyadari bahwa Maria mungkin saja masih berada di kebun, secepatnya mereka keluar mencarinya.

Dan ternyata benar. Maria rupanya baru saja menemukan mawar yang ia cari-cari. Dan ia tak kehujanan, karena sepertinya, salah seorang penghuni rumah yang kebetulan lewat telah meminjamkannya payung. Rosa yang merasa menyesal segera meminta maaf karena telah begitu kasar memarahi putrinya. Namun, ketika makan malam dilangsungkan saat seluruh penghuni rumah berkumpul, dengan pengecualian Kinzo yang tengah mengurung diri di kamarnya, mencuatlah pertanyaan yang menjadi teka-teki besar pertama di pulau itu: siapa yang telah memberi Maria payung?

Semua anggota keluarga yang hadir di sana, beserta sang dokter dan para pelayan, sama-sama membantah bahwa mereka yang melakukannya. Saat itulah dengan cerianya Maria menjawab bahwa yang memberinya payung itu tak lain tak bukan adalah sang penyihir Beatrice, yang ditemuinya di kebun tadi.

Jawabannya itu membuat semua yang hadir di sana sama-sama tercengang.

The Legend of the Golden Witch

Siapakah Beatrice? Sosok yang disebut-sebut sebagai penasihat alkimia Kinzo ini, yang tak jelas apa dia benar-benar ada atau tidak, konon adalah orang yang telah menyediakan modal bagi Kinzo untuk membangkitkan kembali kejayaan keluarganya sesudah gempa besar dulu.

Dia seorang wanita penyihir yang dikabarkan tinggal di dalam gelapnya hutan-hutan Rokkenjima. Dan melalui surat yang disampaikannya melalui Maria dan dibacakan sesudah makan malam itu, yang disegel dengan stempel cincin khusus yang konon hanya dimiliki Kinzo, Beatrice yang lukisannya dipajang di pintu masuk rumah mereka itu menyatakan bahwa ia bermaksud mengambil kembali modal kekayaan berupa batangan-batangan emas yang dipinjamkannya pada Kinzo dulu berdasarkan kesepakatan kontrak lama di antara mereka. Semua ‘kekayaan lain’ yang Kinzo dapatkan melalui batangan-batangan emas itu, dengan kata lain, seluruh kekayaan keluarga Ushiromiya, juga akan turut Beatrice ambil sebagai bunga yang telah disepakati harus dibayar! Satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya hal ini adalah dengan memenuhi klausa khusus yang Beatrice buat: yakni menemukan sendiri tempat disembunyikannya batangan-batangan emas itu di Rokkenjima sebelum batas waktu yang telah ditentukan; dan siapapun yang berhasil menemukannya, termasuk orang yang bukan anggota keluarga Ushiromiya, akan menjadi pemilik resmi seluruh kekayaan Ushiromiya berikutnya!

Anggota-anggota keluarga Ushiromiya tak sepenuhnya percaya bahwa Beatrice benar-benar ada. Beberapa di antara mereka malah menduga bahwa ini hanya ulah iseng seseorang belaka. Tapi saat mereka berusaha melakukan konfirmasi tentang apa sebenarnya maksud surat yang dibawa Maria itu, Kinzo tahu-tahu telah menghilang dan tak lagi dapat ditemukan.

Kini, terkurung di pulau itu sampai badai mereda, apa yang bisa mereka lakukan selanjutnya? Apa motivasi sesungguhnya dari masing-masing orang yang ingin mendapatkan kekayaan itu? Apa jangan-jangan ‘mereka sendiri’ ikut termasuk dalam hitungan ‘kekayaan yang telah Kinzo dapatkan’? Apa Beatrice bahkan benar-benar ada?

Kyrie, ibu tiri Battler, menyatakan bahwa ia percaya bahwa ‘Beatrice’ sebenarnya adalah salah seorang di antara mereka. Upaya ingin memperlihatkan keberadaan adanya orang lain selain mereka itulah yang justru mengindikasikan hal tersebut! Sebab, jika orang luar itu benar-benar ada, mengapa ia justru mengambil jalan memutar dengan terang-terangan memberikan surat pada Maria dan merugikan diri sendiri dengan memperlihatkan bahwa ia ada?

Tapi mungkinkah pembunuhan dan tindakan-tindakan aneh yang terjadi sesudahnya benar-benar dilakukan seorang diri?

Sekalipun kau juga akan menyukai dada besar dan rok mengembang, bersiaplah untuk menghadapi permainan logika yang penuh intrik dan dugaan!

Kimikiss Pure Rouge

Posted by: alfare on: November 11, 2009

Ada seorang temanku yang mendorongku untuk menonton ini. Aku tak benci seri-seri romantis, tapi aku malas mendekati segala sesuatu yang bernuansa harem. Namun temanku bilang kalau nuansa dalam seri ini mirip dengan gaya penceritaanku yang suka membuat adegan-adegan menggantung saat perasaan para tokohnya tiba-tiba memuncak. Jadi akhirnya aku menontonnya juga.

Dan ternyata, ini sama sekali bukan cerita harem.

Um, Ceweknya Ada… Tujuh?

Inti serial ini adalah tentang jalinan romansa antara… uh, sejumlah siswa-siswi SMA. Nuansanya entah mengapa banyak mengingatkanku akan Boys Be atau Salad Days, hanya saja menggunakan tokoh-tokoh tetap dan alur cerita yang berkelanjutan.

Ada tiga… sekawan yang dulu menjalani masa kecil bersama-sama: dua sahabat Sanada Koichi dan Aihara Kazuki, serta gadis yang setahun lebih tua dari mereka, Mizusawa Mao. Kisahnya, Mao-nee yang baru pulang dari luar negeri tiba-tiba saja muncul di halaman rumah Koichi dan memperlihatkan bagaimana dirinya telah berevolusi dari seorang kutu buku berkacamata tebal, menjadi seorang gadis cantik yang dengan segera menjadi populer di sekolah yang mereka bertiga masuki (SMA Kibina…). Kelanjutannya, yah, sudah bisa tertebak, karena inti serial ini memang adalah tentang bagaimana tokoh-tokohnya kemudian mengenal cinta.

Koichi yang kini harus hidup bersama Mao-nee sebenarnya sudah lama naksir pada teman sekelasnya yang penutup dan pendiam, Hoshino Yuumi. Sedangkan Kazuki, yang memiliki seorang adik perempuan manis bernama Nana, belakangan galau karena telah dijadikan objek ‘percobaan’ oleh sang siswi jenius yang eksentrik, Futami Eriko (percobaan apa itu? pokoknya: kiss, kiss, koishiteru yo…). Mao yang mengira dirinya akan kembali menjadi ‘kakak’ yang mengurusi mereka jadi merasa sedikit kesepian karena perhatian mereka berdua tak lagi terpaku pada dirinya.

Dan, yah, begitulah. Kehidupan mereka berlanjut. Kurang lebih seperti itu.

Seorang cowok cool bernama Hiiragi kemudian menyeret Kazuki dan Koichi untuk membantunya membuat film indie yang akan dipentaskan dalam festival sekolah. Koichi yang jadi penulis naskahnya. Dengan ini sebagai pemicu, cerita tentang tokoh-tokoh tersebut mulai berkembang. Atau setidaknya, semestinya begitu.

Dan lagi… uh, aku malas menyebutnya, tapi tokoh-tokoh ceweknya yang menonjol memang total ada tujuh. Ada Sakino Asuka, gadis lincah pemain sepakbola yang kebiasaannya menyeret Kazuki berlatih tanding dengannya semakin memperteguh tekad pemuda itu untuk berjuang mendapatkan gadis yang ia sukai. Lalu ada nona besar Shijou Mitsuki, yang dengan sukarela memodali Hiiragi dkk dalam pembuatan film mereka. Dan terakhir ada… aku lupa siapa namanya. Pokoknya dia berteman dengan Nana dan bertekad membuat mi paling enak sedunia. Enggak, aku serius! Tapi selain Asuka yang perlahan-lahan mulai menyukai Kazuki, tokoh-tokoh lainnya sama sekali tak memegang peran signifikan dan hanya ada karena keberadaan mereka di versi game-nya.

Antara Lurus dan Segitiga

Kelemahan terbesar Pure Rouge adalah ketidakkonsistenan tema ceritanya: apa mau mengisahkan tentang berkembangnya hubungan dua orang yang sebenarnya saling mencintai, atau dinamisnya hubungan orang-orang yang terlibat cinta segitiga? Nilai yang bisa tersampaikan melalui seri ini karenanya menjadi tersamar, sehingga menjelang pertengahan cerita, aku mulai malas menontonnya. Aku curiga kekacauan tema ini adalah akibat intervensi suatu faktor eksternal. Tapi pada akhirnya aku sama sekali enggak bisa tahu apa-apa soal itu, dan toh hasil akhirnya sudah enggak lagi bisa diubah.

Dengan demikian pula, aku jadi tak terlalu suka dengan tamat yang seri ini berikan, walau kudengar ada kalangan orang-orang tertentu yang konon merasa puas dengannya. Yah, keadaannya bisa jadi lebih buruk sih. Dan bagaimanapun ini tetap jadi anime produksi JC Staff yang kedua paling aku sukai sesudah Yume Mahou. Di samping karena desain karakternya yang… ‘luar biasa’ (padahal game-nya sendiri bukan jenis yang begituan), juga karena lagu pembukanya yang—meski benci kuakui—terlanjur sangat kusukai. Kekreatifan tim pembuatnya untuk memisahkan sang tokoh utama dalam game menjadi dua orang (perhatikan bahwa nama tokoh yang kita mainkan dalam game adalah ‘Aihara Koichi’), memasukkan unsur drama yang kuat, tidak mengarahkannya ke jalur harem, dan memasukkan tokoh baru (Kai-kun, yang jadi love interest Mao-nee) juga patut dipuji.

Yeah, segala sesuatu bisa jadi lebih buruk. Tapi pada akhirnya tetap saja aku jadi mencari-cari doujin untuk menyalurkan ketidakpuasanku.

Cih! Padahal kupikir ini bisa jadi sesuatu yang hebat!

…Tunggu, kok kesannya jadi kayak Gundam 00 sih?

Penilaian

Konsep: B;Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B-

Turn A Gundam

Posted by: alfare on: November 11, 2009

Turn A Gundam mungkin merupakan seri Gundam terakhir yang masih ‘asli’; dalam artian dibuat langsung oleh sutradara yang menciptakannya sendiri, Yoshiyuki Tomino. Meski demikian, terdapat jeda panjang antara seri ini dengan seri Kidou Senshi V Gundam yang beliau sebelumnya buat, dan di antaranya sudah ada tiga seri Gundam AU yang telah dibuat orang lain, yakni Gundam G, Gundam Wing, dan Gundam X. Sudah pasti ada pergeseran selera pemirsa dan perubahan paradigma terhadap apa yang disebut sebuah seri anime mecha. Mungkin itu alasan mengapa ada kesan kalau Turn A Gundam dibuat dengan begitu seenaknya sendiri.

Bumi Itu Luar Biasa!

Meski ‘asli’, seri ini merupakan seri Gundam paling ‘aneh’ yang pernah ada. Alih-alih berlatar futuristis, sebagian besar cerita bertempat di bumi di masa ketika peradaban manusia telah ‘mundur’ ke masa lampau, menjadi kurang lebih sama seperti ketika masa-masa sebelum dimulainya Revolusi Industri.

Alkisah, tanpa sepengetahuan orang-orang bumi, hidup di bawah permukaan bulan, terdapat segolongan manusia yang masih menjalani peradaban canggih yang tersisa dari masa lalu. Kaum ini disebut Moonrace. Tiga remaja Moonrace: Loran Cehack, Keith Laijie, dan Fran Doll; lalu diutus ke bumi oleh pemerintahan mereka sebagai ‘mata-mata’ untuk memastikan apakah bumi sudah menjadi tempat yang layak bagi masyarakat bulan untuk ‘kembali’ atau belum. Tiba di bumi dengan menggunakan MS Flat, mereka bertiga berpisah jalan dan Loran menuju kota Vicinity di negeri Inglessa, benua Ameria, untuk melamar kerja sebagai pekerja di pertambangan milik keluarga Heim.

Sesampainya di sana, Loran lalu berkenalan dengan kedua putri keluarga tersebut yang sebaya dirinya: Kihel Heim dan Sochie Heim. Satu fakta yang mengejutkan adalah bahwa sang kakak, Kihel Heim, ternyata memiliki wajah dan pembawaan yang sama persis dengan pemimpin Moonrace, ratu Dianna Soriel yang sudah lama Loran kagumi. Loran tak pernah menduga bagaimana kebetulan fenomenal ini kelak akan begitu mempengaruhi nasibnya.

Dua tahun kemudian berlalu. Loran, berkat kehandalannya menangani mesin, telah naik pangkat menjadi supir pribadi keluarga Heim. Keith telah bekerja sebagai pembuat roti. Fran telah berprofesi sebagai fotografer surat kabar. Ketiganya bertemu kembali di ibukota Inglessa, Nocis, menjelang upacara adat kedewasaan yang sebentar lagi harus Loran dan Sochie jalani sebagai tradisi penduduk Vicinity.

Dalam upacara tersebut, para remaja yang beranjak dewasa akan menari dan menyanyi di bawah naungan patung putih yang mereka puja, White Doll. Namun perayaan tersebut ternyata akan dilangsungkan pada hari yang sama dengan pawai Militia Inglessa di Nocis. Sesudah bertukar kabar, tiga sekawan itu segera memahami bahwa negeri Inglessa konon tengah mempersiapkan diri akan datangnya serangan dari negara asing yang disebut ‘Galia’. Rupanya untuk alasan tersebutlah Militia dibentuk dan senjata-senjata berat ditempatkan di seluruh penjuru Nocis.

Namun di luar dugaan, tanpa sepengetahuan orang-orang awam, negeri Galia yang dimaksud orang-orang ternyata tak lain adalah Moonrace yang datang dari luar angkasa! Pemimpin Inglessa yang masih muda, Guin Sard Lineford, selama dua tahun terakhir rupanya telah menjalin kontak lewat radio secara diam-diam dengan orang-orang bulan. Guin, dengan didorong keinginan untuk mengindustrialisasi negaranya, hanya bersedia memberikan sebagian tanahnya untuk tempat tinggal Moonrace sesudah mereka terlebih dahulu ‘berbagi’ teknologi dengannya. Perdebatan alot selama dua tahun ini mencapai puncaknya tatkala pasukan Moonrace secara sepihak menyatakan perang dengan menginvasi kota Nocis menggunakan pasukan mobile suit WaDom dan WaD, persis pada malam dilangsungkannya upacara kedewasaan yang diikuti Loran dan Sochie.

Dalam pertempuran yang tak terelakkan lagi, patung White Doll yang Loran dan Sochie panjati tiba-tiba saja bergerak sendiri saat pasukan Moonrace di Nocis semakin mendekat ke arah Vicinity. Kulit permukaan patung tersebut mengelupas, memperlihatkan sosok sesungguhnya sebagai Mobile Suit putih yang ‘berkumis’. Mengikuti nalurinya, Loran membimbing Sochie menaiki White Doll yang mekanisme pertahanan diri otomatisnya berhasil memukul mundur pasukan Moonrace…

Faktor Tak Terduga

Kemunculan White Doll menjadi faktor tak terduga yang harus diperhitungkan oleh semua pihak. Loran, berkat pengetahuannya akan mesin, semakin memahami cara-cara pengendalian White Doll dari ‘laptop’ petunjuk yang ia temukan di kokpitnya. Namun karenanya ia dipaksa Guin untuk bergabung bersama Militia sebagai pilot White Doll, yang nantinya hendak ia gunakan sebagai kartu yang bisa ia mainkan dalam pertarungan diplomasi melawan Moonrace. Sochie, yang ayahnya terbunuh dalam serangan malam itu, memutuskan untuk turut serta bergabung bersama Militia demi membalas dendam. Kihel, yang kini sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai sekretaris Guin, masih terjebak bersama ibunya di Nocis dan bahkan masih belum mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal.

Fran ingin mendokumentasikan kejadian-kejadian bersejarah ini dengan memotretnya. Tapi tak ada satupun surat kabar yang bersedia membeli foto-foto karyanya karena mencemaskan intervensi dari salah satu pihak militer. Sementara Keith menolak ikut campur sama sekali dengan segala perselisihan, dan bersikeras menjual rotinya sebagai bahan pangan kepada kedua belah pihak. Menyaksikan tekad mereka, Loran akhirnya bersedia untuk bergabung bersama Militia agar bisa menggunakan kekuatan White Doll untuk mencegah jatuhnya korban.

Pihak Moonrace sendiri, yang dipelopori tentara Dianna Counter, dengan dipimpin oleh Aji, sama sekali tidak menduga bahwa pihak bumi juga memiliki mobile suit. Karena itu mereka sudi menerima tawaran Guin untuk membuka kembali jalur diplomasi. Terlebih, meski telah memperhitungkan kemungkinan pecahnya pertempuran dengan berbagai senapan mesin dan berpeleton-peleton pesawat capung, Guin di sisi lain sama sekali tak menyangka perbedaan kekuatan di antara mereka akan sedemikian jauh.

Namun pembicaraan damai yang dilangsungkan itu berakhir pahit saat Aji secara misterius terbunuh oleh orang-orang yang menyatakan diri sebagai bagian dari Militia. Sekali lagi, upaya diplomasi gagal. Wakil Aji, Phil Ackman, mengambil alih peran sebagai pemimpin pihak Moonrace untuk sementara bersama ajudannya, Poe. Kedudukan Guin menjadi sulit. Namun ia kembali diselamatkan oleh kedatangan Dianna Soriel dari bulan yang tiba bersama pengawalnya yang terpercaya, Harry Ord. Berbeda dengan sebagian besar orang di sekelilingnya, Dianna sungguh-sungguh ingin suatu hubungan damai bisa terjalin antara kedua belah pihak, sehingga ia tak ingin upaya migrasi yang hendak dilakukannya ternodai oleh pertumpahan darah. Tapi hubungan mereka yang sudah terlanjur memburuk semakin mempersulit kehidupan bagi kedua belah pihak. Terlebih sesudah pihak Militia menemukan MS-MS mereka sendiri yang terkubur di wilayah-wilayah yang disebut Mountain Cycle, yang Guin pandang sebagai peluangnya untuk membuka era baru yang dicita-citakannya.

Berkat kesigapan Loran dan Harry, terungkaplah indikasi akan adanya pihak-pihak tertentu yang memang mengharapkan berlangsungnya perang antara pihak bulan dan bumi. Hal ini semakin dipertegas dengan terjadinya beberapa upaya untuk membunuh Dianna dan dilepaskannya penjahat berbahaya Corin Nander dari penjara kriogeniknya untuk membantu pihak Moonrace, yang ternyata didalangi sosok misterius bernama Agrippa Maintainer.

Corin yang sudah separuh gila, dengan penuh nafsu memburu White Doll dan bahkan seorang diri menghancurkan kota Nocis demi mencarinya, menyebut-nyebutnya sebagai mimpi buruk yang dulu pernah membinasakan peradaban umat manusia: Turn A Gundam.

Dan Cinta Di Antara Kita Akan Memulihkan Tanah Ini!

Dari ringkasan cerita di atas bisa tertebak bahwa bahwa plot seri ini berjalan jauh lebih lambat dibandingkan seri-seri Gundam lain. Pokoknya, Turn A Gundam secara garis besar lebih banyak berfokus pada bagaimana tiap-tiap karakter di dalam cerita berupaya melakukan sesuatu yang dipikirkannya benar, tapi tanpa sepenuhnya memahami bagaimana implikasi tindakannya tersebut bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan pola seperti inilah, plot sederhana yang dimiliki Turn A Gundam bergerak.

Seperti Eureka Seven, porsi adegan-adegan pertempuran di Turn A Gundam jauh lebih sedikit dibandingkan porsi yang dihabiskan untuk perwatakan tokoh. Bahkan momen ‘perang penentuan besar’ sebagaimana yang bisa ditemukan dalam seri-seri Gundam lain bisa dikatakan absen(!) dalam seri ini. Meski begitu, tak dapat disangkal bahwa sekalipun dengan durasinya yang terbatas, koreografi adegan-adegan pertarungan mecha di Turn A Gundam termasuk salah satu yang paling keren dan detil yang pernah ada. Di mataku sebagai penggemar berat anime mecha, adegan-adegan pertarungannya sangat rame. Tapi sebagai drama komedi dan kehidupan pun, Turn A Gundam sebenarnya sudah lebih dari bagus. Seperti ide-ide ceritanya yang aneh, desain mechanya yang ‘unik’ juga sebenarnya tak jadi masalah, karena lama-lama kita bakal terbiasa dan bahkan menyukainya. Sayang sisi mechanya tak terlalu ditonjolkan, sehingga tak banyak yang bisa kukatakan tentangnya…

Yang pasti, meski dipandang sebagai seri Gundam paling abnormal, kisah cinta antara ratu Dianna dan Loran yang menjadi ksatrianya ini tetap berhasil meraih sejumlah penggemar fanatik di seluruh penjuru dunia. Soalnya, memang susah untuk tak jatuh cinta pada setiap tokoh-tokohnya sih. Secara pribadi, aku memang kecewa karena unsur intrik dan pertempurannya tak sebanyak yang semula aku kira. Tapi whew, aku bohong kalau bilang aku enggak puas.

Romantisme Di Balik Pertanyaan Tentang Siapa Sebenarnya Agrippa Maintainer

Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah bahwa sepanjang seri ini, sutradara Tomino sebisa mungkin tidak memperlihatkan adegan-adegan kematian dan pengrusakan secara langsung. Memang ini terasa aneh untuk sebuah seri Gundam, yang di dalamnya seringkali ada adegan-adegan kehancuran besar-besaran dan pembunuhan massal. Apalagi Tomino sendiri dulu terkenal karena pernah menyutradarai adegan hilangnya kepala seorang anak kecil akibat letusan meriam. Tapi mungkin Tomino ingin mencoba memberi suatu warna lain pada karyanya. Sesuatu yang lebih… optimis dan bernuansa positif. Kurasa itulah alasan mengapa Turn A Gundam begitu nyaman ditonton; sekalipun ada sedikit bumbu nudity di sana-sini, sebab di balik kesederhanaannya, dilatari keindahan musik Yoko Kanno yang cemerlang, seri ini menyajikan cerita bermakna yang indah buat dikenang.

Oya. Dan aku berharap suatu saat aku bisa cosplay sebagai Harry Ord.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A+; Eksekusi A-; Perkembangan: B; Kepuasan Akhir: A

Macross Frontier

Posted by: alfare on: November 11, 2009

Uh, entah mengapa aku malas mengulas ini. Aku menikmati tontonannya, sih. Cuma bagaimana ya? Ada sesuatu yang membuatku tak ingin terlalu mengingat detilnya. Hm, kenapa aku ngerasa kayak gini ya?

Eniwei, intinya, sama seperti Gundam Seed (mungkin), Macross Frontier (ato Macross F)merupakan seri Macross yang ditujukan bagi generasi baru. Kelihatan jelas gimana mereka nyoba ngebungkus semua elemen seri-seri Macross lama: alien, pesawat valkyrie yang bisa berubah menjadi bentuk humanoid, romantisme cinta segitiga, penyanyi-penyanti pop; dalam sebuah kemasan yang baru. Dan meski termasuk anime mecha, aku sebenarnya bukan penggemar seri-seri Macross. Jadi kurasa penilaianku di sini mungkin rada subjektif. Tapi secara pribadi, untuk konteks yang telah kusebutkan di atas, menurutku Studio Nue di bawah pimpinan Kawamori Shoji sebagai pembuatnya udah lumayan berhasil.

Ini… menarik. Singkatnya begitu.

 

Sebelum Konser

Macross F berlatar di kapal induk Macross Frontier, sekian… tahun (aku lupa tepatnya) sesudah armada kapal raksasa sejenis mereka meninggalkan planet bumi demi menjelajahi angkasa raya, mencari tempat-tempat hunian baru melalui teknologi perpindahan dimensi ruang yang disebut ‘fold’ (latar belakang kepergian umat manusia ke angkasa raya mereka diceritain dalam seri Macross yang paling pertama). Tokoh utamanya kali ini adalah Alto Saotome, seorang remaja lelaki cantik yang memberontak terhadap tradisi seni kabuki ayahnya dengan bersekolah di jurusan penerbangan, yang tengah merasa depresi karena langit buatan di dalam kapal yang diterbanginya memiliki luas yang amat terbatas.

Pada suatu waktu, penyanyi pop terkenal Sheryl Nome dari kapal induk Macross Galaxy akan berkunjung ke Frontier untuk mengadakan konser. Alto dan dua kawan dekatnya, si playboy Mikhail Blanc dan Luca Angelloni yang mungil namun cerdas, mendapat pekerjaan sebagai penerbang latar(!) dalam penampilannya nanti. Sebagai murid-murid jurusan penerbangan, mereka akan terbang saat konser ala penari, melakukan segalam macam hal dengan menggunakan perangkat EX-Gear yang mereka kenakan, yang merupakan semacam perangkat terbang portabel yang dapat dipasangkan pada badan yang sekaligus menjadi antarmuka pengendali saat hendak memiloti pesawat.

Menjelang pelaksanaan konser, di halaman belakang gedung pertunjukan yang berbatasan dengan hutan, Alto yang tengah bersiap-siap secara kebetulan menolong Ranka Lee, seorang gadis manis yang juga merupakan penggemar berat Sheryl. Ranka yang amat mengidolakan Sheryl ini diam-diam juga memiliki cita-cita untuk menjadi penyanyi. Ranka berterima kasih pada Alto, dan memintanya untuk mengunjungi restoran masakan Cina Nyan-Nyan tempat dia bekerja agar ia bisa membalas kebaikannya nanti.

 

Civilian Military Provider

Singkat cerita, sesudah pertemuan pertama yang kurang akur antara Alto dan Sheryl karena sifat mereka yang bertentangan, konser meriah yang tengah berlangsung terpaksa dihentikan akibat serangan tiba-tiba dari ras alien misterius yang disebut ‘Vajra’, makhluk-makhluk serupa serangga raksasa yang terbukti mampu menjadi lebih dari sekedar tandingan terhadap persawat-pesawat valkyrie NUNS (New United Nations) yang menjadi basis pertahanan utama dari Frontier. Para Vajra yang liar ini memiliki ‘sesuatu’ yang mampu mendistorsi dimensi ruang ala teknologi fold, yang menjadikan senjata-senjata konvensional pasukan NUNS menjadi tak berguna terhadap mereka.

Dalam keadaan yang tampak genting dan tanpa harapan itulah, tiba-tiba saja sebuah pasukan pesawat valkyrie misterius yang belakangan diketahui berasal dari perusahaan militer swasta SMS (Strategic Military Services) milik pengusaha Richard Bilrer muncul dan membalikkan keadaan. Pesawat-pesawat ini lebih canggih dan tampak jelas dikemudikan oleh orang-orang yang lebih ahli.

Alto, tercengang akibat kemunculan Vajra dan pasukan SMS, kini terjebak dalam aksi tembak-menembak karena berusaha menolong Ranka yang terpisah dari kerumunan penonton yang lain. Salah satu pesawat variabel valkyrie VF-25 Messiah yang dikemudikan Henry Gilliam dari SMS kemudian menyadari keberadaan mereka berdua. Tapi upaya berani Gilliam untuk meloloskan Alto dan Ranka berakhir tragis saat salah satu Vajra tiba-tiba menyergap Gilliam ketika keluar kokpit. Terdesak dan nekad, Alto akhirnya mengambil alih kemudi Messiah Gilliam, dengan menggunakan EX-Gear yang masih dikenakannya, dan secara mengejutkan berhasil melarikan diri dari kejaran Vajra sambil membawa Ranka.

Keadaan darurat kemudian diterapkan di Frontier sesudah serangan mereda. Vajra ditetapkan sebagai ancaman yang dapat menyerang sewaktu-waktu dan keadaan siaga diberlakukan sampai informasi tentang mereka berhasil dikumpulkan lebih lanjut.

Alto, yang semula dimarahi akibat membawa lari sebuah valkyrie secara seenaknya meski statusnya adalah sebagai seorang warga sipil, kemudian balik bersikeras untuk bergabung bersama SMS, agar bisa melindungi Frontier di samping sejumlah alasan pribadinya yang lain. Tapi secara mengejutkan ia mendapati bahwa kedua sahabatnya, Mikhail dan Luca, ternyata semenjak awal adalah anggota SMS! Mikhail adalah ahli tembak sebagai Luca adalah ahli pemantauan. Dan pemimpin Skull Squadron yang menjadi pasukan andalan SMS ternyata tak lain adalah Ozma Lee, kakak angkat Ranka yang selama ini merahasiakan profesinya yang sesungguhnya kepada sang adik.

Bersama dengan perubahan situasi yang mengejutkan ini, Alto semakin terseret ke dalam pusaran kebimbangan saat secara perlahan mulai menjalin hubungan mendalam dengan Seryl dan Ranka, dua orang gadis yang kelak akan menjadi sepasang sayap yang akan membawanya untuk terbang tinggi.

 

Siapa yang Akan Kau Cium?

Bagaimanapun, kehidupan mesti terus berlanjut. Seri Macross Frontier secara garis besar bercerita tentang kehidupan orang-orang di kapal Frontier selama mereka berusaha mempertahankan diri dari ancaman Vajra. Di samping bersekolah, Alto mulai bekerja keras agar bisa diterima sebagai bagian SMS yang pantas menjadi pengganti Gilliam. Ranka, akibat pertemuan langsungnya dengan Sheryl, secara serius bertekad memulai karirnya sebagai penyanyi. Sementara Sheryl sendiri, yang kini untuk sementara harus menetap di Frontier sesudah putusnya kontak dengan Galaxy akibat serangan Vajra, berusaha menemukan kembali makna hidupnya sesudah pertemuannya dengan Alto dan Ranka yang entah bagaimana sedemikian menggugah perasaannya.

Untuk anime berdurasi 20an episode, ada banyak tokoh dan jalinan hubungan yang diperkenalkan dalam seri ini. Mulai dari Ozma Lee, sang kakak laki-laki yang keras, yang ternyata dulu pernah menjalin hubungan dengan Catherine Glass, putri presiden NUNS Howard Glass; Leon Mishima, bawahan Howard yang menjadi tunangan Catherine saat ini; Clan Clang, teman masa kecil Mikhail yang merupakan sesama pegawai SMS; Grace O’Connor, manajer Sheryl yang meski berkemampuan, kerap membuat atasannya kesal; hingga Brera Sterne, pilot valkyrie misterius dari Galaxy, bersama pesawatnya yang sama misteriusnya, yang kerap muncul tiba-tiba di hadapan Alto dan Ranka.

Seiring dengan berkembangnya kehidupan masing-masing tokoh, secara perlahan tapi pasti teka-teki tentang asal-usul Vajra dan alasan penyerangan berkala mereka atas Frontier semakin terkuak, yang ternyata berhubungan dengan sebuah eksperimen gagal di masa lalu dan suatu persekongkolan rahasia demi menguasai alam semesta…

Selama itu berlangsung, sebagai bentuk peringatan atas ulang tahun ke25 seri Macross, terdapat banyak sekali referensi terhadap seri-seri Macross terdahulu; Ranka, Clang, dan banyak tokoh lainnya sama-sama memiliki darah Zentraendi; sejumlah adegan yang Alto lakukan sangat mirip dengan beberapa adegan yang Hikaru Ichijyo lakukan dulu pada seri Macross pertama; lantunan lagu-lagu dari grup musik ‘lawas’ Fire Bomber; adanya adegan nanas; dan bahkan ada satu episode yang secara khusus memberi ringkasan mengenai apa yang terjadi dalam Macross Zero, dalam bentuk adaptasi film layar lebar ^^.

Drama kehidupan, cinta, komedi, hingga aksi pertempuran mecha seru antara alien dengan pesawat-pesawat yang bisa berubah bentuk mewarnai keseluruhan seri ini, sebelum akhirnya ditutup dengan salah satu adegan pertempuran terakhir paling ‘menggelegar’ yang pernah aku lihat (adegan pertempuran terakhir ini secara mengejutkan bahkan lebih memuaskan daripada adegan pertempuran akhir di Gundam 00).

Memang ada banyak subplot yang ditampilkan hanya ‘seadanya’ yang akhirnya memunculkan sejumlah pertanyaan minor yang jawabannya sampe akhir engga pernah dijelasin (kayak gimana SMS bisa kebentuk kepisah dari NUNS, misalnya. Atau kejelasan lebih lanjut soal hubungan Sheryl dengan tokoh kakak beradik Sara dan Mao Nome dari Macross Zero). Tapi cara penuturannya yang pas membuat sempilan-sempilan plot tersebut semakin menambah kaya warna-warni dalam seri ini. Jadi sejujurnya, aku ga terlalu ada keluhan. Dan seandainya ada keluhan, mungkin itu cuma ada dari segi perkembangan karatker-karakter utamanya yang kayaknya ga semengalir seri-seri Macross pendahulunya, yang jadinya emang agak ngeganggu realisme. Tapi itu bisa dimaklumi mengingat jumlah episode seri ini yang hanya setengah dari Macross pertama maupun Macross 7. Pacing ceritanya memang agak canggung, tapi seenggaknya semua plot utama bisa terselesaikan dengan baik.

Terlepas dari itu, aspek presentasinya enggak perlu dipertanyakan. Visualnya termasuk salah satu yang paling bagus untuk masa sekarang, dengan warna-warna terang nan tajam dan pergerakan animasi yang luar biasa halus dan lancar (ada satu adegan ketika Ranka memanjati batang pohon tumbang yang ga akan kulupain karena saking halus animasinya). Musiknya ditangani oleh Yoko Kanno, yang kemampuan aransemennya ga perlu diragukan lagi. Bahkan beberapa lagu tema Macross F yang dibuat khusus olehnya sampai nongkrong di posisi-posisi atas tangga lagu Oricon Chart selama serial ini ditayangkan. Salah satu lagu tersebut bahkan dibawakan oleh salah satu seiyuu favoritku, Sakamoto Maaya, yang juga sempat menyuarakan Ranshe Mai, mendiang ibu Ranka dalam seri ini.

Macross F juga menjadi debut Nakajima Megumi sebagai seiyuu, yang suara renyahnya telah menghidupkan karakter Ranka, dan kemudian melibatkannya dalam pengembangan salah satu edisi Vocaloid.

Kabarnya, dua versi layar lebar Macross F tengah dipersiapkan. Satu merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya, sedangkan satu lagi memaparkan cerita yang sama sekali baru. Kayak gimana hasilnya ntar tentu perlu kita liat nanti.

 

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: A

Samurai Champloo

Posted by: alfare on: November 4, 2009

Anime terakhir yang kutonton sampai tamat belum lama ini adalah Samurai Champloo.

Yea, aku tau ini anime lama. Aku pernah menonton beberapa episodenya beberapa tahun lalu. Tapi baru beberapa bulan lalu aku tertarik lagi dan akhirnya mau menonton ulang sampai tamat.

Bagi yang belum tahu, Samurai Champloo merupakan buah karya kedua Shinichiro Watanabe sesudah seri Cowboy Bebop yang legendaris. Serupa dengan Bebop yang meramu musik jazz dengan adegan-adegan aksi koboi luar angkasa, Champloo menyelaraskan musik hiphop dengan ganasnya pertarungan pedang ala samurai di penghujung zaman feodal Jepang. Tapi beda dengan Bebop yang rada serius dan berkesinambungan, Champloo bersifat episodik, hampir ga serius, dan bahkan kadang rasa ngasal dalam netapin alur ceritanya. Tapi unsur hiphop yang Champloo usung tetap saja turut mengangkat sisi gelap kehidupan—yang seringkali dikunjungi orang setiap habis khilaf atau membuat keputusan yang salah—jadi jangan harapkan sebuah tontonan yang cocok buat anak-anak.

The sons of a battle cry, a battle cry

Gampangnya, Champloo berkisah tentang perjalanan tiga sekawan, Mugen, Jin, dan Fuu; dalam mencari seorang samurai yang menebarkan aroma bunga matahari. Mugen adalah pria kasar yang gaya berpedangnya kalau di zaman sekarang mengingatkan orang akan break dance. Jin adalah seorang cowok cool pendiam yang gayanya seperti stereotipe samurai kebanyakan. Sedangkan Fuu adalah cewek remaja enerjik yang berhasil mencegah kedua lelaki berbahaya di atas untuk saling membunuh dan memaksa mereka berdua ikut bersamanya dalam menempuh perjalanan panjang nan enggak jelas ini.

Buat kalian yang mikirin ‘samurai yang menebarkan aroma bunga matahari’ ini maksudnya apaan, tenang aja. Soalnya Mugen dan Jin juga berulangkali mempertanyakan hal yang sama sepanjang cerita. Jadi jangan terlalu dipikirin kalo kalian emang blum nonton.

Intinya, Champloo adalah tentang semua petualangan yang tiga sekawan ini alami dalam perjalanan mereka. Ada yang keren. Ada yang kocak enggak jelas. Tapi ada juga yang bisa bikin tercenung karena ceritanya lebih mirip drama kehidupan di ghetto orang negro daripada sebuah anime Jepang. Cakupan ceritanya teramat luas, mulai dari keinginan untuk membebaskan seorang cewek dari jebakan prostitusi, sampai kepada upaya menghadang kedatangan armada kapal laut Amerika Serikat lewat pertandingan bisbol. Perlahan-lahan, masa lalu pribadi ketiganya pun terkuak, dan bagaimana mereka memandang arti perjalanan mereka dan menghadapi masa lalu masing-masing menjadi tema utama terselubung dalam serial ini.

Lagu Empat Musim

Hm, gimana ngejabarinnya ya? Untuk sebuah anime engga jelas yang ceritanya bisa tentang apapun (maksudku di sini adalah beneran APAPUN), Samurai Champloo termasuk bagus. Beneran bagus. Ga mungkin bisa sedahsyat Bebop sih, tapi tetap bagus. Bahkan lima tahun sesudah pertama dibuatpun, kualitas animasinya menurutku termasuk tinggi, dengan gerakan-gerakan rumit nan halus serta warna-warna tajam yang kontras. Karakter-karakter yang mereka paparkan pun menarik meski jumlahnya cuma ‘segitu aja’. Musik yang ditampilin di dalamnya juga enggak usah diraguin.

Jadi apa kekurangannya? Hm, mungkin kenyataan bahwa ini sebuah anime enggak jelas yang kurang memiliki benang merah penyambung. Tapi dengan resep gado-gadonya, sebagai hiburan aja, Samurai Champloo termasuk berkualitas tinggi kok. Sangat direkomendasikan bagi mereka-mereka yang enggak lagi pengen nonton apa-apa secara khusus.

Penilaian

Konsep: A;Visual: S; Audio: A; Perkembangan: D; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Ergo Proxy

Posted by: alfare on: Oktober 25, 2009

Ini merupakan salah satu seri paling ‘menyegarkan’ yang muncul pada awal tahun 2000an, tak lain tak bukan karena animasinya yang halus dan latar futuristisnya yang benar-benar dibuat secara total. Genre-nya post-apocalyptic cyberpunk. Udah lama banget ga ada studio yang mengangkat tema ini sejak zaman tahun 90an. Manglobe bener-bener mengambil tindak langkah yang berani.

Terus terang, pada mulanya, aku sama sekali tak begitu tertarik menonton seri ini. Aku cuma setuju kalau seri ini bagus secara teknis saja. Ceritanya sendiri tampak terlalu gelap dan rumit, apalagi dengan mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan berbau filosofis yang tak benar-benar jelas maksud dan tujuannya apa. Tapi, semakin aku dewasa, semakin aku bisa memandang seri ini pikiran yang lebih jernih dan objektif.

Ceritanya emang rumit. Tapi penyajiannya enggak selalu segelap yang kusangka. Apalagi dengan soundtracknya yang dinyanyiin monoraul dan Radiohead. Dua band ternama bro! Daya pikat musiknya sulit buat ditolak!

Jadi, yah, aku emang setuju kalo seri ini emang bukan sesuatu yang bisa dinikmatin sama semua orang. Buat ngerti cerita ini juga enggak cukup dari cuma nonton sekali. Tapi aku juga ngerti bahwa itu bukan berarti sama sekali enggak ada hal berarti yang bisa aku ‘dapetin’ dari seri ini.

Makanya, aku coba nonton. ^^

Futuristik

Ergo Proxy bisa dibilang bergenre post-apocalyptic cyberpunk. Berlatar jauuuh di masa depan saat sebagian besar permukaan bumi sudah rusak dan tandus karena suatu sebab. Kehidupan manusia hanya ada dalam kubah-kubah khusus yang diatur sedemikian rupa oleh aturan-aturan totaliter yang ketat. Manusia hidup dengan didampingi android-android pembantu yang disebut ‘autorave’, yang diam-diam sebenarnya turut berperan sebagai pengawas masing-masing individu.

Di kota Romdeau, tersebutlah seorang pemuda bernama Vincent Law. Vincent adalah seorang warga kota kelas bawah yang menjadi imigran dari kubah lain bernama Moskow. Pekerjaannya sehari-hari adalah memburu dan menangkap autorave-autorave liar yang lepas kendali akibat berjangkitnya sebuah virus misterius bernama Cogito, yang entah bagaimana tampaknya membuat para autorave tak lagi berperilaku sebagaimana mestinya.

Vincent ini memiliki nasib yang benar-benar buruk. Dia sering sekali terlibat serangkaian kejadian aneh yang sama sekali tak dapat ia pahami. Terlebih dari itu, ia jatuh cinta pada perwira polisi wanita yang dahulu pernah menangkapnya, Riil Meyer, yang sebenarnya juga merupakan cucu salah seorang tokoh paling berpengaruh di kota tersebut. Intinya, berbeda dari dirinya, Riil merupakan seorang warga kota kelas atas yang seakan-akan berada di luar jangkauan.

Di tengah tekanan hidup yang semakin memuncak, kejadian paling aneh dan memusingkan akhirnya Vincent alami. Suatu hari, sepulang kerja, Vincent mendapati dirinya dikejar-kejar seekor (seorang?) monster.

Dalam pelariannya, monster tersebut membantai segala sesuatu yang menghalangi jalan antara dirinya dan Vincent. Korban dalam jumlah sangat banyak berjatuhan. Kehidupan teratur di Romdeau setelah sekian lama akhirnya ‘rusak’ untuk pertama kalinya akibat kejadian tersebut.

Berhasil meloloskan diri dari monster tersebut, sesampainya di rumah, Vincent kemudian mendapati bahwa autorave pribadinya, Dorothy, yang selama ini bertanggung jawab mengatur hidupnya, rupanya telah hancur mengenaskan secara misterius. Vincent kini turut dikejar-kejar polisi bukan hanya akibat insiden monster itu, tapi juga atas tuduhan utama telah ‘membunuh’ autorave pribadinya sendiri.

Dalam pelarian, Vincent dengan sia-sia berusaha meyakinkan Riil yang mengejarnya bahwa ia sama sekali tak bersalah.

Tapi tuduhan tersebut tak akan dilepaskan begitu saja karena rupanya monster yang mengejar-ngejar Vincent tersebut bukan hanya sekedar ‘monster’ belaka. Monster tersebut adalah Proxy, suatu makhluk hidup misterius yang selama ini diteliti di bawah pengawasan rahasia pemerintah. Pemerintah mengetahui apa sesungguhnya makhluk ini, dan berupaya menangkap kembali Proxy yang telah berhasil meloloskan diri, yang ternyata tak lain dari penyebab berjangkitnya wabah virus Cogito yang menimpa para autorave.

Dengan demikian, muncullah pertanyaan: apa hubungan Proxy dengan Vincent? Apa sebenarnya makhluk yang disebut Proxy itu, dan siapakah Vincent sebenarnya?

Vincent yang menyadari bahwa kehidupannya di Romdeau telah berakhir dengan berat hati memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut. Namun Raul Creed, pemimpin Romdeau saat ini, tak mau melepas penyebab aib dalam karirnya begitu saja. Demikian pula dengan Riil, yang akibat keterlibatannya menyadari bahwa ada suatu hal besar yang disembunyikan pemerintahan Romdeau dari para warganya.

Maka dimulailah perjalanan panjang Vincent dalam menemukan jati dirinya sekaligus jawaban atas kejadian-kejadian misterius yang melingkupi dirinya. Ditemani oleh Pino, seorang autorave berwujud anak perempuan yang telah terjangkit virus Cogito, dan nantinya Riil Meyer sendiri, yang dengan enggan harus mengakui ada ketertarikan yang dirasakan olehnya terhadap Vincent.

Aneh, Tapi Bagus Juga

Virus Cogito merupakan virus aneh yang menyebakan para autorave menyadari jati diri mereka sendiri. Dengan kata lain, virus tersebut membuat para autorave ‘berkepribadian’ dan ‘memiliki emosi’ selayaknya manusia, dan tidak lagi hanya menjadi bongkahan logam yang bertindak mengikuti setelan peraturan yang telah ditetapkan. Dengan mengambil gagasan itu sebagai acuan, perbandingan harga kemanusiaan dan harga keteraturan merupakan tema yang berulangkali terungkap dalam seri ini.

Tapi kalau harus bicara soal tema, agak susah untuk mengatakan keseluruhan tema ‘Ergo Proxy’ adalah tentang apa. Seri ini agak terlalu… aneh untuk bisa dijelaskan. Seringkali satu episode memiliki nuansa yang begitu berbeda dari episode sebelumnya, sehingga kau dibuat bertanya-tanya apakah kau masih menonton anime yang sama. Dan ini terjadi berulangkali, bahkan hingga akhir cerita. Meski plot cerita ini ada dan semua teka-teki akhirnya terungkap dan dijelaskan, penjabaran yang dipakai sama sekali enggak lazim dan sulit dimengerti.

Masih bagus sih. Cuma aneh.

Kalau kamu merasa kamu cukup dewasa sebagai manusia dan berkeinginan menonton suatu anime yang ‘beda’ dan bisa membuat kamu sedikit mikir, tontonlah ‘Ergo Proxy’. Emang dibutuhkan banyak kesabaran sih. Tapi hasil akhirnya lumayan seru kok.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Eksekusi: X; Perkembangan: A-; Kepuasan Akhir: B+

Bounen no Xamdou

Posted by: alfare on: Agustus 3, 2009

BONES itu studio animasi yang sudah ternama. Karya-karya mereka itu, baik yang bagus apa enggak, selalu punya animasi berkualitas tinggi dan ciri khas tersendiri di dalamnya.

Ciri khas itu juga ada di Bounen no Xamdou, yang berformat ONA yang didistribusikan melalui saluran Playstation Network (gampangnya, colokan online bagi mereka yang punya PS3). Cuma ngeliat sekejap aja, orang bisa tahu kalau serial 26 epsode ini dibikin dengan biaya lumayan tinggi. Tapi ciri khas itu di sini… anehnya, enggak akan begitu menonjol sampai pertengahan seri. Jadi orang yang nonton serial ini enggak akan begitu jelas demografinya sampai ceritanya sendiri… uh, udah mulai jelas. (uh, maksudku enggak jelas ya?)

Tapi sayangnya, masalah pertama yang Xamdou miliki adalah: hampir separuh awal ceritanya bener-bener enggak jelas.

Remaja Korban Perang

Untuk lebih gampangnya, Xamdou mungkin bisa dibilang bergenre fantasi melodrama. Dunianya berlatar kontemporer, meski teknologi yang berkembang sama sekali berbeda dengan teknologi yang berkembang di dunia kita. Di dunia ini, listrik dihasilkan dari senyawa-senyawa organik. Lalu ada pesawat-pesawat berbentuk eksotis yang terbang dengan letupan-letupan sinar berwarna pelangi. Sisanya, yah, kurang lebih sama dengan masyarakat dunia kita (Jepang) di mana ada ibu-ibu rumah tangga, sepeda, mobil, es krim, mesin penjual minuman kaleng, roti coklat, dojo bela diri, lautan, gunung, serta sekolah.

Nah, ada dua negara yang ceritanya sedang berperang, yakni Utara dan Selatan. Di pulau Sentan, yang terletak di perbatasan kedua negara ini, tapi termasuk ke dalam wilayah Selatan, hidup remaja SMA bernama Akiyuki Takehara. Pada suatu pagi, saat ia naik bis menuju sekolah bersama dua sahabatnya, Haru Nishimura dan Furuichi Teraoka, diam-diam ia meloloskan seorang gadis asing berambut putih—yang disangkanya sebagai murid pindahan—dari pengawasan pihak militer yang tengah mengawasi segala sesuatu untuk mencegah masuknya mata-mata Utara. Dan ternyata, sesampainya di gerbang sekolah, gadis yang ditolong Akiyuki ini kemudian ‘meledakkan’ bis yang baru mereka naiki!

Syok, Akiyuki yang menyadari bahwa gadis tersebut pastilah salah satu pelaku ‘bom bunuh diri’ yang belakangan banyak dibicarakan, berlari kembali ke bis untuk memeriksa keadaannya. Di sana, benih Hiruko yang telah disebarkan gadis itu lalu tertanam dalam diri Akiyuki, mengubahnya menjadi makhluk putih aneh yang membuat panik semua orang. Sesaat sebelum kehilangan kesadaran, gadis itu meyakinkan Akiyuki bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan menyebut Akiyuki yang telah berubah wujud itu sebagai ‘Xam’d dari Ingatan yang Hilang’.

Tepat pada saat itu, sirene peringatan berkumandang, pertanda bahwa pihak Utara akan melancarkan serangan udara.

Sang Penunggang Awan

Zanbani adalah sebuah kapal pos yang agak istimewa. Mereka memang bekerja mengantar surat, tapi cara mereka melakukannya… tidak bisa dibilang sepenuhnya ‘bersih’.

Kapal udara ini ceritanya terdesak ke pulau Sentan karena kejaran kapal-kapal militer dari Utara. Salah satu awaknya, Nakiami, mengabaikan peringatan kaptennya, Ishu, dan mengendarai sepeda motor udara Beat Kayak untuk melihat keadaan di sekitar. Sebenarnya, Nakiami nekad pergi karena secara telepatis mendengar suara panggilan dan seketika menyadari bahwa ada ‘sesuatu’ yang membutuhkan dirinya.

Nakiami sendiri sama sekali bukan gadis biasa. Perempuan dengan dandanan unik dan jarang tersenyum ini mampu mendengarkan ‘suara-suara’ bentuk-bentuk kehidupan lain dan dengannya mampu melakukan jurus-jurus hipnotis aneh yang mampu mempengaruhi kesadaran lawan. Orang-orang seperti dirinya belakangan dikenal dengan sebutan ‘Tamayobi’.

Nah, di tengah kekacauan pertempuran yang merebak, Akiyuki yang telah berubah menjadi monster mengamuk dan menghancurkan monster-monster Humanform (‘Hitogata’) yang dijatuhkan pihak Utara dari pesawat-pesawat mereka. Haru yang bakatnya sebagai Tamayobi mulai bangkit akhirnya menyadari bahwa monster putih itu sesungguhnya adalah Akiyuki. Lalu meski dianugrahi kekuatan luar biasa sebagai Xam’d, kesadaran Akiyuki akan tergantikan oleh kesadaran Hiruko yang sepenuhnya berusaha mengikuti nalurinya untuk bertahan hidup. Saat benak Akiyuki mulai melupakan dirinya sebagai individu dan semakin tenggelam dalam kesadaran Hiruko, maka pada saat itu pulalah tubuhnya akan mengkristal hingga akhirnya ia berubah menjadi batu.

Beruntung, Nakiami datang tepat pada waktunya untuk meredakan amarah Hiruko dan memulihkan tubuh Akiyuki dari kondisi tersebut. Nakiami kemudian memerintahkan Akiyuki untuk ‘berpikir’ agar dirinya tak sampai lupa diri dan, karena terdesak oleh pertempuran yang mengganas, di depan mata Haru, Nakiami terpaksa pula ‘menculik’ Akiyuki yang pingsan dan membawanya ke Zanbani untuk kabur dari pulau Sentan yang dilanda perang.

Kehidupan Orang-orang Kesepian

Masalah kedua yang Xamdou miliki adalah: orang-orang enggak akan dengan gampang mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tahu-tahu saja cerita sudah beralih ke sudut pandang kedua orangtua Akiyuki, yang sebenarnya sedang tak begitu akur, yang sama-sama terpukul oleh hilangnya putra mereka satu-satunya. Ayah Akiyuki, yang kini berprofesi sebagai dokter, diam-diam mempertanyakan apakah bencana yang menimpa putranya adalah karma akibat perbuatannya sendiri di masa lalu yang telah lama ia tinggalkan. Lalu Furuichi, yang diam-diam menyukai Haru, bersikeras untuk percaya bahwa Akiyuki telah mati dan menolak untuk mendengarkan perkembangan situasi aneh yang telah Haru saksikan. Hal itu akhirnya memicu konflik di antara mereka, yang membawa mereka sama-sama bergabung bersama militer. Sementara itu, kepemimpinan pemerintah militer di pulau Sentan telah berganti, dan sebuah agenda rahasia sekaligus berbahaya diam-diam mulai dijalankan…

Akiyuki sendiri, yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang telah terjadi pada dirinya, akhirnya terpaksa ikut hidup sebagai tukang pos bersama awak-awak kapal lain di Zanbani. Saat ia akhirnya mengerti bahwa kini ada ‘makhluk lain’ yang bersimbiosis bersama dirinya, dan membiarkan makhluk aneh itu mengambil alih akan memberinya kekuatan luar biasa dengan resiko drinya akan lupa diri dan akhirnya membatu, Akiyuki lalu bertekad untuk mencoba hidup berdampingan bersama Hiruko tersebut. Dan bukan hanya bersama Hiruko, melainkan juga bersama semua bentuk kehidupan berkesadaran lain yang ada di planet ini. Tekadnya itu ternyata akan diuji sampai berulang-ulangkali sepanjang cerita.

Lalu siapa sebenarnya Nakiami? Bagaimana bisa dia mengerti cara-cara yang diperlukan untuk ‘mendidik’ Akiyuki dan Hiruko di dalam dirinya, sekaligus senantiasa menjauhkan mereka berdua dari marabahaya? Apa pula hubungannya dengan orang-orang berambut putih yang menyebarkan benih-benih Hiruko di dunia ini? Dan siapa, atau apa, sesungguhnya kaisar Hiruken yang disebut sebagai biang semua masalah ini?

Kisah Xamdou berpusar tentang kehidupan di antara orang-orang ini selama bulan-bulan panjang saat Akiyuki melakukan pengembaraannya untuk mencari jati diri. Meski episode-episode ke sananya berfokus lebih pada melodrama, BONES masih berhasil menyelipkan plot-plot pelik tentang intrik, kemanusiaan, kekeluargaan, serta diskriminasi rasial sepanjang ceritanya, yang bisa dianggap sebagai alegori dan bisa juga tidak, dan menuntaskan semuanya (wow…) di episodenya yang terakhir. Tentunya dengan presentasi yang kaya dan artistik yang jarang ditemukan di seri-seri anime lainnya.

Mungkin agak mirip Wolf’s Rain mereka dulu. Cuma dalam bentuk yang jauh lebih manusiawi dan gampang dimengerti (mungkin), asalkan orang tak berpikir terlalu jauh soal perkembangan situasi dan tokoh-tokohnya yang terkadang agak ‘maksa’ dan ‘berlebihan’.

Kisah cinta antara Akiyuki dan Haru ini bisa dijelaskan dengan satu kata: aneh. Sama sekali enggak jelek kok. Cuma, cenderung menuai tanggapan yang agak terlalu subjektif. Jadi jangan paksakan diri menonton bila kau tak suka melodrama.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: S; Eksekusi: B+; Perkembangan: B; Kepuasan Akhir: B+

Clannad

Posted by: alfare on: April 10, 2009

Pada suatu hari, aku membuka profil seiyuu favoritku di Wikipedia dan mendapati bahwa sekalipun dirinya otaku mecha seperti aku, anime favoritnya ternyata adalah Clannad yang jelas-jelas bukan sebuah anime mecha.

Apa?! Seistimewa apa sih Clannad sampai-sampai bisa menarik perhatiannya dari anime mecha lain?

Maka, aku juga mulai mencoba menontonnya sekitar dua minggu yang lalu, dan memahami alasan idolaku itu bisa suka. Karena akhirnya aku malah jatuh cinta pada Clannad juga.

Gampangnya, Clannad adalah anime bishojo yang diangkat dari VN berjudul sama, seperti kebanyakan anime bishojo lainnya. Cuma, berbeda dari kebanyakan seri pada genre ini, fokusnya lebih pada hubungan persahabatan dan kekeluargaan alih-alih cinta, sehingga menjadikan serial ini memiliki suatu nuansa khas tersendiri.

Man, aku betul-betul jatuh cinta pada serial ini meski dengan yakin aku bisa mengatakan bahwa seri ini bukan buat semua orang!

Yah, ceritanya ada berandalan yang sangat setiakawan bernama Okazaki Tomoya yang mendapati jalan hidupnya mulai berubah semenjak ia berkawan dengan seorang gadis bernama Furukawa Nagisa. Seiring dengan hubungan yang mulai terjalin di antara mereka dan tokoh-tokoh lainnya, Tomoya kemudian bersumpah untuk membantu Nagisa mewujudkan cita-citanya membangkitkan kembali klub teater di sekolah mereka yang sudah bubar sebelum berlangsungnya festival musim panas.

Benar-benar sebuah cerita yang imut, sentimentil, dengan karakter-karakter yang enggak kalah imut dan sentimentilnya!

… …

Sebenarnya, arti terpenting yang seri ini miliki adalah bagaimana ia mengingatkan kembali akan betapa besarnya arti sebuah keluarga bagi pertumbuhan setiap orang sebagai insan. Aku tak begitu tertarik dengan seri kelanjutannya, Clannad After Story karena sepertinya sedih. Tapi aku sangat tertarik dengan spin-off-nya, Tomoyo After: It’s a Wonderful Life yang menjadikan seorang tokoh lain (Tomoyo) sebagai heroine-nya.

Dengan adegan sedih dan komedi yang bergulir dengan teramat mulus, seri ini kudapati benar-benar menghibur. Lagu penutupnya kudapati juga sangat sulit untuk kulupakan.

Dango, dango, dango, dango, dango daikazoku…

Tapi ternyata ada temanku yang merasa enggak puas sama pendapatku ini! Pada akhirnya, dia malah memberiku segepok episode Shuffle! agar aku punya bahan perbandingan. Tapi, meski seri Shuffle! yang diberikannya itu masih belum kutonton, kupikir, pendapatku tentang Clannad sudah dipastikan takkan berubah.

 

Penilaian

Konsep: A. Eksekusi: B+. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B. Desain: A.

Kepuasan Akhir: A

 

Tower of Druaga: Sword of Uruk

Posted by: alfare on: April 10, 2009

Oiya. Pada setengah tahun aku mengikuti perkembangan season kedua Gundam 00, aku juga mengikuti perkembangan season kedua anime Tower of Druaga, dengan subtitel Sword of Uruk. Musim tayang yang berlatar enam bulan sesudah akhir season yang pertama ini melanjutkan kembali kisah petualangan Jil dan kawan-kawannya dalam memanjat menara Druaga sekaligus menuntaskan misteri apakah Neeba, kakak tiri Jil, dan Kaaya, love interest Jil, sebelumnya benar-benar mengkhianatinya atau tidak.

Uuh, yang pasti, jalan ceritanya sama sekali tak seringan season pertamanya.

Mereka yang masih tersisa dari kelompok pemanjat Jil dan Neeba membentuk aliansi untuk memanjat Menara Druaga sekali lagi, sesudah seorang gadis kecil misterius yang sangat mirip Kaaya meminta Jil untuk membawanya ke puncak menara tersebut. Ya, bahkan sesudah Druaga dan bayangannya matipun, menara itu masih tetap berdiri. Dan bukan hanya itu. Untuk suatu alasan, Gilgamesh, raja negeri Uruk di mana menara itu terletak, yang sebelumnya bijak dan baik hati secara perlahan tapi pasti semakin tenggelam dalam kekuasaannya sebagai seorang tiran.

Ada… uh, banyak sekali karakter baru yang muncul. Jadi jangan harapkan perkembangan karakter yang bagus di sini. Tapi perkembangan plotnya lumayan seru kok. Bisa dibilang, meski tamatnya sudah bisa ditebak begitu kita sampai di episode terakhir, ada sedikit kepuasan karena semua jalinan plot bisa dituntaskan sekalipun bukan dengan cara yang benar-benar indah.

Hei, keluaran-keluaran studio Gonzo itu emang dikenal karena animasinya! Bukan karena kualitas ceritanya! Tapi menurutku, ToD:SoU bagaimanapun juga termasuk salah satu keluaran Gonzo yang paling mending. Lumayan layak tonton kalo lagi kurang kerjaan.

Tapi sial, apa mereka benar-benar harus sampai mendandani Kaaya sampai terlihat setua itu? Arrrrgh!

 

Penilaian

Konsep: B. Eksekusi: C. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B+. Desain: A.

Kepuasan Akhir: C+

 

Watashi-tachi no Tamura-kun

Posted by: alfare on: April 10, 2009

Belum lama ini aku mulai membaca manga Watashi-tachi no Tamura-kun secara online. Jalan ceritanya dibuat oleh Yuyama-siapa-itu-namanya? yang selanjutnya dikenal lewat serial kocak ToraDora!. Yang pasti, jalan cerita Tamura-kun lumayan imut dan sentimentil dengan tokoh-tokoh remaja yang masih polos dan belum ‘ternoda’.

Sial, entah sejak kapan aku jadi lemah sama yang beginian! Tanpa sadar, aku ternyata sudah membacanya sampai pertengahan volume 2! Dengan kata lain, sebentar lagi aku akan membacanya sampai tamat!

Inti ceritanya adalah tentang seorang cowok remaja yang kebingungan menghadapi cinta yang baru sesudah perginya cinta yang lama. Begitulah. Benar-benar sederhana dan normal.

… …

Artwork dan desain karakternya juga menurutku bagus. Penceritaannya sopan tanpa ada fanservice.

… … …

Begitulah.  Tak kurekomendasikan sih.


  • Tidak ada
  • alfare: haaaah? kamu serius?! gw ga keberatan ama cowok-cowok cantik, tapi cowok2 cantik yang di sini bukannya ditampilin dengan rada maksa...?! trus napa pu
  • ekasetsu uchiha: wahhhh...... nice review tuh.... mang betul kata u. gundam ini nih kren bgt apalagi banyak bishounen yg membuat q tak bisa tidur karena memikirkan me
  • alfare: Sebenernya, belum lama ini aku nyoba nonton versi Special Editionnya. Di luar dugaan, hasilnya jauh lebih baik. Seenggaknya, aksinya kali ini ada kore

Kategori